QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Alamat Akun
http://ashifku.kotasantri.com
Bergabung
12 Juni 2009 pukul 03:33 WIB
Domisili
Sleman - D.I. Yogyakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Ashif adalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada, aktif di Forum Lingkar Pena DIY dan menjadi Kepala Sekolah Creative Writing Center Yogyakarta,
Tulisan Ashif Lainnya
Ini Hanya Rindu, Rumah
18 Februari 2013 pukul 13:00 WIB
Cengkrama Diri di Halaman
15 Februari 2013 pukul 13:00 WIB
Negeri Tikus
27 Januari 2013 pukul 11:00 WIB
Tawadhu Teknologi
19 Januari 2013 pukul 12:30 WIB
Seratus Ribu dari Ibu
28 Desember 2012 pukul 10:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 10 Maret 2013 pukul 10:00 WIB

Kebun Dakwah Pelataran Kampus

Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan

Di kebun yang bernama dakwah di pelataran kampus, sudah ada tiga pohon yang tumbuh. Ketiga pohon itu milik Adnan, Burhan, dan Candra. Mereka bersaudara. Ketiganya selalu menyirami pohon mereka dengan rajin. Adnan yang paling besar dan Candra yang paling kecil. Ibu mereka, Bu Takni, selalu memberi mereka bekal air dan pupuk untuk merawat pohon itu. Mereka bahagia karena pohon mereka telah banyak berbuah dan memberikan manfaat untuk para tetangga. Alangkah bahagia keluarga itu.

Pada suatu hari Bu Takni berpesan pada ketiga anaknya. “Anak-anakku, suatu hari kalian akan memiliki adik. Lihatlah, kandungan ibu semakin besar. Suatu hari, adik kalian juga akan memiliki pohon seperti kalian. Di kebun dakwah pelataran kampus itu. Ah, Ibu akan sangat bahagia jika kalian menjadi anak yang rukun.”

Adnan, Candra, dan Burhan terdiam. Mereka pada awalnya tidak mengerti maksud ibu. Namun akhirnya Adnan yang paling besar berkata, “Ya, bunda, kami akan senang punya adik baru.” Bu Takni tersenyum dan terharu mendengarnya, ia merangkul anaknya yang paling besar itu. “Betul, anakku, sayangilah adik kalian. Ibu sangat senang jika pohon yang mereka rawat juga akan seperti pohon kalian. Tumbuh besar dan berbuah. Bermanfaat untuk para tetangga.” Adnan tersenyum, lalu mencium pipi ibunya. Burhan dan Candra mengikuti.

Hingga suatu hari Bu Takni melahirkan kandungannya. Langsung dua, kembar. Ia beri nama kedua anaknya Ilmani dan Syahdi. Ilmani dan Syahdi tumbuh sebagai anak yang lucu dan menggemaskan. Bu Takni segera memberi Ilmani dan Syahdi bibit untuk ditanam di kebun dakwah pelataran kampus. Ilmani dan Syahdi menerimanya dengan gembira. Mereka berlari menuju kebun dakwah pelataran kampus.

Pada saat itulah Burhan bertanya pada ibunya. “Bunda, kenapa Ilmani dan Syahdi harus mendapat pohon baru, bukankah mereka masih kecil?” Burhan bertanya sambil mengetuk-ketukkan tangannya pada tanah. Mulutnya maju ke depan dan mukanya ditekuk. Bu Takni tersenyum. Ia dekati Burhan kecil dan mengusap kepalanya.
“Anakku Burhan, Ilmani dan Syahdi akan tumbuh besar seperti kalian. Mereka juga harus menanam pohon. Seperti kalian waktu kecil dulu. Suatu hari, kita akan memiliki lima pohon, dan semuanya berbuah dan bermanfaat. Bukankah itu menyenangkan?”

Burhan kecil masih merengut. “Tapi bukankah nanti bekal pupuk dan air untuk kita akan semakin sedikit? Ilmani dan Syahdi apa tidak butuh pupuk dan air?”

Bu Takni tersenyum lagi. Diangkatnya Burhan ke pangkuannya. “Burhan, kau sudah menjadi kakak sekarang. Adikmu memang butuh pupuk dan air. Tapi lihatlah. Ibu selalu memiliki pupuk dan air yang banyak, dan sangat cukup untuk diberikan pada kalian. Apakah ibu harus mendiamkan pupuk dan air itu, lalu membiarkan Ilmani dan Syahdi tumbuh tanpa memiliki pohon untuk dirawat?”

Burhan terdiam. Pada saat itu, Adnan, sang kakak tertua berkata, “Ya, Burhan adikku. Kita sudah besar. Kita bisa membuat pupuk sendiri. Juga mengangkut air dari mata air dengan tangan kita. Lebih baik jika kita membantu Ilmani dan Syahdi menanam dan merawat pohon mereka. Ayo!”

Bu Takni terharu sekaligus bangga mendengar ucapan anaknya yang paling besar. Sementara ia lihat Candra hanya tersenyum di belakang Adnan. Burhan menggelayut turun dari pangkuan ibunya. Ia menatap mata ibunya dengan tatapan memohon, “Tapi bunda tetap menyayangi Burhan, Kak Adnan, dan Candra kan?”

Bu Takni tersenyum. “Tentu, anakku.” Ia usap kepala Burhan.

Burhan lalu berlari menyusul Adnan dan Candra, menuju kebun dakwah pelataran kampus. Mereka membantu Syahdi dan Ilmani menanam pohon, lalu menyiramnya dan memberi pupuk. Mereka bermain, tertawa, dan bercanda. Cengkrama mereka terdengar hingga ke dedaunan dan dahan serta serangga-serangga di sudut-sudut kebun dakwah. Bu Takni menatapnya haru. “Ya Allah, berkahilah anak-anakku, dan jadikan mereka jundi-jundi yang bermanfaat untuk umat,” do'anya.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Fay Ahmed | Blogger
Senang sekali baca-baca di KotaSantri.com. Nambah pengalaman religius.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1228 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels