|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
|
why_klt@yahoo.co.id |
|
http://facebook.com/awwibowo |





Rabu, 10 Agustus 2011 pukul 10:00 WIB
Penulis : Aw Wibowo
Saya membayangkan, bagaimana rasanya sahur dengan orang yang mencinta kita (dan yang kita cinta). Sahur bersama keluarga.
Hampir empat tahun saya kehilangan itu semua. Merantau di tempat jauh. Sendiri lagi sepi.
Terkenang…
Ibulah tetap yang bangun paling awal. Ia menanak nasi (atau menghangatkan sisa semalam), menyiapkan lauk-pauk, menggoreng telur, menghangatkan kuah, lalu membangunkan kami dengan sabar (satu dua kali dibangunkan, saya suka malas-malasan, menggeliat), dan ketika makan pun, ia selalu mengambil yang terakhir (sering mengalah, memberikan lauk ‘enak’ untuk anaknya, sedangkan dirinya mengambil ala sekedarnya).
Dan seusai pesta sahur dini hari tadi, Ibulah yang kembali mengembalikan piring-piring kotor itu seperti semula.
Ibulah yang selalu berjuang untuk kami. Ketika subuh hampir menyentuh telinga. Ia yang bangun terlambat, bersegera keluar rumah dengan keadaan dingin. Berjalan di kegelapan kebun, ruas rumah, dan jalan. Di sana, di rumah tetangga, ia membelikan kami sahur nasi bungkus serta lauk tempe tahu. Ia yang berjalan bergegas. Ia dengan langkah terburu. Takut sahur kami menjadi terlambat. Ibu selalu nomer satu dalam segala hal.
Dan ia selalu mengkhawatirkan kami.
Suatu hari, kami terbangun dalam keadaan subuh. Kami menyesal kehilangan sahur hari itu. Hati kami mengkal. Membayang keadaan yang tak pernah diharap. Menyalahkan! Namun, ketika kami dapati Ibu keluar kamar dengan muka pucat. Kain jarik terbebat di tubuhnya. Dan sweater pudar membungkus badannya. Betapa menyesalnya kami. Ibu sedang meriang, tak enak badan. Harusnya kami bertindak semampunya. Menyiapkan semestinya. Dan yang membuat penyesalan kami semakin bertumpuk, Ibu meminta maaf atas kelalaiannya (bagaimana saya akan tega, membentak, dan membuat hatinya terluka?)
Seandainya saja kenangan itu berputar kembali di sini.
Kini, di tempat yang jauh lagi sepi, saya harus melakukan semuanya sendiri. Bangun awal, menanak nasi, menyiapkan lauk, mencuci peralatan yang kotor, dan sahur hanya berteman senyap dan bayang-bayang.
Tak ada lagi seruan dan sentuhan Ibu yang membangunkan dari tidur. Tiada lagi kebersamaan yang mengalahkan kantuk juga hambarnya lauk. Tak ada. Tak ada. Hanya bayang-bayang yang menemani sepanjang perjalanan sahur ini.
Saya bersyukur, paling tidak sehari kemarin, awal Ramadhan, adik menginap semalam. Kami berbagi, mencandai, dan saling mengisi kekosongan hati juga hari kami. Meski dengan lauk dan semua serba adanya, sungguh itulah sahur terindah selama beberapa hari ini.
Saya jadi begitu tahu, apa yang membuat Ibu melakukan semua pengorbanan dan kerelaan itu. Cinta. Dengan cintanya yang membuat kami selalu merindunya.
Maka, (sangat) berbahagialah jika saat ini kita bisa sahur dengan orang yang mencinta (juga yang kita cintai).
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.