|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|
|
|
http://aishliz.multiply.com |
|
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz |





Ahad, 2 Mei 2010 pukul 18:00 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
Pandangan mata Ning kembali sayu. Menatap lelaki yang tengah terlelap dengan tubuh tipis tertutup selimut putih. Dadanya naik turun, diiringi napas berat. Cairan infus setetes demi setetes menuruni selang melalui tangan yang makin kurus menampakkan tulang menonjol. Kehadirannya seolah telah menyatu dengan shelter sempit yang terkadang berbau berbagai macam obat.
Ning tak pernah mengerti kenapa penyakit itu menggerogoti Shinsuke, lelaki yang tiga tahun lalu mempersuntingnya. Yang ia tahu, lelaki itu selalu menampakkan wajah pucat dengan tubuh cepat lelah. Terutama saat musim berganti menjadi lebih dingin dengan butiran salju turun, Shinsuke akan sering berbaring dengan panas badan tinggi.
"Tabun kaze kana (mungkin masuk angin)," lelaki itu biasanya akan berkata seolah ingin mengusir kekhawatiran di wajah Ning.
"Kenapa tak periksa ke dokter?" Ning kerap bertanya. Namun selalu hanya senyuman diikuti gelengan kepala sebagai jawaban. Dengan merajuk manja, tangan Shinsuke akan memeluk tubuh Ning dan berkata, "Boku daijou da yo, shinpaishinai de... (Aku nggak apa-apa, jangan khawatir...)." Hingga akhirnya Ning menemukan Shinsuke tergeletak tak sadarkan diri di kamar mandi.
Karma! Selalu lima kata itu menghantui pikiran. Yang menghujat di hati hingga sesak. Menderu batin dengan dengup kencang. Karma yang harus diterima atas semua dosa.
***
Nanang, Desa Ciburial Bogor, 2002
Gerimis baru saja menepis, mendatangkan semilir angin menjelang malam. Menyisakan becek dengan bau tanah garing tercium segar. Dingin menyelusup pada hati lelaki dan perempuan muda yang terduduk pada dipan di ruang bilik sempit. Mata lelaki sesekali menerawang awan yang mulai pekat dari atap rumbianya yang berlubang. Hembusan napas panjang dikeluarkan seolah ingin mengusir penat yang tersimpan.
"Pokoknya aku pengen cerai, titik! Aku tidak mau terus di sini, aku ingin kembali ke Jepang," suara ketus perempuan muda memecah hening.
Keputusan sudah bulat. Perempuan itu tidak ingin hidup sebagai istri kuli bangunan terus menerus. Hidup pas-pasan dengan penghasilan tak menentu. Ia ingin mengejar mimpi-mimpinya. Membantu meringankan beban Emak, juga membiayai sekolah tiga adiknya. Ia tak ingin terus terkungkung dalam kesengsaraan.
Keinginannya bercerai sudah muncul sejak ia masih bekerja di Jepang. Bukan karena agen Sakura yang akan menawarkan kontrak tiga tahun ke depan. Tapi karena ia telah memiliki seseorang yang siap menggantikan kedudukan Nanang, suaminya. Kekasih yang berjanji akan menikahinya jika kembali ke Jepang. Kehidupan baru sebagai istri pegawai elit akan disandang. Tak perlu lagi ia bekerja melayani tamu-tamu di bar. Karena lelaki Jepang itu berjanji akan menjadi bagian hidupnya. Berbagi beban untuk turut menghidupi keluarga Ning di kampung. Ia bagaikan seorang pangeran dengan kuda putih yang siap menjemputnya untuk tinggal di sebuah istana megah.
Mungkin orang-orang akan menganggapnya istri tak tahu diri. Mencibir dan mencemooh. Tapi perempuan itu tak peduli. Karena mereka tak akan pernah tahu mimpi yang tengah dirajutnya.
"Aku ndak akan menceraikanmu, Ning," lelaki itu berkata dengan tatapan tajam menghujam. Meninggalkan perempuan muda dengan wajah cemberut pada balai-balai dipan. Dan kata-kata itulah yang terakhir ia dengar dari lelaki itu. Karena tak ada lagi kata perpisahan selamat jalan, ketika sebulan sesudahnya ia pergi meninggalkan Nanang menuju negeri impian dengan selembar surat cerai.
Perempuan itu tak pernah mau tahu bagaimana akhirnya Uwak Somad bisa mendapatkan surat cerai dari Nanang. Ia tak peduli. Karena hatinya telah puas. Ia bisa bebas berlabuh pada hati Shinsuke, kekasih yang menunggunya. Di akhir perpisahan, Uwak Somad berkata, "Kamu harus siap nduk, suatu saat karma pasti terjadi!"
***
Ning di Awal 2005
Kini karma itu tengah dialami. Mengukungnya dalam belit penderitaan batin. Menyisakan sesak menghujam saat menyaksikan hempasan napas berat lelaki yang membuat dirinya berani mengambil keputusan bercerai. Ning menatap lelaki itu penuh iba, menyesali karma yang telah ia berikan untuk Shinsuke.
"Karma itu tidak ada, Ning, ini hanya cobaan agar lebih dekat ke Gusti Allah. Bertobat dan memohon ampunan itu yang terbaik." Sayup berdengung kembali ucapan Ra beberapa hari yang lalu. Ra, sahabat yang selalu rajin mengunjungi shelter dengan membawa berjuta harapan. Melihat Ra, selalu Ning merasakan ketenangan. Penampilan Ra dengan balutan baju panjang dengan kerudung rapinya membuatnya terasa teduh.
Dari Ra, Ning mendapatkan kekuatan untuk tegar. Bersama Ra pula, ia kini mulai sering mengikuti satu perkumpulan pengajian. Sesuatu yang telah lama Ning tinggalkan sejak bermukim di Jepang. Karena bersahabat dengan Ra pula, Ning memperbaiki pernikahannya dengan Shinsuke secara Islam. Yang selama ini pernikahannya hanya tercatat pada selembar kertas catatan sipil wilayah setempat. Ning bersyukur, Shinsuke bersedia mengikrarkan diri bersyahadat sebelum pernikahan Islam itu dilaksanakan.
Wajah Ra akan terlihat bahagia saat lidah kelu Ning terbata-bata mempelajari buku kecil yang bernama IQRA. Dengan sabar, Ra akan membetulkan setiap huruf hijaiyah yang salah diucapkan. Terkadang Shinsuke yang terbaring di atas kasur bergumam pelan mengikuti ejaan yang diajarkan. Dan yang lebih membahagiakan Ning, dari Ra pula Shinsuke sudah mulai bisa mengucapkan, kata-kata "Bismillaah, Allah, Alhamdulillaah." meski masih dengan lidah kelunya.
"Semua bukan karena aku, Ning, tapi hidayah Allah," begitu selalu Ra katakan. Allah! Sebuah nama agung yang beberapa tahun ini Ning lupakan. Ia ingin meminta pada Allah untuk menghilangkan karma ini. Menyembuhkan Shinsuke. Tapi maukah Allah mendengar do'anya?
***
Ning, Yamanashi-ken, 2006
Satu per satu pelayat mulai meninggalkan pemakaman muslim Yamanashi-ken. Menyisakan seorang perempuan bersimpuh di depan makam dengan mata memerah. Tubuhnya lunglai tepekur. Menatap gundukan tanah yang telah bersatu dengan jenazah. Sesekali tangannya meremas tanah tersebut untuk ditaburkan kembali pada makam.
"Ikhlaskan, Ning! Ia telah pergi dengan tenang."
Ada tangan halus yang menyentuh pundaknya. Berusaha memberi kekuatan. Pelan tangannya menyusup di antara ketiak Ning, seolah mengajaknya untuk segera berlalu meninggalkan tanah merah. Ning menghela napas berat berusaha untuk bangkit. Mimpi-mimpinya telah terkubur bersama jasad Shinsuke. Jalan di hadapannya terasa begitu gelap. Bagaimana ia harus hidup tanpa lelaki itu disampingnya? Bagaimana beban biaya Emak dan adik-adiknya bisa terpenuhi setelah lelaki itu tak ada? Bagaimana dengan nasib jabang bayi yang kini tengah dikandungnya tiga bulan, yang tak akan pernah melihat wajah sang ayah?
Ning menatap sahabatnya, Ra. Tahukah ia beban batin yang kini tengah melandanya? Tiba-tiba kepala Ning terasa pening. Benda yang berada di sekitarnya seolah berputar mengelilinginya. Sedangkan Ra, semakin lama semakin terlihat kecil. Badan Ning limbung, tersungkur dalam gundukan tanah merah. Semua yang berada di depannya menjadi hitam. Ia tak tahu apa yang terjadi. Hanya sayup-sayup terdengar teriakan Ra dengan tangan mengguncang-guncang tubuhnya.
"Allaahu Akbar, Ning... Sadar, Ning... Sadar... Kyuukyuusha, kyuukyuusha yonde kudasai. Kanojo kizetsushita! (Ambulans, tolong panggil ambulans. Dia pingsan!)."
Dalam pandangan menghitam, Ning melihat sekelebat wajah orang-orang di masa lalu muncul perlahan. Sosok lelaki berkulit hitam tersenyum riang mencabut singkong di sebuah ladang sejengkal. Di samping kanannya, seorang anak laki-laki berusia empat tahun tampak meloncat-loncat bahagia. Sedang di pinggir ladang, berdiri mematung seorang perempuan dengan koper besar. Menatap lekat adegan bahagia. Sang perempuan ingin berlari ikut bahagia menikmati hasil ladang, tapi ia teringat mimpi-mimpinya. Yang membuat ia memilih berlalu dari ladang dengan menjinjing koper besar. Sayup-sayup terdengar suara anak kecil berteriak.
"Emaaak... Emaaakkk mau ke mana? Jangan tinggalkan Ujang, Maaakk." Langkah lari anak kecil terdengar berusaha mengejar. Tapi tangan lelaki kekar berusaha mencegahnya, hingga pecah tangisan si kecil menyayat hati. "Emaakkk... Ujang ikuuttt..."
Bayangan menghilang. Tubuh Ning terasa melayang. Beberapa orang mengangkatnya masuk ke dalam sebuah mobil dengan sahutan sirine kencang. Sedangkan satu orang berpakaian putih menempelkan sesuatu yang menyengat pada hidung. Di telinga kanan, suara Ra masih terdengar sayup-sayup, dengan belaian tangan lembut menyentuh kening.
"Allah... Allah... Sudah sadar, Ning? Ini aku, Ra..."
Ning tetap terpejam. Batinnya terasa kosong. Hatinya penuh dengan pertanyaan tak terjawab. "Allah... Di manakah Allah berada? Akankah Allah menolong hambaNya yang penuh limpahan dosa? Akankah Allah menghilangkan beban ini?" Luruhan air mata mengalir dari sisi kedua mata. Terpejam... Ingin rasanya Ning terus terpejam tanpa perlu menyambut hari esok. Tanpa perlu memikirkan semua beban. Tanpa perlu mengingat semua kesalahan yang telah diperbuat pada Nanang, juga pada lelaki kecil yang ditinggalkannya.
Haru no Omoide, teruntuk seorang sahabat, ganbatte...
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.