|
Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
|





Sabtu, 10 Maret 2012 pukul 08:45 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
Dulu sebelum saya masuk dalam pengajian itu, saya menganggap (mungkin) dialah orang yang tepat untuk saya. Tepat untuk saya menambah ilmu agama yang selama ini masih kurang dalam diri saya maupun tepat berbagi cerita tentang apa yang saya lakukan di luaran sana (sebelum) saya mengenal pengajian itu —yang sampai saat ini saya masih tetap ada di dalamnya (pengajian) itu.
Itu dulu. Saat saya masih tidak tahu bahwa siapa sesungguhnya dia sebenarnya? Seperti apa orangnya? Dan apakah bisa memberikan saya solusi jika saya ada problem? Tapi… ternyata anggapan saya itu salah. Bahkan jauh dari bayangan saya bahwa yang saya anggap murabbi itu adalah bukan orang yang benar-benar mampu menyelesaikan (solusi) jika saya ada masalah. Dan juga bukan seorang hollyman (orang suci). Dia ternyata sama seperti saya. Seperti manusia juga!
Malam itu saya memiliki masalah yang tak dapat saya selesaikan sendiri. Akhirnya pilihan orang yang tepat jatuhlah pada sang murabbi itu. Siapa tahu dialah orang yang tepat dan membantu saya. Dan pada saat itulah saya berkeluh kesah tentang masalah yang saya hadapi. Bukan! Bukan! Ini bukan masalah saya ngebet nikah. Sekali lagi bukan! Ini masalah saya tentang hubungan sesama saudara seiman dan seperjuangan yang agak renggang. Singkat kata, saya curahkan semua yang ada di benak dan di dada saya bahwa saya sedang mengalami masalah.
“Afwan, Pak, saya malam ini ada sedikit masalah mengenai ukhuwah yang saya alami terhadap saudara seiman dan seperjuangan saya. Bisakah Bapak menolong saya?” ujar saya. Kebetulan saat itu waktunya untuk memberikan masalah-masalah apa yang selama seminggu dihadapi para binaannya. Qadhaya ra’i begitu “sebutan” gaul di tempat pengajian saya. Ya, semacam curhatan itulah yang bisa saya katakan.
“Oya, apa? Dan masalahnya apa?” jawab sang murabbi. Meminta penjelasan.
“Begini, Pak, bla…, bla…, bla…, bla…” kata saya panjang lebar memberitahukan masalah yang saya hadapi.
Lalu apa yang saya dapat? Ternyata saya kurang puas dengan apa yang disampaikan oleh sang murabbi itu. Malah kekecewaan yang saya dapat. Ya, saya kecewa malam itu ketika masalah yang saya hadapi tak tuntas diselesaikan. Namun akhirnya saya sadar sendiri ketika ada kawan sepengajian saya yang memberitahukan dan menjelaskan kepada saya selepas pengajian malam itu.
“Ente kecewa ya atas masalah yang belum tuntas?” tiba-tiba kawan saya itu menanyakan hal seperti itu.
“Kecewa sih,” jawab saya datar.
Kawan saya yang sejak tadi mendengarkan masalah yang saya hadapi tadi langsung menaruh simpati kepada saya dengan sikapnya yang tak mau membuat masalah lagi terhadap saya. Kawan saya hanya tersenyum. Penuh merasakan apa yang saya alami.
“Ya, sudahlah memang semua apapun yang kita hadapi tak semua orang dapat menyelesaikan apa yang kita hadapi dan kita inginkan. Dan itu semua dapat dilakukan hanya kepada Sang Pencipta kita. Allahu Rabbi. Dan murabbi itu hanya perantara saja. Bila yang disampaikan oleh murabbi kita membuat ente tak puas, ya itu namanya juga manusia. Ada keterbatasan. Murabbi itu juga manusia lho…” ucap kawan saya sambil menepuk pundak saya.
Saya merenung kembali. Diam memikirkan apa yang disampaikan oleh kawan saya itu. Dan ternyata itu semua benar. Murabbi saya itu juga manusia. Tak semua apa yang saya hadapi bisa dijangkau olehnya. Dia bukan Tuhan apalagi hamba yang “sempurna”. Bisa memiliki dan menyelesaikan masaalah-masalah. Baik itu yang dihadapi olehnya sendiri maupun oleh saya.
Akhirnya saya pun mendapatkan kunci dari itu semua. Ya, saya harus lebih bijaksana menerima itu semua dan mendekatkan diri serta bermunajat kepada-Nya tentang apa yang saya hadapi malam itu.
Terima kasih, kawan, kau sudah membuka pintu hati saya mengenai siapa dia sesungguhnya? Dialah murabbi kita. Sang murabbi seorang manusia juga.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.