|
QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
"
|





Jum'at, 15 Februari 2013 pukul 13:00 WIB
Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan
Yang paling indah dalam hidup ini adalah menjadi diri sendiri. Menjadi sesuatu yang kita miliki, kita pahami, dan kita memang benar-benar seperti adanya. Pada dasar ini kita menjadi sesuatu yang kita sendiri cintai. Ah, betapa nikmatnya.
Coba tanyalah pada rerumputan di halaman rumahmu. Apakah mereka ingin menggapai dan meraih angkasa dengan lengan kecilnya? Ah tidak, aku hanya rumput kecil yang diinjak, ditindas, dijadikan korban pemamah biak. Mungkin demikian. Namun bagaimana jika, akulah rumput kecil yang memberi warna pada dunia. Akulah rumput yang menghijaukan padang. Andai kau tatap aku dari angkasa, kau tahu, akulah penguasa daratan. Bumi hijau, itulah yang kau katakan tentang bumi, padahal kau berkata itu untukku.
Lalu tanyalah pada kupu di halaman. Ia tak pernah ingin mengepak sayap tinggi di langit, menukik seperti elang, atau menyayat udara dengan liuk kecil sayapnya. Ia hanya kupu. Di halaman kecil rumahmu. Mungkin sekali hidup, sekali mati, ia hanya selingan dalam pergantian musim. Namun ah, kau sepertinya tahu, kupu-lah, ialah yang membawa kehidupan pada pepohonan. Ia membawa cinta putik pada benang sari. Ia mengantarkan kehidupan pada kehidupan, tak ada kupu, tak ada bunga, tak ada tanaman, dan kehidupan
Bagaimana dengan batu? Apakah ia menjadi sesuatu yang berarti di tamanmu? Mungkinkah batu hanya remah hidup yang tak digubris, hanya campak ketidakpedulian dari kematian dan kekerasan. Mungkinkah demikian? Ah, tapi kenyataannya ia adalah kewibawaan seorang yang tangguh. Ia menghiasi sudut-sudut kolam dengan kekokohan, kebijaksanaan. Batu yang rela berkorban. Diinjak pada kaki-kaki manusia yang mencari air, dilindas tapak-tapak yang berjalan menyambung hidup. Ia rela menjadi batu, menjadi yang diinjak, dan ia rela bahwa ia adalah fondasi kehidupan.
Bagaimana juga dengan tupai, juga belalang, pohon mangga, juga teratai di kolam? Ah, aku lihat juga burung bangau, ikan, serangga kecil. Mereka semua menjadi diri mereka sendiri. Sejujurnya, sebaik-baiknya. Mereka menghiasi dunia dengan dirinya sendiri, bergabung bersama diri-diri yang tunduk padaNya, pasrah pada keagunganNya. Dan menjadi indah, hidup yang indah.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.