|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|





Jum'at, 20 Juli 2012 pukul 12:00 WIB
Penulis : Muhammad Hilmy
Kematian mengingatkan kita bahwa yang dibawa pulang ke kubur secara fisik hanya kain kafan. Rumah sesungguhnya di dunia ini, yang lebih lama dihuni dibanding rumah sendiri, adalah tanah berukuran 2x1 meter. Maka, kematian adalah nasihat terefektif tuk ingatkan kita agar tak tamak dan serakah dalam mencari materi, karena itu semua akan ditinggal. Hanya kain kafan dan amal ibadah yang dibawa, bahkan hanya amal ibadah saja yang dibawa.
Ali bin Abi Thalib pernah berwasiat, sesungguhnya yang dimiliki oleh seorang hamba hanyalah apa yang masuk ke perut (makan/minum). Maka apa yang kita miliki saat ini, rumah, uang, istri, anak, baju, sesungguhnya tak kita miliki. Itu hanyalah bayangan semu. Justru itu adalah titipan, dan harus dijaga dengan baik, dirawat, karena suatu saat Sang Pemilik barang titipan tersebut akan meminta kembali.
Cukup kematian saja yang bisa ingatkan kita untuk tak berlebih di dunia nan fana. Sebagaimana orangtua yang sudah menyiapkan dana sekolah untuk anak-anak, sudahkah kita menyiapkan bekal pulang? Bekal pulang yang berupa amal shaleh, infaq, sedekah, shalat, bacaan Al-Qur'an, ilmu yang diamalkan? Mari siapkan sejak sekarang bekal itu. Kalau sempat, mulailah membeli kain kafan dan menyiapkan uang administrasi untuk makam kita kelak, yang berdasarkan cerita-cerita, memakan dana antara 1 s.d. 1,5 juta.
Cukup kematian sebagai nasihat.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Hilmy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.