HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://arif_wibowo.kotasantri.com
Bergabung
31 Maret 2009 pukul 05:16 WIB
Domisili
Klaten, Cirebon - Jawa Tengah, Jawa Barat
Pekerjaan
Karyawan Swasta
why_klt@yahoo.co.id
http://facebook.com/awwibowo
Tulisan Aw Lainnya
Cinta di Dalam Gelas Kosong
13 November 2011 pukul 10:00 WIB
Demam Rindu
24 Oktober 2011 pukul 11:30 WIB
Aku Mau!
2 Oktober 2011 pukul 10:00 WIB
Rindu
29 Agustus 2011 pukul 16:00 WIB
Memberi adalah Mendapatkan Lebih
18 Agustus 2011 pukul 11:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 25 Desember 2011 pukul 10:30 WIB

Kehidupan di Kamar yang Terlewatkan

Penulis : Aw Wibowo

Disibaknya daun pintu kamar yang sedikit terbuka. Segera ia rubuhkan tubuhnya yang bersimbah peluh di atas ubin. Nafas memburu melintasi hidung dan bermuara di mulut. Sesekali disekanya cucuran keringat di dahi. Kemudian kedua tangannya dilipat ke belakang kepala. Kaki kanan diangkat bertumpu pada paha kiri yang telah ia tekuk. Digoyangnya telapak kaki kanan seperti gerakan mengibas. Mata jernihnya menerawang melekat di putihnya langit kamar. Tampak sebuah kipas deras berputar. Deru anginnya mengalun lembut. Berhembus menelisir sejukkan tubuhnya yang basah oleh keringat. Sesekali ia pejamkan mata. Merasakan aliran damai di kulit. Dinikmatinya. Dan Budi lelap tertidur.

Ibunya tersenyum memperhatikan. Bocah kelas empat SD itu sejurus lelah nan capai. Rupanya ia keasyikan bersepak bola bersama kawan-kawannya di gang depan rumah. Tatapan sang surya dan hawa panas yang dibawa, tak membuatnya menghentikan ceria. Perlahan sang ibu menutup daun pintu lalu beranjak melangkah ke dapur. Memasak sayur untuk si buah hati tercinta.

***

Mata Budi terpaku mengamati laba-laba yang sedang merakit sarang di pojok kamar. Terbesit decak kagum di hati. Berkeping tanya kemudian muncul mengusik pikiran. Selanjutnya Budi lanjut menyapa.

"Hei laba-laba, apakah engkau sedang membuat rumah untuk menjebak mangsa?"

"Benar, Nak."

"Mengapa tak engkau lakukan di luar sana. Di alam terbuka, antara semak atau pepohonan. Di mana banyak serangga berterbangan dan hinggap. Mengapa engkau pilih di sudut kamar yang sepi dan terasing ini?"

"Di sini atau di luar sana bagiku sama saja, Nak. Karena aku yakin akan janjiNya. Bukankah rejeki semua makluk telah dijamin olehNya? Bahkan cacing yang tiada melihatpun. Dalam gelap dan lembab, Allah tak akan menelantarkan semua maklukNya, tak satu pun. Dan tak ada yang luput dari perhatianNya. Ini aku menjemput rejekiNya dengan cara memasang jerat perangkap. Tak berarti diam lepas tangan."

Budi memanggut, tanya telah terjawab. Sesaat berlalu Budi menoleh, tiba-tiba sepasang bola matanya menatap seekor cicak yang diam mematung menempel di sisi dinding. Tak kuasa, ia lalu menegurnya.

"Hei cicak, mengapa engkau diam saja? Tak lihatkah laba-laba di sana sedang berkarya?"

"Aku sedang mengintai mangsa. Berharap ada yang mendekat."

"Kenapa tak engkau kejar saja. Gerakanmu gesit, lincah, dan bertenaga."

"Perhatikanlah diriku. Merayap dari sisi dinding ke lapis dinding yang lain. Perhatikan, mangsaku bersayap. Terbang bebas leluasa bergerak tanpa batas. Jika Allah menghendaki, mungkin bangsaku akan pusing memikirkannya. Namun Ia Mahaadil. Aku dikaruniai lidah panjang dan lengket yang dapat menyergap dari jarak dekat. Allah tak kan memberikan beban melebihi kemampuan makluknya. Setiap kesulitan, dibersamaiNya kemudahan."

Kening Budi yang sejak tadi datar kini terlihat mengernyit. Tak lama kemudian senyum simpul mengembang layaknya bulan sabit.

Pandangan Budi memencar menyelidiki aktivitas lain. Seekor semut beradu menatapnya, lalu kembali mengangkat remahan roti di ujung taringnya. Berjalan pelan ke sarang. Agak lama kemudian, semut tadi kembali ke luar bersama rombongan. Melihatnya, Budi bertanya.

"Siapa yang engkau ajak itu, duhai semut. Karena apa engkau mengajaknya?"

"Mereka adalah kawan-kawanku, Nak. Aku mengajak mereka untuk berbagi rejeki. Engkau ingat. Tadi aku berjalan masuk sendirian, sekarang aku ke luar beriringan bersama kawan. Tahukah engkau, Nak? Berbagi itu mempererat tali silaturrahim, merapatkan yang renggang, menumbuhkan cinta dan persaudaraan."

Budi mengiyakan. Kumpulan semut tadi mengitari, beramai memikul makanan dengan kedua rahang menuju ke liangnya.

***

"Bud, bangun, Nak. Ibu sudah menghidangkan sayur di atas meja. Cepetan makan keburu dingin lho. Jangan lupa cuci tangan dan berdo'a dulu ya," seru ibunya dari balik pintu.

"Alhamdulillah. Terima kasih atas rejeki yang Engkau limpahkan."

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

mang_unus | Wiraswasta
Semoga dapat menjadi wasilah untuk semua; berbagi ilmu, memupuk ukhuwah, mengokohkan keimanan, menopang keistiqamahan.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1180 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels