HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
Alamat Akun
http://ao_zora.kotasantri.com
Bergabung
24 Juni 2009 pukul 00:55 WIB
Domisili
Pekanbaru - Riau
Pekerjaan
Student and Author
...a cocoon becomes a beautiful butterfly. just like the butterfly's metamorphosis, i wanna become the extraordinary girl not just ordinary girl anymore..
aozora_hime@yahoo.com
yuki_sakamoto@rocketmail.com
aozora_hime@hotmail.com
Tulisan Aozora_hime Lainnya
Say I don't Know, Why Not?!
15 Agustus 2009 pukul 20:00 WIB
The Real Happiness
26 Juli 2009 pukul 15:00 WIB
Sudahkah Kamu Mengeskalasikan Ibadahmu?
25 Juli 2009 pukul 19:21 WIB
Dia Pasti Akan Datang
17 Juli 2009 pukul 17:30 WIB
Jawaban Istikharah
28 Juni 2009 pukul 18:11 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 22 Agustus 2009 pukul 16:00 WIB

Aku Orang yang Beruntung

Penulis : aozora_hime

Tanggal satu Agustus kemarin, merupakan hari depresi buatku. Kedengarannya lucu dan aneh. Emang ada hari seperti itu? Ini memang buka hari libur nasional, tetapi tanggal satu Agustus merupakan hari bersejarah untuk kehidupanku. Tanggal itu merupakan tanggal bersejarah buat kegagalanku yang kedua kali tidak lulus dalam ujian masuk PTN atau istilah kerennya SNMPTN. Kenapa aku depresi? Padahal malam sebelumnya aku sudah optimis bahwa aku akan lulus dan kalaupun aku tidak lulus, aku tidak boleh menangis bahkan depresi sekalipun seperti tahun sebelumnya.

Jam dua belas malam sesuai dengan yang tertulis di dalam buku petunjuk, aku membuka website untuk melihat hasil ujianku, apakah aku lulus atau sebaliknya. “Nomor sekian dinyatakan tidak terima.” Begitulah yang tertulis saat aku menuliskan nomor ujianku di website tersebut. Setelah membaca itu, aku tidak merasakan apa-apa, degup jantungku yang sebelumnya semakin keras berdetak, sekarang sudah berelaksasi dan berdetak dengan normal. Syaraf-syaraf simpatisku mengendur perlahan-lahan. Tidak ada air mata. Hal inilah yang membuatku bingung, kenapa air mataku tidak ke luar saat membaca sederet kalimat pendek itu di layar komputerku. Ini bukan aku seperti tahun lalu saat kakakku mengatakan bahwa aku tidak lulus dan tepat saat itu air mata ini tumpah ruah bak air bendungan yang sudah bocor.

Keesokan paginya, ayah mencari nama dan nomor ujianku di koran pagi itu. Beliau masih belum percaya bahwa aku tidak lulus. Ya, selama ini prestasiku memang baik di sekolah. Selalu ikut lomba ini-itu, masuk sepuluh besar di kelas, aktif di dalam berbagai kegiatan dan ekskul. Aku pun juga masih belum percaya dengan kenyataan ini. Padahal selama ini teman-teman selalu mengandalkanku dan mempercayakanku dalam setiap tugas kelompok maupun sekolah.

Aku semakin depresi dan bersedih menerima kenyataan ini. Teman-temanku bisa kuliah di universitas dan jurusan seperti yang mereka cita-citakan. Sedangkan diriku belum kuliah dan belum bisa kuliah di jurusan yang aku inginkan. Tiba-tiba hapeku berdering. Aku mengangkatnya. Telepon itu berasal dari mantan ketua FLP di kotaku. Beliau memberi semangat dan menyuruhku membuat lagi target apa yang akan kucapai setahun ini. Beliau juga menganjurkan bahwa aku harus ikut lagi ujian SNMPTN tahun depan jika memang cita-citaku hanya satu, yaitu menjadi seorang dokter. Semangatku bangkit. Walaupun hanya sedikit, tapi aku kembali optimis bahwa tahun depan aku bisa mengejar cita-citaku itu. Aku membuka buku dreamlist-ku yang berisi dengan cita-cita yang ingin kucapai dalam hidupku dan mulai sebuah membuat planning baru.

Kemudian aku mencari informasi tentang ujian lokal sebuah universitas yang akan aku masuki selama setahun nanti sambil belajar giat untuk ujian SNMPTN tahun depan. Saat aku membuka Facebook dan chatting dengan salah satu temanku yang nasibnya sama denganku, aku mencurahkan rasa sedihku padanya. Temanku ini memang pantang menyerah. Ia tidak sedih sepertiku, karena ia yakin, di tahun depan nanti ia memiliki kesempatan untuk kuliah.

“Jangan sedih lagi, ukhti. Tahun depan kan masih ada lagi. Yang penting setahun ini kuliah aja dulu di jurusan Teknik Informatika.”

Aku tercenung sesaat. Memang setahun ini aku akan kuliah di jurusan itu.

“Iya, ya ukhti. Mana tahu ana bisa jadi programmer sekaligus dokter.”

Aku tertawa saat mengatakan itu. Saat aku iseng-iseng mencari artikel tentang nobel kedokteran, aku mendapatkan sebuah artikel bahwa seorang mahasiswa Teknik Informartika dari sebuah universitas Kristen berhasil menciptakan sebuah alat aplikasi metode backpropagation untuk pengenalan perubahan abnormal organ pankreas melalui iris mata untuk bidang kedokteran. Subhanallah! Cita-citaku memang ingin membuat sebuah alat untuk revolusi kedokteran. Seperti yang ada di negeri China. Para ahli yang bukan kedokteran pun bahkan berhasil membuat alat untuk membakar habis tumor dan kanker tanpa adanya jalan operasi bagi pasien. Mereka yang bukan muslim bisa berhasil, kenapa aku yang muslim tidak bisa seperti mereka? Aku cepat-cepat menuliskan cita-citaku itu di dalam buku dreamlist.

“Bagus tuh, ukhti. Apalagi ukhti pintar bahasa Jepang. “

Aku tersenyum membacanya. Aku memang punya banyak kelebihan dalam beberapa bidang. Seketika aku menyusun sebuah rancangan untuk setahun ke depan, sekaligus untuk dua tahun yang akan datang. Karena setahun yang lalu aku sudah mengulang-ulang pelajaran untuk ujian SNMPTN kemarin, kenapa saat aku kuliah nanti aku tak mencoba untuk menjadi seorang tentor di sebuah bimbel? Apalagi cita-citaku adalah tidak ingin bergantung lagi dengan orangtua saat kuliah nanti. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menuliskan cita-cita itu.

Subhanallah! Tiba-tiba rasa sedih dan depresi hilang seketika. Sebenarnya aku ini banyak sekali memiliki kemampuan dan kelebihan. Aku adalah orang yang beruntung. Beruntung karena aku bisa mengecap pendidikan yang namanya kuliah, beruntung karena aku memiliki kelebihan dalam menulis, juga bahasa asing. Aku juga beruntung bisa kuliah dibiayai oleh kedua orangtua. Aku segera mengingat orang-orang yang ada di bawahku, mereka orang-orang yang belum beruntung sepertiku. Mereka hanya bisa mengecap pendidikan di sekolah dasar, bahkan tidak sedikit mereka terpaksa tidak sekolah dan mengubur impian masa kecil mereka karena hanya satu kendala, yaitu biaya. Seharusnya aku bersyukur akan nikmat tidak terhingga ini. Seperti yang aku baca di dalam buku La Tahzan, bahwa salah satu cara untuk menghilangkan kesedihan adalah selalu mensyukuri nikmat dan selalu melihat ke bawah pada orang-orang yang belum beruntung seperti kita.

Rasulullah SAW bersabda, ”Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih patut engkau sekalian tidak menganggap rendah nikmat ALLAH yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Muttafaq Alaih).

Aku adalah orang yang beruntung. Dan mulai hari ini, aku akan belajar giat, berdo'a, dan mengejar cita-cita ini menjadi seorang dokter. Dan di masa depan nanti kelak, setelah menjadi dokter, aku kudu membantu sebanyak-banyaknya orang yang belum beruntung seperti aku. ALLAH, luruskan niat ini hanya karenaMU dan mudahkanlah jalan cita-cita ini. Amin ya rabbal alamin.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan aozora_hime sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Yussi | Karyawati
Subhanallah sekali bisa bergabung di KotaSantri.com. Barakallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1485 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels