|
HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
|





Ahad, 1 April 2012 pukul 10:30 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
Hari masih sangat pagi. Jam dinding di rumahku baru menunjukan pukul setengah empat pagi. Bagiku itu masih gelap —biasanya aku bangun jika adzan subuh mengumandang dari mushala terdekat rumahku. Tetapi belum tentu bagi orang yang sudah membangunkanku melalui missed call itu menganggap itu sudah siang. Mungkin orang yang membangunkanku itu sudah lebih dulu terbangun sebelum pukul setengah empat pagi.
Akupun bangkit dari mimpi-mimpi semuku sambil menyiapkan perlengkapan untuk shalat subuh. Kebetulan saat aku sedang menyiapkan perlengkapan untuk shalat, adzan subuh sudah menggema di atas cakrawala. Menyejukan jiwa yang kering ini. Begitu syahdu bagai bulu perindu. Dengan niat suci, kulangkahkan azzamku ke mushala terdekat rumahku. Ketika aku akan menuju mushala, adzan subuh itu masih bersahutan-sahutan dari mushala yang satu ke mushala yang lainnya. Dari masjid yang satu dengan masjid yang lainnya pula. Bagai tembang alam yang di mainkan oleh Sang Pencipta.
“Bismillah…,” rapalku dalam hati. Aku langsung menuju rumah Allah itu dengan terlebih dahulu membangunkan orang rumah untuk segera shalat subuh.
Sesampai di mushala, aku menuju tempat batas suci terlebih dahulu. Tempat wudhu. Aku basuh seluruh diriku dari segala dosa dan tipu daya duniawi dengan air suci itu.
Usai wudhu, aku melanjutkan dengan shalat ghairu muakkad. Shalat sunnah sebelum shalat wajib subuh dua rakaat terlebih dulu. Hingga tak terasa satu-persatu jama'ah shalat subuh telah berkumpul di rumah Allah itu. Apalagi iqamah sudah dikumandangkan oleh sang muadzin.
Dan…. saat usai sang muadzin ber-iqamah, mulailah “peristwa” subuh itu terjadi. Aneh. Jama'ah subuh saat itu mulai gelisah. Satu dengan yang lainnya saling adu pandang. Mempersilakan menjadi imam pada saat itu. Tak ada yang bersedia. Bahkan ada yang berbisik-bisik sambil berdebat kusir tak karuan. Kebetulan orang yang biasa menjadi imam tak kunjung datang. Begitu juga takmir mushala pada pagi itu tak ada di tempat.
“Adik saja yang menjadi imam,” kata seorang lelaki setengah tua yang sangat familiar bagiku. Menunjuk seorang anak muda di bawah usianya.
Semua aku dengar sangat jelas sekali, karena aku ada di tempat itu. Sangat-sangat jelas sekali aku mendengarkannya.
Lama. Aku dan jama'ah yang lainya menunggu orang yang seperti biasa menjadi imam shalat subuh. Atau, lebih tepatnya orang yang berpengaruh di kampungku. Orang yang dituakan. Tapi tak jua tampak. Aku dan jama'ah lainnya semakin senewen dibuatnya. Karena orang yang dituakan —imam subuh saat itu belum juga hadir. Aku yang melihat keadaan seperti itu sempat mengelus dada. Ironis sekali subuh saat itu.
Aku? Apalah aku? Aku ini anak baru kemarin sore yang belum tentu mereka mau aku “imami”. Karena dalam “kamus” aturan kampungku, orang yang lebih tua yang harus diutamakan dan juga orang yang disegani lebih dahulu tanpa terkecuali orang itu sedang mudharat. Sakit. Entah sampai kapan kamus kampungku itu terus dipertahankan bila hal semacam itu terjadi lagi saat subuh. Aku juga tak tahu dan tak bisa berbuat banyak. Padahal aku “orang lama” di tempat itu. Sudah lama menetap di kampung yang aku tinggali. Tapi karena aku anak baru kemarin sore, hal itu tak bisa aku jangkau. Miris sekali!
Satu-persatu jama'ah subuh yang sudah nemiliki azzam untuk shalat subuh berjama'ah lambat-laun tak tahan menunggu imam subuh. Akhirnya di antara mereka satu-persatu meninggalkan rumah Allah itu. Mushala yang terdekat dari rumahku. Mereka pada memutuskan untuk shalat di rumahnya masing-masing. Saya yang melihat keadaan itu hanya mengelus dada. ”Ya Allah, kenapa hal ini bisa terjadi?” gumamku menyesalkan peritiwa subuh itu.
Aku terdiam. Merenung. Hingga tak terasa jama'ah shalat subuh pagi itu satu-persatu berkurang. Hanya tinggal aku dan dua jama'ah yang masih bertahan. Itupun dilihat dari usianya jauh dari usiaku. Dan pada saat aku sedang merenung melihat peristiwa subuh saat itu, tiba-tiba aku dikejutkan dengan tepukan di pundakku. Aku tersentak terkejut. Siapa orang yang menepuk pundakku saat itu. ”Ada apa orang ini menepuk pundak saya? Apakah ia bersedia menjadi imam?” kataku dalam hati. Dan… ternyata ini malah sebaliknya, aku yang dijadikan badal imam olehnya.
“Nah, Adik saja yang menjadi imam. Kan adik masih muda. Maukan jadi imam?”
Aku diam.
Tak langsung menjawab. Seakan-akan rumah Allah yang aku pijak saat itu tak terasa. Aku berpikir lama. Dalam hati tak menentu aku bertanya pada diriku, ”Apakah aku pantas menjadi imam pada saat itu. Aku takut bila nanti diminta pertanggungjawaban di sana. Padahal ada orang yang lebih tua dariku.” Aku terus mencari jawaban.
“Ayolah, Dik, jadi imam. Nanti subuhnya kesiangan nih.”
Suara itu lagi yang mengejutkanku. Suara yang berasal dari salah satu jama'ah subuh yang masih bertahan di rumah Allah menyarankan agar segera menjadi imam subuh saat itu.
Aku diam.
Berpikir sejenak. Ya atau tidak. Bersedia atau meninggalkan rumah Allah itu. Itu yang menjadi kegundahanku. Akhirnya aku memutuskan juga daripada rumah Allah itu sepi dari jama'ahnya.
“Oke deh, Pak! Tapi kalau bacaan saya kurang tartil, Bapak yang menanggung di sana ya,” kataku merendah agar orang yang aku imami itu merasa dihormati olehku.
“Ya, hanya Allah yang tahu, Dik!” tukasnya.
Kini hanya aku dan dua jama'ah yang tetap melaksanakan shalat subuh di mushala yang menampung jama'ah dalam skala kecil itu. Dan aku menerima “tawaran” itu walau dalam hatiku sangat berat untuk menerimanya.
Usai aku menunaikan sahalat subuh “berjama'ah” dengan yang masih tersisa —yang telah menjadi makmumku, tak lupa aku berdzikir dan bemunajat tentang segala keresahan dalam diriku selama ini. Aku bergumul denganNya. Meminta diijabah segala do'a-do'a yang aku panjatkan.
Tak terasa dalam munajatku yang lama itu, semburat cahaya keemas-emasan telah menerombos paksa jendela-jendela rumah Allah. Tanda fajar seakan segera meyingsing dalam peraduannya. Sudah waktunya hamba-hambaNya untuk menyebar dan berikhtiar. Mencari rezeki Allah di muka bumi ini yang Allah sediakan untuk hamba-hambaNya. “Berpagi-pagilah untuk keluar mencari rezeki, karena keluar pada hari itu membawa berkah dan keberhasilan.”
Akhirnya aku menyudahi munajat cintaku pada Sang Ilahi. Namun sebelum aku meninggalkan rumah Allah itu, sepertinya ada yang janggal. Ada yang tidak terselip dalam do'aku. Aku lupa untuk memohon kepadaNya, agar peristiwa subuh pagi itu yang aku alami itu tak terulang kembali keesokan harinya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.