|
HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
|





Rabu, 14 Oktober 2009 pukul 16:00 WIB
Penulis : Seriyawati
Sudah lama rasanya aku tak menelepon dia. Ada rasa kangen menyelip di hati berkejaran dengan rasa khawatir. Kenapa pula rasa khawatir muncul begini? Entahlah. Aku paling tidak suka dengan perasaan ini. Seakan-akan nantinya aku akan merasa tak enak hati.
"Halo...," terdengar sahutan dari seberang sana.
"Assalamu'alaikum," salamku, "Ini, saya. Maaf..."
Entah kenapa dada ini jadi berdegup kencang, ada rasa deg-degan yang tak perlu. Ataukah itu karena aku tidak membalut hatiku dengan imunisasi? Agar kebal terhadap apa pun yang bisa membuat hati tersinggung ataupun terluka.
"Hehe... Iya, Bu," kudengar suaranya.
Hah... Yappari (seperti yang kukira). Aku dapatkan yang aku tidak inginkan walaupun aku bisa merasakannya akan terjadi. Cepat kukuasai perasaanku. Aku tak ingin menjadi orang kerdil. Hanya karena merasa tak suka dengan panggilan ataupun embel-embel di depan namaku.
"Gimana kabarnya? Sehat?" tanyaku.
Kami pun bercakap-cakap seperti biasa. Biasa yang kuusahakan dengan payah. Karena rasa tak suka dengan sapaan 'Bu' masih terngiang.
Setelah kututup telepon, aku terpekur diam. Aku seharusnya tak perlu mempermasalahkan panggilan apa yang disematkan untukku. Aku seharusnya tak usah sampai merasa tak enak hati kalau tak ingin dibilang sakit hati. Aku tak perlu sampai merasa gemetaran. Bukankah ini yang dinamakan tanda-tanda orang tersinggung? Hah! Tersinggung hanya karena disapa 'Bu'? Ada-ada saja!
"Tetapi ini bukan yang pertama kali! Kemarin saja dia menyapaku dengan tante," hatiku merajuk.
"Mungkin lain kali, aku bisa dipanggilnya juga dengan 'mpok'," batinku.
Sepertinya dia sudah pernah juga menyapa dengan 'nyah', 'neng', yang ketika mendengarnya aku tak suka. Bukan apa-apa.
Apa pasalnya tiba-tiba? Adakah sesuatu yang melatarbelakanginya? Ada nuansa tertentu? Sehingga saat aku seperti ibu-ibu, maka aku dipanggil 'Ibu', atau saat aku seperti anak remaja, dipanggil 'Neng', dan saat seperti nyonya-nyonya, dipanggil 'Nyah'? Sebenarnya aku bukannya tidak berusaha untuk tidak mengindahkan tentang panggilan ini. Aku sudah berusaha. Dan aku pun sudah mengisyaratkan rasa tak sukaku.
Seorang temanku yang ketika ditambahi 'mbak' di depan namanya langsung protes. Dia menginginkan orang lain hanya memanggil namanya saja, tanpa embel-embel 'mbak'. Atau seorang lagi yang menyiratkan ketidaksukaannya ketika tiba-tiba diembel-embeli 'mpok' di depan namanya. Apakah si pemanggil bermaksud bercanda kala itu? Entahlah.
Ada lagi yang sekali waktu memanggil 'mbak' dan di lain waktu menambahkan 'chan' di depan nama temannya yang jauh lebih tua. Yang tentu saja membuat temannya itu menjadi bingung. Atau tepatnya terusik. Terusik karena panggilan 'chan' itu biasanya disematkan di depan nama anak perempuan Jepang. Juga panggilan sayang dari yang lebih tua, pun dipakai antar teman sebaya.
Bagiku cukup dipanggil 'Mbak' seperti biasanya atau nama saja sebagaimana dia memanggilku waktu pertama kali kenal. Aku sudah menyamankan diriku waktu dipanggil nama saja, walaupun umurku lebih tua dan aku pun sudah terbiasa dipanggil 'Mbak' walaupun aku bukan dari Jawa. Aku mengikuti aturan tak tertulis dalam pergaulan, juga mengikuti kebiasaan dan kepantasan.
Aku bukannya mengecilkan arti panggilan yang lain. Sungguh. Tetapi kalau oleh satu orang aku dipanggil sesuka hati, aku berat mengatakannya, aku tak suka. Bukankah tiap orang ingin dipanggil sesuai dengan kesukaannya? Setidaknya, panggillah aku dengan satu panggilan saja. Dalam keadaan perasaan, waktu, dan situasi bagaimana pun. Begitu harapku.
Bukankah suatu organisasi atau perusahaan yang besar pun cukup peduli pada nama panggilan ini? Buktinya mereka menyediakan kolom khusus yang menanyakan nick name pada formulir. Kalau mereka bisa dan mau peduli pada soal kecil seperti itu, kenapa kita tidak? Sedangkan agama kita sendiri punya aturan begitu. Bukankah Rasulullah sudah mengatakan bahwa panggillah sahabatmu dengan panggilan yang disukainya? Lalu panggilan apa yang kau sukai, sahabat?
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Seriyawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.