Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
Alamat Akun
http://ashifku.kotasantri.com
Bergabung
12 Juni 2009 pukul 03:33 WIB
Domisili
Sleman - D.I. Yogyakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Ashif adalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada, aktif di Forum Lingkar Pena DIY dan menjadi Kepala Sekolah Creative Writing Center Yogyakarta,
Tulisan Ashif Lainnya
Dzikir Para Pengelana
18 Desember 2012 pukul 10:30 WIB
Tamsil Palestina
29 November 2012 pukul 10:00 WIB
Perjalanan
16 November 2012 pukul 15:30 WIB
Pemuda di Rongga Hutan
28 Agustus 2012 pukul 14:00 WIB
Mencari Pahlawan Iptek Indonesia
30 Juni 2012 pukul 12:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 28 Desember 2012 pukul 10:00 WIB

Seratus Ribu dari Ibu

Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan

Sebenarnya ini hanya kisah sederhana tentang pulang kampung. Bulan lalu, saya berkesempatan pulang ke rumah dari studi saya di luar negeri yang sudah lebih dari setahun saya jalani. Untuk pertama kalinya setelah satu tahun tiga bulan, akhirnya saya pulang kampung juga. Jatah libur dua pekan dari lab tidak saya sia-siakan.

Ketika hari berlalu, dan tiba saatnya untuk kembali ke perantauan, saya mohon pamit pada ayah ibu juga keluarga. Di saat itulah saya harus mencium tangan ibu dan mengucapkan selamat tinggal, hingga waktunya nanti kembali bertemu. Di depan pintu rumah, saya menyalami ibu bapak dan adik-adik. Bersalaman dan berpelukan saling mendo'akan.

Pada saat itu, saya tidak menyangka ibu saya mengambil uang selembar seratus ribu dari dalam dompet dan memberikannya pada saya. Ibu bilang, “Untuk uang saku, nak.” Saya kaget. Saya yang merasa sudah cukup besar untuk diberi uang saku menolaknya secara halus. Bukan apa-apa. Saya hanya merasa uang tersebut lebih baik ibu simpan atau diberikan pada adik saya yang masih kecil, atau diberikan pada budhe yang biasa bantu-bantu rumah. Saya merasa, saya sudah membawa cukup uang untuk berangkat pulang pergi dan seingat saya di dompet juga masih ada uang cukup untuk sampai nanti tiba di tujuan.

Saya menyodorkan lagi uang yang diberikan ibu dengan halus, namun ibu saya memaksanya. Saya bilang, “Untuk apa, bu? Saya sudah ada uang cukup.” Lalu ibu saya bilang, “Untuk apa? Ya untuk di jalan nanti, nak. Simpanlah,” ucapnya sambil terus mendo'akan saya agar selamat, mencium kedua pipi saya. Akhirnya terpaksa saya masukkan juga uang tersebut ke saku celana dan sekali lagi saya cium punggung tangannya.

Setelah diantar sepupu, bapak, dan adik ke bandara, saya berangkat juga ke Jakarta dari Jogja. Ketika masuk bandara Adisucipto Jogja, saya kena pungutan pajak dua kali. Saya keluarkan uang dari dalam dompet, hampir tujuh puluh ribu. Setibanya di Jakarta, di toko kecil saya membeli roti dan minum. Hampir sepuluh ribu. Saya tidak begitu perhatian bahwa uang dalam dompet saya tersisa tidak lebih dari seratus lima puluh ribu. Uang rupiah yang lain sudah saya tukarkan ke dolar semua, sehari sebelum berangkat. Namun saya berpikir, uang tersebut masih cukup, insya Allah tidak ada lagi pengeluaran macam-macam.

Saat itu, saya tiba di bandara Soekarno Hatta terminal 3. Saya harus pindah ke terminal 2 untuk penerbangan selanjutnya. Dengan barang titipan teman yang banyak, hampir 30 kg, tidak mungkin saya bawa dengan shuttle bus. Terpaksa saya pesan taksi. Dan saya baru ingat, ternyata taksi bandara itu tidak murah! Dan dengan sangat terkejut, ternyata uang saya setelah sampai di terminal 2, tidak lebih dari tiga puluh ribu rupiah di tangan!

Dalam hati saya berpikir, toh tidak ada lagi pungutan yang lain. Sesampainya nanti di tujuan, saya sudah punya uang dolar yang cukup, yang kemarin sudah saya tukarkan. Ketika mengantri di loket check in bagasi, saya berpikir, aman sudah perjalanan saya. Namun betapa kagetnya saya ketika petugas di loket tersebut meminta saya untuk membayar airport tax. Saya benar-benar lupa kalau ini adalah bandara Indonesia. Dan lebih terkejut lagi karena uang yang diminta adalah seratus dua puluh lima ribu rupiah.

Saya lihat dompet saya, tinggal dua puluh sekian ribu. Dari mana saya harus membayar kekurangannya?!

Saat itulah saya ingat seratus ribu yang ibu berikan sebelum berangkat tadi. Seratus ribu yang awalnya saya tolak karena menganggap bahwa uang saya sudah cukup. Seratus ribu yang saya anggap lebih baik diberikan pada adik atau budhe saya. Saya benar-benar terkejut, antara senang dan sedih, antara kaget dan gembira. Beberapa detik saya terdiam, sebelum kemudian saya teringat bahwa saya harus mengambil uang tersebut dari saku celana. Saya bayarkan ke petugas loket itu. Dan sisanya adalah dua ribu perak! Dua ribu perak di dalam dompet, mengantar saya yang terdiam terpaku masuk ke pesawat.

Ketika mesin pesawat menderu, lalu tinggal landas, meninggalkan tanah Jawa, meninggalkan tumpah ruah tanah surga, saya benar-benar tak bisa berkata-kata. Hanya desis-desis dzikir yang sesekali terucap. Subhanallah walhamdulillah. Betapa Allah tidak pernah melewatkan sedikitpun peristiwa tanpa rencana-Nya yang agung. Betapa kita manusia ternyata sangat kerdil dan bodoh. Dan ketika ingat ibu, saya jadi semakin sedih. Ya Allah, betapa kasih sayang ibu adalah bagian dari rahmat-Mu yang Engkau titipkan untuk manusia. Ia adalah lautan, mentari, ia adalah alam raya, segalanya.

Ibu, maafkan anakmu ini yang kadang lupa. Ah, mungkin terlalu sering lupa. Kami lupa akan kasih sayangmu. Bahkan untuk sekedar menerima pemberianmu, menerimanya dengan segala kerendahan hati seorang anak, kami lupa melakukannya.

Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayaanii shaghiiraa.

Pelajaran penting adalah, di segala kondisi, segala situasi, orangtua terutama ibu adalah orang pertama yang harus kita tempatkan dan kita rendahkan hati kita.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

zaenudin | tutor
Memang Hebattt, bisa nambah ilmu juga sahabat.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2078 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels