|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
|
http://aishliz.multiply.com |
|
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz |





Kamis, 18 Maret 2010 pukul 17:51 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
Bunda,
Aku terpuruk kembali di sudut sebuah bangku panjang, sendiri. Di antara jeda waktu, menunggu wanita berseragam putih memanggil. Di depan tampak beberapa sekat kamar yang angkuh menatap. Aku menunduk, menangisi diri yang harus selalu mendatangi ruangan kaku. "Kamar Periksa", begitu tulisan yang terpampang dalam gantungan pintu. Akankah ini menjadi kunjunganku terakhir? Akankah damba kan terwujud? Ucap pelan di antara pilu akan kerinduan hadirnya sang buah hati. Kukesali diri yang tak bisa berdiri untuk tegar.
"Andai aku sekuat Bunda…" lirihku sambil menatap selembar foto kecil yang terselip di antara lembar buku. Terbayang lekukan kaku Bunda menyertai senyuman. Wajah teguh yang jarang dihiasi linangan air mata. Pun ketika lelaki gagah nahkoda keluarga yang teramat kita kasihi, pergi dari sisi Bunda menuju pelabuhan baru. Butiran bening Bunda tak tampak di sana. Meski aku tahu Bunda terluka, menjerit, dan menagis dalam hati. Aku tahu karena tubuh Bunda semakin hari semakin menciut serta lingkar mata Bunda nampak semakin cekung. Dalam tegar Bunda bersedih.
Bunda,
Kucoba mengingat kapan terakhir kali melihat mata Bunda basah. Kening ini berkerut berusaha mengingatnya. Betapa sulit menemukan rekaman itu. Aku ingat! Terakhir aku melihat riak bening Bunda jatuh, tujuh tahun lalu, saat ulang tahun pernikahanku yang kedua. Ketika seorang laki-laki berpakaian putih, bergelar ahli gynecology, dalam ruang prakteknya mengatakan tubuhku akan sulit memiliki buah cinta.
Bunda menatapku dan merangkulnya dalam pelukan. "Maafkan Bunda, Nak…" terasa hangat pundak dijatuhi riak Bunda yang terisak. Aku berusaha memegang pundak Bunda yang tergukguk. Tidak Bunda, tidak perlu ada permintaan maaf. Bunda tidak salah. Bukan salah Bunda kalau selama ini aku harus menahan segala sakit sendiri ketika sang bulan datang. Bukan salah Bunda pula kalau aku harus membersihkan semua muntahan sendiri saat lilitan perut tak bisa kutahan ketika lagi-lagi sang bulan datang. Dan bukan pula salah Bunda jika jiwaku kerontang menahan sepi sendiri menunggu Bunda sampai jelang larut malam. Aku tahu Bunda sedang berjuang. Berusaha mengumpulkan lembar-lembar rupiah agar biduk ini tidak oleng setelah ditinggalkan. Karena tak ada jaminan dari sang nahkoda yang pernah Bunda cintai akan memberi kita hasil tangkapannya. Salahku sendiri yang tak memiliki keberanian memeriksakan diri untuk semua rasa sakit yang kualami setiap bulan. Hingga jalan panjang kini harus kujalani dalam pengobatan menjemput damba, cahaya mata.
Bunda,
Bunga ajisai berwarna ungu mulai mekar di taman belakang bangunan putih kaku ini. Dikelilingi bunga kecil berwarna merah muda dan kuning, indah. Sebelum memasuki bangunan ini, aku sempat menatapnya dan menemukan senyum Bunda di sana. Betapa Bunda menyukai Bunga. Dan aku menyukai wajah Bunda yang selalu tersenyum saat menatap bunga-bunga liar yang tumbuh di pekarangan kecil rumah kita. Tangan-tangan halus Bunda akan menyiraminya dengan lembut. Di antara semua bunga indah, tetap Bundalah yang terindah di hatiku. "Rindu Bunda…" begitu bisiku selalu saat menatap bunga-bunga.
Bunda,
Detak jam terus berjalan menemani aku yang masih terduduk dalam bangku panjang. Sesaat wanita berseragam putih dengan sebuah map di tangan memanggil. Aku bangkit, melangkah menuju sebuah kamar kaku yang kadang membuatku sembilu oleh jarum-jarum suntiknya. Bunda, akan kucoba setegar dirimu. Akan kusimpan semua air mata kepedihan, kekecewaan, dan kerinduan. Aku berjanji, semua genangan air mata yang tertahan akan kukeluarkan nanti bersama Bunda. Saat bahagia itu datang. Ketika harapanku memberi Bunda sebuah panggilan Nenda terwujud. Dan sosok mungil itu hadir di antara kita.
Titip cintaku di sanubarimu, Bunda. Cinta seorang anak yang tak pernah dapat disamakan dengan cinta Bunda selama ini. Kini aku berusaha tegar berdiri tegak. Karena selain Bunda, ada pijakan lain yang saat ini selalu memberikan obor semangatnya untukku. Mendampingi setia hari-hariku. Seseorang pria sabar yang sembilan tahun lalu Bunda restui untuk menemaniku berlayar di lautan cinta, bersama-sama mengarungi biduk pernikahan. Lelaki yang menerima ikhlas semua kekuranganku. Insya Allah.
Terima kasih Bunda. Semoga Allah SWT menjaga Bunda di mana pun adanya.
Sayangku selalu untuk Bunda.
- Catatan Satu Hari di Chuo Infertility Hospital, Tokyo # 2006 -
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.