Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://arif_wibowo.kotasantri.com
Bergabung
31 Maret 2009 pukul 05:16 WIB
Domisili
Klaten, Cirebon - Jawa Tengah, Jawa Barat
Pekerjaan
Karyawan Swasta
why_klt@yahoo.co.id
http://facebook.com/awwibowo
Tulisan Aw Lainnya
Demam Rindu
24 Oktober 2011 pukul 11:30 WIB
Aku Mau!
2 Oktober 2011 pukul 10:00 WIB
Rindu
29 Agustus 2011 pukul 16:00 WIB
Memberi adalah Mendapatkan Lebih
18 Agustus 2011 pukul 11:45 WIB
Tiga Malam
14 Agustus 2011 pukul 10:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 13 November 2011 pukul 10:00 WIB

Cinta di Dalam Gelas Kosong

Penulis : Aw Wibowo

“Jika kuseduhkan kopi, ayahmu menghirupnya pelan-pelan, lalu tersenyum padaku.”

Meski tak terkatakan, anak-anak tahu bahwa senyum itu adalah ucapan saling berterima kasih antara ayah dan ibu mereka untuk kasih sayang yang balas-membalas, dan kopi itu adalah cinta di dalam gelas. (Cinta di Dalam Gelas, Andrea Hirata).

***

Gelas belimbing berisi cairan putih manis hangat itu digenggamnya dengan dengan tangan kanan. Secepatnya cairan itu telah berpindah tempat ke pemilik tangan. Diletakkannya kembali ke tatakan warna hijau. Pun tutupnya ia tumpangkan ke bibir gelas. Noda-noda putih masih anyir melapisi dinding gelas. Dalam temaram lampu, sang empunya gelas tahu gelas itu kembali kosong.

Diambilnya bersama tatakan dan tutupnya. Perempuan setengah baya itu tampak tersenyum sembari mengucapkan penawaran, “Tambah lagi ya susunya.” Matanya menatap teduh.

Lelaki muda itu rikuh dibuatnya, ia tundukkan wajahnya. Kalau bukan karena temaram lampu, sang empunya gelas pasti tahu bahwa pipi lelaki itu merona merah menahan malu. Dengan nada rendah, lelaki itu mencoba menjawab, bukan bermaksud menolak, hanya ingin menyudahi sementara waktu meski ia tahu hasilnya percuma. “Sudah, Bu, makasih. Nanti habis sahur lagi.”

Gelas sudah terangkat, sang empunya membawanya ke dapur. Pantang ia menarik kata penawaran yang telah ia ucapkan. Tak sampai lima menit ia kembali dengan gelas terisi. Disuguhkan di hadapan lelaki muda yang sedang bersila itu. “Mangga atuh, diminum lagi sebelum tidur.”

Inilah gelas ketiga yang terhidang semenjak buka puasa tadi, belum terhitung segelas air putih yang disandingkan bersama gelas belimbing itu. Lelaki muda membalas senyum, gelas berisi cairan putih yang hangat sejenak didiamkannya. Sebenarnya bukan lantaran tak suka dengan minuman susu, bukan pula sikap sang empu gelas yang istimewa di matanya. Tetapi dengan membiarkan gelas terisi itu tak disentuh, paling tidak ia bisa mengulur waktu agar tidak kembali kosong.

Lama nian susu itu menjadi dingin. Pun lelaki itu telah terlelap. Agaknya ia tergagap begitu dibangunkan si anak hilang. Matanya yang nanar menyapa keadaan, dan menangkap segelas susu itu baru sepertiga diteguknya. Sambil kesadaran kembali penuh, lelaki muda menggambil gelas dan meneguk ludes isinya. Memang pantang ia membiarkan minuman sisa yang akhirnya kan dibuang. Baginya sampai teguk terakhir itulah letak nikmatnya. Juga agar tak mubazir rejeki keringat sang empunya gelas.

Beberapa saat lelaki muda berpamitan tidur dengan meninggalkan gelas yang kosong. Dan ia menunggu kejutan lain esok harinya.

***

Apakah jarum jam terlalu cepat berputar hingga sang empunya gelas sampai meminta maaf ketika menyuguhkan hidangan sahur. Ah, lelaki muda jadi tak enak perasaannya. Padahal masih setengah empat, banyak waktu. Ia tak banyak bicara, sedikit membesarkan hati sang empunya gelas, meski seutuhnya tak pantas. “Nggak apa-apa, Bu.” Cukuplah itu respon yang melegakan setidaknya untuk sang empunya gelas.

Setiap jamuan makan pasti dua gelas dihidangkan, satu berisi cairan putih dan satunya lagi berisi cairan bening yang tak lain air putih. Dengan lahap lelaki muda bersama si anak hilang mengakhiri sahur. Gelas berisi air putih telah habis diminum, tinggal air susu untuk pungkasan.

Detik berjalan berganti menit. Tiba-tiba lelaki muda terperanjat begitu sang empunya gelas telah kembali bersama gelas isi. Tanpa penawaran lagi, bahkan sepertinya ia telah hafal bagaimana memuliakan tamu. Lagi-lagi lelaki muda hanya bisa bersyukur sambil mengagumi sikap sang empu yang penuh perhatian hingga merasa ia begitu diperhatikan.

Mungkin itulah bahasa cinta tak terkatakan. Cinta sang empu rumah terhadap tamunya. Sederhana tetapi sungguh mengesankan. Dan cinta itu akan tetap tertuang dalam gelas kosong. Ya, cinta di dalam gelas kosong.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ita Yusvana | Karyawan
Teman di waktu istirahat yang paling sering dikunjungi.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2430 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels