|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|
|
why_klt@yahoo.co.id |
|
http://facebook.com/awwibowo |





Ahad, 2 Oktober 2011 pukul 10:00 WIB
Penulis : Aw Wibowo
Aku bingung. Perkataan Ibu lusa kemarin masih terngiang. Bagaimana aku harus menjawabnya. Lidahku terlalu kelu untuk berucap yang sebenarnya. Di satu sisi aku tahu Ibu mengharapkanku, namun di sisi lain aku tak ingin membohongi suara hati. Aku seperti dihadapkan simalakama, memilih yang terbaik dari dua pilihan yang saling menjatuhkan.
***
“Ibu ingin berbicara kepadamu,” ucapnya dari seberang telepon.
“Tentang perkara apa, Bu,” tanyaku penasaran. Tak biasanya Ibu berbicara seserius ini.
“Menikah,” jawabnya singkat namun tepat menusuk ulu hatiku.
Aku terdiam gamang. Bayangan wajah Ibu yang semakin keriput menghantui rasa bersalahku. Aku tahu Ibu ingin segera menimang cucu. Sampai saat ini pun aku belum mampu menghadiahkannya. Padahal, rekannya ada yang sudah memiliki tiga. Rasa gelisahku semakin menjadi, apalagi aku adalah anak semata wayangnya.
“Usiamu sebentar lagi menginjak kepala tiga. Ibu khawatir kamu betah membujang.”
“Tidak, Bu. Saya sebenarnya ingin sekali menikah, namun Ibu pun tahu saya masih kelabakan di rantauan. Saya takut nanti memberatkan Ibu. Apalagi saya belum menemukan calon menantu buat Ibu.” Inilah jawabanku, setiap kali pertanyaan tentang menikah ia bicarakan. Ibu mendesah. Terdengar suara beratnya di seberang telepon.
“Jadi sebenarnya kamu ingin serius menikah? Ibu punya kenalan kawan lama. Kebetulan dia punya anak gadis yang siap menikah. Barangkali mau, besok Ibu lamarkan bersama Bapakmu.”
“Besok?! Saya minta waktu, Bu.”
“Jadi kamu setuju! Baiklah, Ibu beri waktu kamu tiga hari. Ingat usiamu! Ibu tak ingin kamu menjadi bujang lapuk!”
“Tapi…”
Tut.. tut.. tut.. telepon ditutup. Kurebahkan diri di pembaringan. Tiga hari, terlalu cepat memutuskan ini. Ups! Aku menepuk jidatku. Kenapa tadi tak kutanya siapa dia? Kutekan lagi nomer telepon Ibu, segera tersambung.
“Siapa yang akan Ibu lamarkan untukku?” tanyaku hati-hati.
“Pokoknya kamu sudah mengenalnya,” jawab Ibu mengambang.
“Iya, tapi siapa dia?” Aku semakin penasaran.
“Tiga hari lagi kamu pulanglah. Jangan sampai mengecewakan Ibu Bapakmu!”
Tut.. tut.. tut..
***
Laju kereta ini seakan berjalan lebih cepat dari biasanya. Perasaanku bergemuruh. Pikiran berkecamuk. Aku masih tak percaya diri menghadapi calon istri dan mertua. Kuhela nafas panjang meredakan gelisah ini. Stasiun kecil di kota kelahiran sudah terlihat. Kereta berhenti. Aku tak tahu. Aku salah melangkah atau tidak. Sekelumit perjodohan ini sungguh membebani hati.
Begitu kuketuk pintu, Ibu segera menyuruhku lekas mandi dan merapikan diri. Aku menurut walau badan terasa pegal.
“Sudahlah, tak ada waktu lagi,” ajak Ibu.
“Kenapa berjalan kaki, Bu? Padahal kan ada motor,” protesku.
Ibu dan Bapak menoleh senyum. Kuikuti dengan penuh tanya.
“Lho, kenapa berbelok ke sini? Ini kan rumah Bu Jaya.”
Ibu dan Bapak tak mengindahkan pertanyaanku. Bu Jaya adalah langganan jahitan Ibu. Rumah kami masih satu kampung, hanya beda RW. “Ah, mungkin Ibu ingin sekalian mengambil bahan kainnya,” batinku.
Bu Jaya bersama suami dan anak gadisnya ternyata sudah menunggu kedatangan kami. Aku tak menaruh curiga.
“Jadi maksud kedatangan ke mari untuk melamar putri Bapak dan Ibu, Diah,” ucap Bapak.
Aku terbengong mendengar apa yang barusan terucap. Tak salahkah?! Ibu berbisik sembari tersenyum, “Gimana?”
Aku tertunduk. Malu. Kulirik Diah yang juga bersemu wajahnya. Kuberbisik pada Ibu, “Mau, Bu.”
Diah, adik kelas semasa SMA yang dulu kusuka. Kini akan menjadi belahan hatiku. Cihui...
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.