HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
Alamat Akun
http://ashifku.kotasantri.com
Bergabung
12 Juni 2009 pukul 03:33 WIB
Domisili
Sleman - D.I. Yogyakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Ashif adalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada, aktif di Forum Lingkar Pena DIY dan menjadi Kepala Sekolah Creative Writing Center Yogyakarta,
Tulisan Ashif Lainnya
Tawadhu Teknologi
19 Januari 2013 pukul 12:30 WIB
Seratus Ribu dari Ibu
28 Desember 2012 pukul 10:00 WIB
Dzikir Para Pengelana
18 Desember 2012 pukul 10:30 WIB
Tamsil Palestina
29 November 2012 pukul 10:00 WIB
Perjalanan
16 November 2012 pukul 15:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 27 Januari 2013 pukul 11:00 WIB

Negeri Tikus

Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan

Ketika aku menulis ini, aku sedang di tengah carut marut negeri tikus. Di negeri tikus, semua tikus harus berjuang untuk makan dan bertahan hidup. Para tikus harus berusaha mengambil makanan di atas wadah cekung tertutup di atas lapang tempat para raksasa biasa makan. Raksasa yang menguasai negeri itu, menindas, dan tanpa mau berbagi sejak jaman leluhur.

Para tikus tahu, mereka harus berhadapan dengan jebakan, racun dan amukan raksasa-raksasa berkaki dua. Para raksasa yang kejam dan kasar, namun lambat dan kadang bodoh. Para tikus tak pernah berharap bertemu raksasa ketika beraksi mencari makan, karena bisa jadi dihantam dengan kayu besar, disiksa dan berakhir di jalan penuh roda besar.

Anehnya, para tikus malah terpecah belah. Tikus-tikus yang merasa pintar dan mampu membuat strategi, mampu mendapatkan makanan lebih banyak membuat atribut kumis bagi dirinya. Entah dari mana, mereka kemudian dapat menyuruh-nyuruh para tikus yang lain, memonopoli makanan dan membuat tikus tak berkumis bergantung pada mereka. Aneh!

Tikus-tikus yang tidak punya kumis tidak boleh ikut menentukan strategi mencuri makanan di ruang makan raksasa. Tikus-tikus berkumis berkumpul dengan tikus-tikus berkumis, tidak mau berbaur apalagi makan bersama dengan tikus tanpa kumis. Tikus-tikus berkumis selalu merasa mereka yang paling berkuasa, paling berhak atas keju-keju yang ada di meja makan, paling tahu kondisi meja makan dan letak piring serta kapan harus menghindar dari jebakan.

Sementara itu, tikus yang tidak berkumis tahu. Malam itu segerombolang tikus berkumis yang dipimpin Mer mengendap ke meja yang salah. Di meja itu telah ada hidangan palsu, yang apabila dimakan maka akan membuat keracunan dan akan berkelenjot-kelenjot lalu mati. Tikus tanpa kumis dipimpin Fat, mengetahuinya dari cara mereka bekerja selama ini. setiap kali raksasa berambut panjang menaruh makanan di meja secara terbuka, maka itu adalah racun. Fat tahu dari pengalamannya bahwa orang tuanya mati setelah berusaha mencarikan makanan dari wadah cekung terbuka itu.

Maka ketika Mer mengendap bersama pasukan tikus berkumisnya ke lapang tinggi dimana racun itu berada, Fat hanya diam. Ia sebenarnya tahu kalau makanan di lapang tempat makan raksasa itu adalah racun, namun aneh, (ya, aneh!) ia tak memberi tahunya. “Biar saja mereka semua mati, para tikus berkumis itu. Matilah! Matilah kalian! Lihat kawan-kawan, tikus berkumis akan segera punah.” Fat, di tempat persembunyiannya mengumbar kebencian pada kawan-kawan tikus tak berkumis-nya.

Ah. Aku hanya mampu mengelus dada. Dalam situasi seperti itu, Fat, dengan mata merah berkilat menatap jijik pada kerumunan tikus berkumis. Memori buruknya tentang raksasa berambut panjang yang lambat dan bodoh, serta beragam kebencian pada atribut kumis telah menguasai nafsunya sendiri, telah merubahnya menjadi pemangsa dan pembunuh kawannya sendiri. Padahal mereka adalah sesama ras tikus yang berjuang. Ah. Aku malu pada mereka!

Dan benarlah. Mer dan pasukan berkumisnya berkelenjot-kelenjot, sesaat setelah memakan keju dan roti yang tersedia di atas wadah cekung di lapang yang tinggi di tengah ruang makan raksasa.

Berikutnya, datang raksasa berambut panjang dan pendek, juga raksasa yang tubuhnya lebih kecil, dan berwajah kekanakan. Mereka sama girang menatap para tikus berkumis sekarat di atas tanah lapang tempat mereka biasa makan. Mereka tertawa saat Mer dan kawanannya kejang-kejang, mengeluarkan busa di mulut, serta bulu yang berdiri seperti tersengat petir. Bahkan raksasa yang bertubuh kecil itu segera menghantamkan balok kayu pada kepala Mer, sehingga otaknya keluar, matanya pecah, dan mukanya tak berbentuk.

Mer, dan kawanan tikus berkumis itu akhirnya dilempar ke jalanan penuh roda besar. Tubuh-tubuh mereka melintang, dan roda-roda besar menggilas tanpa ampun. Sampai usus mereka mencuat! Sampai kulit mereka rata dengan jalan hitam. Para raksasa tertawa melihatnya, mereka berloncat-loncatan, bergandengan tangan merayakan kemenangan.

Di lain pihak, Fat juga tertawa terbahak-bahak. Mukanya sangat puas, matanya berkaca karena saking kuatnya ia menarik otot-otot tawanya. “Mulai sekarang aku yang memegang kendali. Kita akan kuasai negeri ini. Kita akan kalahkan raksasa-raksasa itu. Hidup tikus! Hidup!” Para tikus tanpa kumis itu bersorak gembira menyambut teriakan Fat. Sekarang mereka punya pemimpin baru, sekarang mereka akan hidup dengan semangat yang lebih membara. Bebas dari penindasan dan pengucilan tikus berkumis.

Sesaat, di hadapan kerumunan tikus tanpa kumis itu, mata Fat menerawang jauh ke langit, lalu ia berkata. “Sekarang, bagi para tikus yang ingin bergabung dengan perjuanganku, hendaklah mengenakan ekor putih. Ayo. Kita kenakan ekor putih. Para pelari cepat, pemanjat lincah dan penggigit tangguh akan menjadi pasukan elitku. Kita akan jadi pasukan ekor putih. Mari kawan!”

Sejenak aku termenung, menundukkan kepala, lalu menutup mukaku dengan tangan. Oh tidak! Kenapa harus itu lagi? Ah. Aku diam. Aku akan menunggu saja. Sampai gerombolan tikus berekor putih ini punah, seperti tikus berkumis. Meski batinku mengatakan lain. Batinku menggedor-gedor dada. “Bodoh! Kau bodoh! Kau seharusnya hentikan Fat dari sekarang! Lakukan sekarang!”

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Hendi | Desain Grafis
Mari gabung di sini. Artikelnya bagus-bagus dan banyak hikmahnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1250 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels