|
Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
|
|
why_klt@yahoo.co.id |
|
http://facebook.com/awwibowo |





Senin, 11 Juli 2011 pukul 11:00 WIB
Penulis : Aw Wibowo
Satu detik lalu, dua hati terbang tinggi.
Aku tersenyum menatap layar komputer. Jari-jariku terampil menekan tuts keyboard, lalu kutekan enter.
Klik!
Deretan kata muncul tepat di bawah statusnya. Tak lama kemudian muncul sederetan kata darinya. Sembari tersenyum, aku mulai mengetik beberapa kata lagi. Tak lupa kuselipkan icon smile di akhir kalimat.
Klik!
Ia membalasnya, juga dengan icon smile di akhir kalimat. Senyumku semakin lebar. Ah, rasanya saat ini hatiku sedang bahagia.
Dan bawa ku ke sana; dunia fatamorgana. Termanja-manja oleh rasa dan kuterbawa terbang tinggi oleh suasana.
Sederet kata telah rampung kutulis. Namun, entah kenapa kutekan tombol delete. Rasa-rasanya ada beberapa kata yang kurang pas. Lalu tangan kananku menggerakkan mouse ke atas ke bawah. Kupicingkan mata, membaca lagi barisan komentar. Kutulis beberapa kata lagi sambil tersenyum, masih tak lupa icon smile, kali ini lebar. :D
Klik!
Tak lama kemudian ada balasan darinya. Ada icon smile darinya, sembari mengedipkan mata. ;)
Aku menyandarkan diri pada tembok bisu. Membayangkan dirinya, membayangkan wajahnya. Aha, mungkin saat ini ia juga sedang tersenyum sembari mengetik kata-kata itu di komentar. Aku menggeleng, senyuman ini masih belum surut.
Dari sudut mata, jantung hati mulai terjaga. Berbisik di telinga, coba ingat semua.
Jantungku berdetak lebih kencang. Desiran darah semakin bersiterap. Kucoba mengingat beberapa memori tentangnya. Saat pertama kali berjumpa di dunia maya. Saling sapa, sekedar bertanya kabar, lalu membangun canda dan tawa. Ah, terasa begitu indah. Tapi, dia hanya seorang teman. Ya, hanya teman kan? Tak lebih bukan?
Dan bangunkanlah aku, dari mimpi-mimpiku..
Mungkin hanya teman saja, tapi hatiku sepertinya mengingkari. Seperti ada rasa yang tak biasa kepadanya. Mungkinkah itu? Pastikah dia merasakah hal yang sama juga? Rasa berbunga. Degup dada tak berirama. Atau?
Terengah-engah ku berlari, dari rasa yang harus kubatasi.
Kotak itu masih kosong. Aku belum membalas komentar terakhir darinya. Pikiranku masih melayang tentangnya. Entah kenapa aku menjadi bimbang. Risau. Mungkinkah aku telah jatuh cinta? Atau setidaknya suka kepadanya? Seseorang, hanya dari kata-kata yang sering dia update di status dan catatannya. Dari profil, mungkin juga beberapa fotonya. Juga dari komentar yang kadang singgah di dinding atau statusku. Samakah? Dia merasakan seperti apa yang tengah kurasakan?
Beberapa kata akhirnya kutulis. Masih sama. Ada canda, juga tawa. Namun, hanya canda dan tawa kepada seorang teman maya, tak lebih. Kutekan lagi tombol enter.
Klik!
Agak lama kutunggu balasan darinya. Sembari kutebak rasa yang mungkin hadir di hatinya saat ini. Kemudian sederet kata muncul. Kubaca, kumaknai, dan kurasai. Ya, sepertinya tak salah.
Dan kau menawarkan, rasa cinta dalam hati?
Namun aku merasa bimbang. Bagaimana kalau semua perkiraanku salah. Bagaimana jika ia rasa itu hanya sebatas teman saja. Bukankah seharusnya memang begitu?
Ku tak tahu harus bagaimana untuk raba mimpi atau nyata, dan bedakan rasa, dan suasana dalam rangka sayang atau cinta yang sebenarnya.
Aku memejam. Melepas semua bayangan tentangnya. Mengurai memori-memori yang telah lalu. Kuhirup nafas dalam, bersamaan itu pula kukeluarkan semua perasaan yang masih tertahan. Tetap saja tak bisa. Bayangan-bayangan itu sepertinya terus mengikuti jejak ingatanku.
Sesak aku di sudut maya dan tersingkir dari dunia nyata.
Aku tak tahu lagi. Kadang rasa suka atau bisa jadi cinta, hadir lewat dunia maya. Kadang surut kadang redup. Kadang membayang dan terus saja terkenang. Ah, kuklik pojok kanan atas. Keluar dari akun facebook. Sementara waktu, aku ingin fokus di dunia nyata. Menjalin impian-impian itu, meski kerap bayangan mayanya hadir mengusik ke kehidupan nyata.
Melupakannya! Ah, tidak. Aku hanya sedang tak ingin mengingatnya.
Jangan pernah lepaskan aku, untuk tenggelam di dalam mimpiku.
* Terinspirasi dari lagunya Letto, ‘Sebenarnya Cinta.’
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.