|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|





Selasa, 2 April 2013 pukul 21:00 WIB
Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan
Mungkin dari sekian banyak keterasingan yang kita alami dalam hidup, keterasingan pada amal-amal shalih kita sendiri itulah yang paling merugikan.
Apa itu keterasingan pada amal shalih? Ia adalah hilangnya esensi dari apa yang kita lakukan saat melakukan amal shalih. Ia adalah hilangnya rasa tunduk, patuh, taat, hilangnya keterikatan hati pada amal shalih yang kita lakukan. Lebih mudahnya, ulama fiqih telah memberi tahu kita bahwa itulah yang dinamakan dengan hilangnya khusyu' dan khudhu.
Saat kita menyampaikan air wudhu ke tangan, kaki, mulut, kita tidak sedang hanya menyampaikan air ke bagian tubuh itu. Namun ada sesuatu yang jauh lebih berarti disana, bahwa kita melakukan itu dengan niat membersihkan hati, berwudhu, membersihkan raga untuk beribadah dan menyembah Allah. Menghadap Dzat yang Maha Hakiki, dan melepaskan semua kepalsuan duniawi.
Demikian pula saat kita melangkahkan kaki ke masjid di pagi hari, kita tidak hanya sedang menuntut tubuh untuk melakukan sebuah rutinitas yang mesti dilakukan tiap hari, namun adalah proses menghadap secara langsung hati kepada Dzat yang paling bertanggung jawab tentang keberadaan kita di dunia ini. Saat kita puasa, bukan hanya kita menahan lapar dan haus, namun adalah proses membawa hati kita pada kondisi yang sama dengan orang-orang yang tidak bisa makan tiap hari, dan dengan demikian kita akan merasakan syukur dan sabar.
Begitulah. Hati menjadi komponen penting yang harus dihadirkan dalam amal-amal shalih. Hati-lah sesungguhnya yang menjadi subjek dalam perputaran siklus amal sholih itu. Bukankah demikian sabda rasul saat ditanya mengapa ia terus menerus sholat hingga kakinya bengkak? "Afalaa akuuna abdan syakuuraa..." Tidakkah aku boleh menjadi hamba yang bersyukur... Bukankah syukur adalah aktifitas hati? Bukankah hanya seorang yang tahu sampai pada kondisi hati seperti apa ia bisa merasakan syukur?
Maka saudaraku, mari kembali tengok bagaimana suasana hati kita saat tiap kali menunaikan amal-amal shalih. Maka mari tengok lagi bagaimana suasana hati kita saat mengusapkan air wudhu ke wajah, bagaimana susasana hati kita saat mengangkat tangan pada takbiratul ikram awal shalat, saat mengambil sajadah dan berangkat ke masjid, saat mengambil nasi waktu sahur, saat merogoh kantong dan memberi pada si miskin, saat tersenyum pada teman yang kemarin membohongi kita, saat berbicara di depan jamaah waktu kultum shubuh, saat menelpon orang tua dan bilang aku kangen rumah.
Ah, bukankah seluruh hidup adalah amal sholih, seluruh langkah kehidupan adalah ibadah? Maka tak ada suasana hati yang dibangun dalam keseluruhan kehidupan itu selain suasana tunduk dan patuh pada Ilahi, suasana khusyu' dan khudhu', suasana keterikatan pada Rabb, pada Dzat yang membuat seluruh kehidupan kita ini mewujud.
Subhanallah walhamdulillah.... Maka mari berdoa agar Allah memberi kita kekuatan untuk terus mendekatkan diri pada Nya. Dalam tiap detik-detik amal sholih dan langkah kehidupan yang kita lalui. Mari menghadirkan kebesaran-Nya dalam tiap detik hidup kita.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.