HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://arif_wibowo.kotasantri.com
Bergabung
31 Maret 2009 pukul 05:16 WIB
Domisili
Klaten, Cirebon - Jawa Tengah, Jawa Barat
Pekerjaan
Karyawan Swasta
why_klt@yahoo.co.id
http://facebook.com/awwibowo
Tulisan Aw Lainnya
Kecewa
20 Juni 2011 pukul 13:35 WIB
Ruang Rindu
16 Juni 2011 pukul 11:25 WIB
Semestinya Kau Bahagia
13 Juni 2011 pukul 09:55 WIB
Raibnya Sendal Jepitku
5 Juni 2011 pukul 08:45 WIB
Terluka
1 Juni 2011 pukul 12:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 26 Juni 2011 pukul 08:00 WIB

Bukan Potato

Penulis : Aw Wibowo

“Apakah orang yang bertato tidak diperbolehkan shalat karena tatonya?” tanya seorang kawan dalam sebuah obrolan ringan.

Kami bertanya-tanya. Belum sempat berkomentar, ia kembali meningkahi, “Kata si A, percuma. Shalatnya tidak diterima.”

Salah seorang dari kami menyeletuk, “Eh, ndak apa-apa. Yang penting niatnya, Bro.”

“Tapi katanya tato-tato ini harus dihapus dulu?” ujarnya seraya menunjukkan tato tengkorak dan wajah perempuan di siku kirinya, juga tato lain di siku dan betis kanannya.

“Ah, mampukah kamu melakukannya. Dihapus pake pelicin? (disetrika) Sakit tauk. Apalagi nanti meninggalkan bekas luka yang tiada hilang seumur-umur,” timpa teman yang lain.

“Sebenarnya ada cara menghilangkan tanpa sakit dan bekas luka. Pake laser, tetapi mahal harganya. Tiga ratus ribu per beberapa sentinya. Lihat, hitung berapa juta buat menghapus semua tato ini,” disingsingkannya lengan baju panjangnya.

Saya menerka, akan habis biaya sekitar lima juta untuk menghilangkan semua tato yang hampir memenuhi tangannya. Gedubrakk.

***

Saya jadi teringat kisah tentang pembunuh yang telah menghapus 99 nyawa.

Suatu ketika, ia mendatangi seorang ahli ibadah. Ditanyakannya, “Apakah diterima taubatku?”

Lalu dijawab ahli ibadah, “Tidak. Dosamu terlampau melimpah. Allah tidak menerima taubatmu. Pergilah.”

Dan terhunus pedangnya, melayangkan nyawa keseratus.

Dalam kerontangnya jiwa, kemudian si pembunuh mendatangi seorang ulama. Dikatakan maksudnya, “Apakah Allah akan menerima taubatku?”

“Ya,” jawab sang ulama. “Allah akan menerima taubat hamba-Nya, seberapapun besar dosanya. Dan hijrahlah kamu dari tempat lama bertebar maksiat menuju ke sana, tempat orang-orang shaleh.”

Ia menuruti nasehat sang ulama. Dilangkahkan kakinya dengan kesungguhan, dan dalam perjalanan ia meninggal dunia.

Tatkala dua malaikat mendatanginya, mempertanyakan bagaimana taubatnya. Akan dibawa ke mana, surga ataukah neraka. Maka diukur jarak hijrahnya antara tempat lama dan baru. Dan ternyata jasad si pembunuh lebih dekat dari tempat yang baru.

***

Di suatu kesempatan, kami bersua kembali. Ia menanyakan hal yang sama, “Shalat Jum'at adalah kewajiban seorang muslim. Saya hadir dengan mengenakan baju koko untuk menutupi tato ini. Tak mengapa kan?”

“Itu tak jadi masalah,” lontar seorang kawan. “Yang jadi masalah jika kita mendatangi dalam keadaan kotor. Kena najis anjing misalnya, itu harus dibasuh tujuh kali.”

Ia mengangguk diikuti sesimpul senyuman.

Dari beberapa hal tentang dirinya, antara shalat dengan tato. Saya menemukan sebuah kesimpulan. Tato, yang membuat dan dibuatkan akan dilaknat. Tetapi menghalangi orang untuk bersegera bertaubat, menuju kebaikan, dan kembali pada Allah adalah kesalahan besar. Dengan mengatakan tato itu menghalangi jarak antara hamba dan Tuhannya, sedang kita tahu Allah lebih dekat dari urat leher kita.

Mungkin seperti ahli ibadah itu, rancu menilik masa lalu. Betapa jahatnya si pembunuh menghilangkan puluhan nyawa. Tetapi ia lupa ataukah tidak tahu, di sana masih ada seberkas cahaya dalam kelamnya masa. Di situ ada sedikit kebaikan di tengah membusuknya keburukan. Dan bukankah kehidupan ditentukan pada akhirnya, tidak pada awalnya?

Dalam kisah si pembunuh, betapa dahsyat pengaruh lingkungan hingga ia diharuskan berhijrah. Mungkin jika kita berada di tengah majelis orang shaleh, tak heran jika kita ikut ketularan ilmunya. Namun ketika terjerembab dalam lingkungan hitam, penuh kriminalitas, bersua dengan pemabuk, penyabung, nyimeng, madon, kuatkah diri kita atau akan terbawa arus.

Kawan bertato dan kroni-kroninya, bukanlah harus disingkiri dan dijauhi, melainkan didekati dengan sentuhan nurani. Bahwa mereka butuh cinta dan perhatian. Kutahu, ia adalah ‘korban’ dari luputnya perhatian dan kasih sayang orangtuanya hingga arus kebebasan yang menerpurukannya.

Orang baik bukanlah orang yang selalu berbuat baik dan tak pernah salah. Orang baik adalah orang yang mau belajar, ketika melakukan kesalahan segera memperbaiki diri.

Suka
syahirman syahril menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eko Prasetyo | Editor Bahasa
Tulisan-tulisan di KotaSantri.com bagus dan sering dijadikan acuan oleh banyak pembaca. Saya memahaminya karena kebetulan juga berkecimpung di media serta punya banyak teman pembaca KotaSantri.com.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1033 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels