|
QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
|





Kamis, 22 Maret 2012 pukul 13:00 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
Melihat banyaknya kriminalitas di ibukota, rasa ketidaknyamanan semakin meningkat. Terlebih di saat keadaan yang tidak memungkinkan untuk menyerah pada situasi dan kondisi. Bahkan sampai ada yang mengorbankan harta benda ketimbang nyawa melayang. Dan itu sering dialami oleh kaum perempuan. Miris memang. Tapi itulah realita yang sering kita temui.
Untuk terbebaskan dari hal semacam itu, khususnya kaum perempuan zaman modern ini, sadar hal seperti itu harus ditanggulangi. Maka dari itulah sekarang ini makin banyak kaum perempuan yang tak mau terus-terusan menjadi sasaran empuk bagi mereka yang ingin berbuat tak baik dan juga melakukan pelecehan seksual. Terlebih perempuan dikatakan makhluk yang lemah dan harus menerima sesuai kodrat-Nya.
Kaum perempuan sekarang ini kita lihat sudah lebih bisa mawas diri dan menjaga diri. Mau tidak mau di antara mereka ada juga yang mengikuti dan mempelajari ilmu bela diri, bahkan memilkinya sejak belia. Ya, semacam untuk menjaga diri seperti mengikuti dan mempelajari ilmu bela diri pencak silat, karate, taekwondo, kungfu, tifan, aikido, dan sebagainya.
Ketika kita melihat keadaan seperi itu, yakni sebagian kaum perempuan yang mengikuti dan mempelajari ilmu bela diri, kadang ada yang memberi apresiasai (rasa takjub), tapi di satu posisi (pihak lain) ada yang menilai hal itu tak pantas dan tak sesuai dengan kultur budaya.
Lalu kalau hal itu masih diperdebatkan bahwa kaum perempuan tak layak mengikuti dan mempelajari ilmu bela diri bahkan tak pantas memilikinya, sampai kapan kaum perempuan bisa membela kehormatannya dan juga bisa menjaga dirinya dari mereka yang ingin berbuat tak baik? Apakah kita harus diam saja? Atau, nrimo saja sama keadaan?
Untuk itulah, daripada kita mendebatkan kaum perempuan yang mengikuti dan mempelajari ilmu bela diri, mending kita bercermin diri, sudah bisakah kita melindungi dan membela kaum perempuan ketika mereka disakiti?
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.