Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
Alamat Akun
http://radinal.kotasantri.com
Bergabung
31 Oktober 2009 pukul 05:48 WIB
Domisili
Medan - Sumatera Utara
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Radinal Lainnya
Mengapa Semangat Menulis, Turun dan Naik?
23 November 2012 pukul 15:00 WIB
Menggoreskan Pena, Menggali Makna
5 Oktober 2012 pukul 14:30 WIB
Bagaimana Agar Tulisan Anda Dapat Diakui Pembaca?
10 Agustus 2012 pukul 18:00 WIB
Memusuhi Diri Sendiri
5 Juli 2012 pukul 09:15 WIB
Buku dan Makanan
14 April 2012 pukul 09:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 25 November 2012 pukul 12:00 WIB

Kata Orang Aku Mirip Nabi Ibrahim

Penulis : Radinal Mukhtar Harahap

Beberapa Bulan yang Lalu

“Dek!” ujarku di hadapan istriku. “Idul Adha tahun ini abang ingin berkurban 1 ekor kambing kalau kambing kita jadi melahirkan besok.”

“Terserah abang aja,” ujar istriku sambil menghidangkan kopi di hadapanku.

Itulah pembicaraanku dengan istriku tercinta malam hari sebelum melahirkannya kambingku. Dengan lahirnya kambingku, nazarku untuk berkurban Idul Adha ini harus kupenuhi.

Sebulan Menjelang Idul Adha

Sekuat apapun manusia, sekaya apapun pengusaha, tak akan mampu menghalangi datangnya musibah. Musibah terkadang adalah awal dari kenikmatan bila kita sabar dalam menghadapinya. Tetapi, manusia sering tidak mampu untuk bersabar dalam menghadapi segala musibah. Sehari setelah kematian dua kambingku, anak kambing yang baru dilahirkan dan ibu dari kambing tersebut karena keracunan, istriku menyusul menghadap keharibaan Allah SWT. Istriku meninggal akibat penyakit tipus yang dideritanya. Peristiwa ini membuat kesendirian dalam diriku ditemani oleh kambing jantanku.

“Tok… tok… tok!” suara ketukan pintu rumahku.

Kubuka pintu dan seorang lelaki setengah baya berdiri di hadapanku. Diucapkannya salam dan aku membalasnya seraya mempersilakannya untuk masuk. Akan tetapi ia menolak dengan alasan masih banyak rumah yang harus disinggahinya. Lelaki itu memperkenalkan dirinya. Namanya Yanto, salah seorang panitia penyelenggara kurban pada hari raya Idul Adha. Kedatangannya itu mengingatkanku pada nazar yang telah kuniatkan beberapa bulan yang lalu.

“Bagaimanakah hidupku bila kambing satu-satunya yang kumiliki kukurbankan? Apakah harta yang menopang kehidupanku? Hartaku satu-satunya hanyalah kambing itu, dan aku telah menazarkannya beberapa bulan yang lalu. Bolehkah aku membatalkan nazarku dengan alasan tidak adanya hartaku selain kambingku itu?” pertanyaan demi pertanyaan itu berkelabat hebat dalam pikiranku.

Di tengah kesendirianku itu, aku akhirnya membulatkan tekad untuk tetap mengorbankan kambingku satu-satunya itu. Aku yakin, Allah akan menggantinya dengan ganti yang lebih besar dan lebih mulia. Bukankah Allah telah menjanjikan bahwa barang siapa yang mengorbankan hartanya di jalan-Nya akan mendapatkan ganti yang lebih banyak dan lebih mulia dari apa yang diberikannya? Bukankah barang siapa yang “menolong” Allah akan ditolong oleh Allah? Itulah yang menjadi tekadku dalam hati.

Akhirnya, aku membawa kambingku menuju Mesjid Raya, sekretariat panitia kurban wilayahku. Di jalan, aku bertemu dengan Pak Bram, salah satu tetangga yang kurang berkecukupan, sama seperti diriku.

“Assalamu’alaikum, Pak Ibrahim!” sapanya.

“Wa’alaikum Salam,” sapaku seraya bersalaman dengannya.

“Mau ke mana ni, Pak!” ujarnya lanjut, “Singgah dulu.”

Akupun singgah sebentar. Kuceritakan padanya niatku tentang pengorbanan kambingku. Kurasa ia kurang setuju. Ia berdalih bahwa berkorban itu hanya bagi orang yang mampu. Orang-orang seperti kami berhak untuk menerima hewan kurban, bukan mengurbankan hewan.

“Allah pasti tahu mana yang miskin dan mana yang kaya. Walaupun Pak Ibrahim itu telah bernazar untuk mengorbankan kambing, Allah pasti tahu toh, bahwa Pak Ibrahim masih membutuhkan kambing itu. Karena memang kambing itulah kambing satu-satunya yang merupakan harta pak Ibrahim. Bagaimana pak Ibrahim akan hidup kalau kambing satu-satunya dikorbankan. Pakai do'a dan tawakkal? Tidak mungkin, pak! Lebih baik dipikirkan lagi tentang rencana itu."

Aku hanya menjawab dengan senyuman. Orang seperti Pak Bram kalau dilawan akan bertambah semangat menantang. Maklum, orang miskin biasanya emosian kalau diajak berbicara. Akupun pamit setelah beberapa menit berbincang dengannnya.

Beberapa meter sebelum sampai ke Mesjid, kulihat Pak Rudi baru keluar dari pagar mesjid. Kusapa dia dan berbincang sebentar dengannya. Ia mengetahui niatku, tetapi sama seperti Pak Bram, sepertinya Pak Rudi kasihan terhadap nasibku.

“Lho? Bukankah pak Ibrahim masih membutuhkan kambingnya? Dengan apa pak Ibrahim hidup tanpa kambing? Apa tidak ditunda dulu hingga tahun depan?”

“Ya, saya percaya saja pada Allah, Pak! Saya hanya ingin menunaikan nazar saya,” begitu jawabku.

“Atau saya beli. 700 ribu. Bapak kan bisa membeli kambing yang berharga 500 ribu dan 200 ribunya bisa bapak jadikan modal?” Pak Rudi menawarkan solusi.

Hatiku sempat goyah. 200 ribu bagiku adalah modal yang cukup besar dan berharga. Bila aku membelikan kambing yang berharga 500 ribu, bukankah aku telah menunaikan nazarku? Walaupun tidak dengan kambingku.

Tapi untunglah pikiran seperti itu hanya tersimpan dalam relung hatiku tanpa sempat terucap. Sekali lagi aku hanya berterima kasih kepada Pak Rudi dan aku tetapi bertekad untuk mengurbankan kambingku tanpa menjualnya terlebih dahulu.

“Mau dibantu ko’ nolak?!” begitu ujar pak Rudi berbisik sebelum meninggalkanku.

Idul Adha

“Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…” sayup-sayup takbir bergemuruh di menara-menara mesjid di sekitar wilayahku. Idul Adha telah tiba. Aku melaksanakan shalat Idul Adha di Mesjid Raya sekalian menyaksikan pengorbanan kambingku.

***

Darah bersih keluar dari leher kambingku diiringi takbirku yang keluar dari kedua bibirku. Mataku berkaca pertanda kebahagiaan Allah masih memberi kesempatan untuk berkurban kepadaku.

“Pak Ibrahim, assalamu’alaikum…”

Suara itu milik Ustadz Imron, salah seorang pimpinan Pondok Pesantren yang ada di wilayahku. Beliau mengajakku berbincang-bincang. Rupanya beliau punya rencana untuk membuat peternakan kambing di wilayahku dan belum mendapatkan penggembalanya. Ia menawarkan pekerjaan ini kepadaku.

“Gimana, Pak Ibrahim?”

Mataku berkaca. Aku teringat tatkala Nabi Ibrahim mendapatkan anaknya kembali setelah “menyembelihnya”. Kusujudkan tubuhku. Ustadz Imron tersenyum.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Radinal Mukhtar Harahap sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nurjanah | Ibu Rumah Tangga
Subhanallah... Setelah gabung dengan KotaSantri.com, saya jadi ketagihan pengen berkirim salam dengan sahabat semua. Di samping tambah teman, juga makin tambah pengetahuan. Saran untuk ke depannya, yang Pelangi / Bilik lebih ditingkatkan lagi tema-temanya. Afwan jiddan. Jazakallah.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1044 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels