|
QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
|
|
why_klt@yahoo.co.id |
|
http://facebook.com/awwibowo |





Ahad, 3 Juli 2011 pukul 10:00 WIB
Penulis : Aw Wibowo
Apa itu sebuah mimpi? Sebuah pertanyaan yang selalu menggelayuti alam pikirannya. Di matanya, mimpi itu terasa jauh dengan kenyataan. Bahkan bisa berjungkir balik seratus delapan puluh derajat. Ia mulai mengerti. Sejatinya, mimpi bukanlah sesuatu yang harus menjadi kenyataan, tetapi pada dasarnya ia adalah proses menuju kenyataan itu.
Petang menjelang. Tampak siluet jingga menyembul di ufuk cakrawala. Puluhan kelelawar berganti menguasai udara dengan kepakannya yang menyentak di angkasa. Satu persatu lampu mulai berpijar. Terserak bercahaya menyaingi langit malam dengan kelip bintang. Pelan. Sayup suara adzan berkumandang merembet ke telinga. Lembut nan merdu, menggetar dada seorang pemuda yang sedang berdiri di sebuah peron.
Perkenalkan, sosok itu adalah Parman. Lelaki dua puluh tahun bertubuh jangkung. Matanya bundar berwarna coklat. Rambutnya ikal sebahu. Perawakannya sedang namun mendekati kurus. Di punggungnya ada sebuah ransel berwarna hitam gelap. Menggelembung serupa punuk unta, penuh dengan barang bawaan. Di samping kanannya tergeletak sebuah bungkusan dari kain kotak. Bercorak merah hitam. Keempat ujungnya ditarik jadi satu simpul, hingga terbentuk buntalan menyerupai kantung pengembara.
Parman berdiri tegap memandang ke timur. Di mana nanti kereta Bengawan akan membawanya ke sebuah tempat baru yang belum pernah dikunjunginya. Membawanya melihat sebuah cakrawala baru dan tanah baru. Diliriknya layar handphone yang ia keluarkan dari saku kantong jeans-nya. Pukul 17.45, berarti sepuluh menit lagi kereta akan tiba. Tapi hatinya merasa sangat berat untuk segera meninggalkan tanah ini, kampung ini, tempat ia lahir dan dibesarkan.
Tak pernah hatinya merasa segalau ini. Bila waktu mengijinkan, ingin rasanya Parman tinggal sejenak di sini lebih lama, sehari saja. Namun keputusannya sudah bulat, tekadnya kuat. Meninggalkan tanah ini demi mimpi. Ia akan merantau untuk pertama kalinya. Sendiri.
Gerimis mulai menyentuh pundak bumi. Perlahan tanah basah menguar mengeluarkan aroma khas. Parman memejamkan matanya. Dihirupnya, ada damai meresap melalui rongga hidungnya lalu mengalir ke paru-paru. Kedamaian yang selalu ia rasakan kala gerimis tiba. Dengan memejam mata dan menghirup aromanya dalam-dalam.
Parman melirik ke belakang, kepada sesosok lelaki yang sudah memutih rambutnya. Duduk diam dalam bangku panjang di peron. Matanya terpejam tetapi hatinya tidak. Lelaki itu pasti merasakan hal yang sama seperti yang sedang ia rasakan. Kehilangan.
Lelaki itu membuka matanya. Sekilas pandangannya bertumbukan dengan Parman. Sedetik kemudian lelaki itu mengembangkan senyuman, meski sejatinya terasa berat. Dirunutnya puluhan peristiwa lampau. Saat-saat yang pernah ia jalani bersama Parman, putranya. Dari mulai bayi, merangkak, beranjak kanak, bersekolah, hingga kini sudah dewasa dan mencoba memilih jalan hidupnya sendiri. Getir bila mengingatnya, namun kenangan demi kenangan memang tak mudah dilupakan. Karena ia akan bersemayam di hati, selamanya.
Parman mendekat, duduk bersebelahan dengannya. Dipandangnya raut wajah yang tak lagi muda. Penuh keriput yang bergurat, menyiratkan jalan cerita tiada akhir. Perjuangan. Demi kehidupan ia dan ibunya. Dan mata bening itu, telah berpudar warnanya seiring laju usia.
“Pak, maafkan Parman bila selama ini membuat Bapak kecewa.”
“Sudahlah, Nak. Yang lalu biar berlalu. Masa depan akan menunggumu.”
“Tapi Parman tetap merasa bersalah. Sering membuat marah Bapak.”
“Bapak maafkan, Nak. Maafkan Bapak juga yang terlalu kaku kepadamu.”
“Parman mengerti. Bapak lakukan semuanya demi Parman juga. Dan di penghujung hari ini rasanya Parman tak bisa berbakti lebih jauh lagi kepada Bapak. Terlebih kepada Ibu.”
“Bapak tahu itu. Mungkin ini memang saatnya engkau pergi. Pergi meraih mimpimu. Jangan berhenti bila suatu hari engkau mendapati bahwa mimpi terkadang berseberangan dengan apa yang dibayangkan.”
Hening. Butiran air mata merembes di pipi Parman. Berai. Satu-satu.
“Ada satu hal yang ingin Parman katakan.”
Bapak terdiam, menunggu lanjutan kata yang sekiranya akan meluncur sejuk mengisi relung hatinya.
“Parman pasti akan kembali membawa dengan mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan. Percayalah, Pak.”
Bapak menggenggam tangan Parman. Erat, seolah tak ingin kehilangan lagi sosok yang selama ini menjadi cahaya matanya.
Senyum Parman mengembang, disusul pula dari bapaknya.
“Perhatian. Perhatian. Sesaat lagi kereta Bengawan dari arah timur akan memasuki lintasan pertama. Diharap calon penumpang berhati-hati, menjauhi perlintasan kereta. Periksa barang bawaan Anda. Pastikan tak ada yang tertinggal,” terdengar suara kepala stasiun dari corong pengeras. Pertanda perpisahan akan tiba sesaat lagi.
Dari jauh, setitik cahaya terang mulai membesar. Bergerak lurus maju mendekati stasiun. Jarum tipis rintik hujan terlihat jelas diterpa cahayanya. Dan lengkingan khas kereta menggema selaksa jeritan sebuah peluit raksasa.
“Calon penumpang dari kereta Srowot diharap bersiap memasuki gerbong keempat,” perintah kepala stasiun.
Parman menggapai tangan Ayahnya. Bersalaman lalu dicium dengan masqul. Momen yang pasti ia rindukan kelak.
“Pak, Parman berangkat dulu.” Tangan kanannya mengangkat buntalan itu lalu melangkah menuju pintu gerbong.
“Hati-hati, Nak. Jangan lupa selalu beri kabar pada Ibumu!”
“Ya!”
Suara Parman tenggelam dalam keriuhan calon penumpang lain yang berdesak memasuki gerbong nomer empat. Sosok Parman menghilang di antara berjubel penumpang.
Glek.. glek.. glek..
Kereta mulai berjalan pelan. Dalam sekat jendela yang buram dan samar gelap, Parman menganggukkan kepala seraya tersenyum kepada bapaknya yang berada di luar. Kereta berjalan. Pandangan bergeser. Peron menghilang. Dan kini berganti kegelapan.
Parman merogoh saku celananya. Dikeluarkannya sebuah kertas berukuran setengah kartu kredit berwarna merah pucat. C 20, nomer kursinya. Ekor matanya berputar mengitari ruang gerbong. Di sisi dalam kanan kiri gerbong, di atas jendela, tercantum nomer urut kursi-kursi.
Dilangkahkannya kaki. Menyela di antara desakan para penumpang yang sibuk mencari tempat duduk. Parman memiringkan tubuh, mencoba menembus pertahanan penumpang lain yang berdiri tak kebagian tempat duduk. Tak berhenti mulutnya mengucap kata ‘maaf’ saat melintasi beberapa penumpang yang tersentuh dengan barang bawaannya. Langkahnya pelan menuju C 20. Tubuhnya sedikit limbung akibat hentakan gerbong. Dipegangnya tepian kursi untuk menjaga tubuhnya. Langkahnya telah dekat dengan C 20, tetapi seseorang telah menduduki kursinya. Dipandang sekali lagi tiket di tangannya, mencocokkan nomer itu dengan tiketnya. Benar. Ia tak salah baca.
“Maaf, Mas. Ini kursi saya,” Parman menunjukkan tiketnya.
Penumpang itu melihat seksama, kemudian beranjak bangkit dan tersenyum mempersilahkan Parman duduk.
Parman mengangguk balas tersenyum. Diletakkan buntalannya ke kolong kursi, sedang ranselnya ia lepas dan didekap di dada. Parman menengok, lelaki tadi sudah menghilang tertutup penumpang lain.
Inilah pertama kali Parman naik kereta. Dulu semasa kecil, ia hanya bisa membayangkan saja. Bagaimana rasanya kali ini benar-benar nyata. Ia mengalaminya sendiri.
Parman mengitarkan pandangannya. Di hadapannya ada tiga sosok. Seorang bapak berbaju batik dengan kacamata bersepuh kuningan di gagangnya. Dua lagi seorang pemuda tanggung seumurannya. Keduanya sama membawa ransel kecil yang didekap di dada. Sepertinya mereka kakak beradik. Di sebelah kirinya, satu kursi dengan Parman, ada pasutri setengah baya. Istrinya tampak ketiduran dan bersandar pada bahu suaminya.
Lelaki berkacamata mulai membuka percakapan. “Mau ke mana, Dik?”
“Ke Jakarta,” jawab Parman hangat.
“Kerja di mana?”
“O.. baru mau mencari, Pak.”
“Hemm.. Jakarta-nya di mana?”
Sejenak Parman diam. Ia masih bingung antara menjawab terus terang atau tidak pada orang yang baru dikenalnya. Ia teringat pada pesan bapaknya sebelum berangkat, agar berhati-hati dan tidak terlalu terbuka kepada orang asing. “Saya turun di Tanah Abang,” akhirnya ia menghilangkan prasangkanya.
“Saya juga turun di Tanah Abang, Mas,” sahut seorang pemuda di depannya.
“Kalo begitu sama. Saya juga di sana,” timpal bapak berkacamata.
Parman tersenyum, rupanya tak disangka perjalanan pertama ia bakal memperoleh teman satu tujuan. Lalu ketiganya tampak akrab tanpa canggung lagi saling bertukar cerita. Perjalanan jadi terasa menyenangkan di tengah kelelahan penumpang lain yang tertidur bersandar pada kursi.
Di stasiun Brambanan, kereta berhenti. Terlihat dari dalam jendela beberapa penumpang berdesakan mengantri masuk. Matanya menumbuk sesuatu. Seorang ibu dengan anaknya yang berusia sekitar dua tahun didekap dalam gendongan. Hanya sesaat pemandangan itu hilang tertutup manusia lainnya. Hati kecilnya berontak, sungguh malang sekali nasib ibu tadi jika harus berdiri bersama puluhan penumpang lainnya. Apalagi ia menggendong anak kecil. Tiba-tiba ia teringat dengan wajah ibunya.
Parman berdiri. Ditengoknya ke belakang tempat ibu tadi masuk. Ombak manusia yang merangsek ke depan membuatnya urung untuk mencari ibu tadi. Parman hanya bisa berdo'a, semoga di sana ada penumpang lain yang merelakan tempat duduk untuk ibu dan anaknya.
“Ada apa, Mas. Kok sepertinya gelisah?” pemuda di hadapannya bertanya.
Parman canggung, secepatnya ia menjawab, “Nggak ada apa-apa.” Senyumnya ia kembangkan meski hatinya kini gelisah.
Bapak berkacamata yang mengamati Parman sedari tadi berucap, “Ibu yang menggendong anaknya tadi ya?”
Parman kaget, sepertinya bapak berkacamata tadi bisa membaca pikirannya. “I.. iya, Pak.”
“Di kereta itu tak sama kalau kita menaiki bus.”
“Maksudnya, Pak?”
“Adik bayangkan saja. Untuk sampai Jakarta, dibutuhkan hampir semalam sampai sana. Bila Adik memberikan tempat kursi ini, siapkah Adik untuk berjaga semalam? Sedang esoknya Adik harus mencari tempat kost. Dan ingatlah, Dik, kehidupan Jakarta itu tak seperti di desa. Keras dan beringas.”
Parman mengernyitkan kening, seolah ia tak sepenuhnya setuju dengan pendapat bapak itu. Tapi hati kecilnya berbisik, ada benarnya juga perkataannya. Pemuda di depannya pun ikut mengangguk.
Hening. Sebagiannya larut dalam lamunan sendiri. Sebagian lagi sudah terlelap dalam tidurnya.
Kereta semakin kencang melaju. Gerimis kecil masih tersisa di langit. Membasahi segala yang disentuhnya.
Parman membuang pandangannya pada lapis jendela yang berembun tersentuh dingin. Hanya nampak pelita-pelita kecil di luar, sedang semuanya gelap. Hiburan satu-satunya adalah ketika melintasi palang kereta. Tampak berpuluh manusia memasang muka membeku melawan dingin cuaca. Ah, Parman merasa bersyukur saat ini ia berada di gerbong hangat yang membuatnya bisa berkeringat.
Tiba-tiba ia ingat sesuatu. Digeledah isi ranselnya, juga buntalan kain sarung di bawah tempat duduk. Tak ada! Ia mendengus pasrah. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan sesuatu yang penting itu. Segera ia menelepon Bapak, “Aku tak jadi berangkat hari ini. Ijazahku ketinggalan.”
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.