|
HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
|
|
why_klt@yahoo.co.id |
|
http://facebook.com/awwibowo |





Ahad, 14 Agustus 2011 pukul 10:30 WIB
Penulis : Aw Wibowo
Malam terasa hening. Sepatah kata tiada terdengar. Desau angin tenang, tak bergemerisik di celah dedaunan. Mungkin hanya suara binatang malam di persawahan yang mendendangkan lagu kegelisahan. Sepi. Jalanan terbuka lenggang. Tak ada lalu lalang kendaraan. Tak jua dekak kaki yang mengayun gerak. Semua ditelan sunyi. Gelap. Pasti. Tiada pelita yang menampakan cahayanya. Hanya redup kecil lilin nun berkedip di ujung sana. Bayangnya bergoyang berlawan tiupan angin. Mengecil, mengerdil, dan habislah sepanjang nyala sumbu.
Tepian desa, tegak tatanan potongan bambu yang dirangkai menjadi sebuah alas, gethek begitu warga di kampung ini menyebutnya. Di bawahnya ada anak sungai yang entah saat itu sedang mengalir atau kering. Gemeretak ketika berat tubuhku merebah. Melepas sisa penat yang sedari pagi menghampiri. Kupejam mata. Menyemai damai. Kubuka. Menerawang gelap langit yang bertabur bintang. Ah, indah. Terlalu sayang dibiarkan. Kurapatkan sedekap tangan. Sekiranya lekatan lapisan jaket mampu menahan dingin yang membersamai. Meski agak menyeruak bau tak sedap badan. Menyengat hidung karena hari ini belumlah mandi. Di sisi, kanan kiri. Sama saja. Mereka terlelap juga setelah dikejar lelah luar biasa. Membiarkan damai hinggap sejenak di mimpinya.
Kulepaskan simpul ikatan ingatan tadi pagi. Semuanya seperti sebuah mimpi. Cepat terganti potongan waktu. Nafas dihempas mengakhiri beban yang bergelayut. Pelan namun panjang. Aku tak ingin berpikir lebih jauh dulu. Ingin kunikmati malam ini. Meski alam terbuka menjadi atapnya. Semilir angin jadi air conditioner-nya. Taburan bintang dan sepotong bulan menggantikan temaram lampu ruangnya. Suara binatang malam menjadi penina bobokan. Menggantikan hingar musik dari radio fm atau sandiwara dari kotak televisi. Juga pohon dan dedaunan menjadi tembok-temboknya. Menjuntai meski tak menghangatkan.
Tik. Setitik demi setitik butir hujan jatuh menempias wajahku. Mengusapkan dingin seketika. Membuyarkan mimpi hingga terbangun di tengah malam. Hujan? Mungkinkah malam ini akan turun hujan? Haruskah malam ini? Tak bisakah ditunda esok saja, Tuhan? Ah, kesadaranku mungkin belumlah pulih benar. Hujan turun, siapa yang berkuasa?!
Menatap tak percaya ke angkasa. Pada kumpulan mendung yang menggantung. Kilau bintang dan rekah senyum bulan benar-benar telah dilahapnya. Yang tersisa hanya gelap yang akan turun sebentar lagi. Berderai air langit.
Semakin menjadi, tebaran bulir menghujam. Gerimis. Sesaat lagi pasti deras menyapa. Mereka terlihat panik. Berpencar bersegera mencari atap perlindungan. Menyebar. Sebagian berlari ke arah selatan. Kuikuti sembari cemas menaungi. Kukejar jejak-jejak. Mereka berseru mengajak memasuki sebuah ruangan yang sangat asing.
Telah berkumpul di dalamnya beberapa sosok yang sama seperti diriku. Samar terlihat rautnya dalam temaram tanpa cahaya. Entah, tapi aku yakin mereka sama seperti yang tengah kurasakan. Gelisah dalam pekat malam. Berharap hujan tak sudi turun.
Apa yang didamba tak sampai. Hujan seketika membasahi tanah. Deras. Berisik di tiap kecipaknya. Kelap cahaya langit menyilaukan bumi. Menembus gumpalan mendung yang bergulung. Bersusul gemuruh yang menggetarkan nyali. Memekakan gendang telinga. Memupuk rasa takut. Memaksa kelu lidah mengagungkan asmaNya. Berharap kemurahan kan menjelang. Lengkap sudah segalanya.
Aku terkurung bersama mereka di dalamnya. Apa yang bisa kulakukan? Hanya terpuruk. Tiada celah untuk lari lagi. Bagi kami ini adalah tempat yang nyaman bernaung dari hempasan hujan. Sebuah bak besar truk pengangkut batu. Ya, di sini! Tak terpikir sebelumnya untuk bermalam di sini. Tiada tempat lain lagi. Lempengan besi beberapa inci yang berkarat di dalamnya tegak tinggi menjadi dinding sandaran. Di atasnya terpal biru digelar. Di tengah bersangga bilah bambu hingga terlihat menggunung. Cukup memayungi.
Diam, hampir semua dari kami tak ada yang berbicara. Memang sudah tak kuasa karena menganggap hari depan kami telah mati. Bahkan esok hari pun kami tak ingin membayangkannya. Kelam sudah semuanya. Kami hanya duduk termangu. Lipatan kedua tangan mendekap kaki yang tertekuk. Kepala lunglai hingga dagu menyentuh dengkul. Mata menerawang kosong. Beberapa mengisi kehampaan hatinya dengan melihat angka jam di hape bututnya. Jam dua malam, hujan belum terhenti.
Endapan air tanpa terasa merembes ke pori jaketku. Basah. Padahal ini penghangat satu-satunya yang kubawa. Ah, cerita apa lagi ini. Kugeser duduk, mencari alas kering. Namun rupanya genangan telah memenuhi sudut ruang ini. Terpal yang sejatinya mampu menahan masuknya air hujan, ternyata merembes bocor di sana-sini.
Paling tidak aku merasa beruntung mendapat tempat teduh meski seadanya. Kupandang dua tenda kusuh tak jauh di belakang bak ini. Tampak cekung melengkung karena beban hujan. Alasnya pun engkau bisa memastikan seperti apa keadaannya. Satu dua penghuninya mulai keluar. Mereda. Bulir hanya seperti tipis jarum. Adakah dari mereka ada yang mengutuk bahkan tak ikhlas akan takdirnya ini. Nelangsa. Sudah didera cobaan begitu rupa masih saja hujan menangisinya. Oh..
Hampir tiga jam terkurung di kotak besi itu seperti mendapat kebebasan tersendiri. Bau tanah basah. Dingin udara merajai. Juga butiran bintang yang kembali bergemintang. Damai. Kuberanjak ke jalan. Menelusurinya. Kudapati beberapa sosok yang bertahan dalam bangunan yang merekah. Disungingkan senyumnya, mungkin karena telah menaklukkan kemenangan akan ketakutan yang menguasai. Seperti mengajakku untuk bersemayam kembali bersamanya. Meneruskan mimpi yang jeda terhenti. Pagi sepertinya sebentar lagi datang menghampiri.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.