QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
Alamat Akun
http://vbmaya.kotasantri.com
Bergabung
6 Mei 2009 pukul 19:51 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa Barat
Pekerjaan
Pengajar
Tulisan Febi Lainnya
Tidak Sekadar Epik
14 Februari 2011 pukul 18:00 WIB
Percikan Hikmah dari Lautan Ilmu-Nya
8 Februari 2011 pukul 10:35 WIB
Lebih dari Cinta Penduduk Langit
18 Januari 2011 pukul 18:00 WIB
Kalimat Ajaib Kanak-Kanak
15 Januari 2011 pukul 17:50 WIB
Apa Kabar?
10 Januari 2011 pukul 18:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Sabtu, 5 Maret 2011 pukul 10:00 WIB

Cinta adalah Obatnya

Penulis : Febi Robianti

Alienasi (Pengasingan Diri) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia cetakan ke-3 tahun 1999 memiliki tiga makna. 1) Keadaan merasa terasing (terisolasi); 2) Penarikan diri atau pengasingan diri dari kelompok atau masyarakat; 3) Pemindahan hak milik dan pangkat kepada orang lain.

Mengapa dengan alienasi? Alienasi yang sedikit kubahas ini bukan semacam makhluk asing yang tak terdefinisi seperti UFO atau ET. Seperti yang disebutkan dalam kamus besar di atas, (selain makna yang ke-3) melainkan merujuk pada kondisi pengasingan diri.

Penarikan diri yang sempat kuamati adalah pada keponakanku sendiri. Sering dalam interaksi dengan banyak orang, ia memilih tak terlibat. Dari ujung matanya ia memperhatikan anak-anak lain asyik bermain dan berusaha menyembunyikan keinginannya untuk terlibat. Sesekali ia tak sengaja ikut tersenyum. Mengapa gadis kecil itu memilih sikap untuk mengalienasikan diri? Riwayat pernikahan orangtuanyalah yang membuat ia seperti itu.

Berbagai kemungkinan bisa ditelusuri untuk mencari tahu penyebab seorang anak atau individu mengambil sikap alienasi. Pilihan ini memang bukan pilihan sadar. Sikap ini menurut Freire termasuk ciri orang tertindas. Kaum tertindas ini bisa bermacam- macam, tertindas rezim otoriter, tertindas oleh struktur sosial yang tak adil dan diskriminatif, tertindas karena warna kulit, jender, ras, dan sebagainya.

Apapun yang menyebabkannya, kita dapat mengambil langkah praktis jika mendapati atau menghadapi anak dengan sikap ini. Pertama, jangan panik. Ia sudah paham, bahwa sikapnya itu tak lazim. Namun, ia memilih untuk tak terlibat dalam interaksi sosial karena itulah kondisi yang membuatnya nyaman. Kepanikan hanya akan membuatnya merasa dimusuhi dan tak dimengerti. Padahal, keberterimaannya di komunitaslah yang kita harapkan. Kedua, libatkanlah ia seolah sikapnya itu bukan masalah. Jika ia tak memberikan respon? Teruskan tawaran untuk terlibat. Biarkan ia mulai mengambil bagian terkecil dalam interaksi. Ketiga, kondisikan lingkungan untuk membantu sang anak menyadari, bahwa interaksi dan komunikasi adalah hal yang membahagiakan.

Contohnya ketika acara rihlah kemarin, ponakanku tersayang hanya melipat-lipat kertas yang diberikan mentornya. Tak seperti yang lain, asyik menggambar atau menuliskan perasaannya menggunakan spidol aneka warna. Kuperhatikan, mentornya tak begitu mempermasalahkan pengasingan diri ini. Sebaliknya, ia tetap menghargai respon terkecil yang diberikan anak itu. Walau kertas yang diberikan hanya dilipat bukan dicoret dengan spidol menjadi sesuatu yang bermakna. Tapi, tunggu dulu. Apakah lipatan itu juga tak bermakna? Beberapa menit setelah kutinggal, kulihat ia tersenyum mengikuti gerakan temannya sambil malu-malu. Memperlihatkan gigi geliginya yang tumbuh di sela ruang kosong yang lain. Inilah kebahagiaan sesungguhnya.

Insya Allah dengan langkah di atas, alienasi menjadi pilihan terakhir ketika ia benar-benar merasa terancam. Ketika ia menemukan kenyataan bahwa dunia ini penuh cinta. Perlahan tapi pasti, ia akan menjadi yakin tak ada kondisi yang sangat mengancam sehingga alienasi tak perlu masuk daftar pilihan. Tak perlu tak nyaman pada diri sendiri, tak perlu menjadi orang lain untuk diterima.

Jadi ingat Sheila yang ditulis oleh Torey Hayden. Guru kelas luar biasa ini melibatkan Sheila yang asosial dalam pembelajarannya yang interaktif di kelas yang juga diikuti oleh anak-anak bermasalah lainnya. Tak peduli betapa banyak masalah yang diakibatkan dari keoptimisan tersebut. Ya, keoptimisan dan kesabaran yang berbuah hasil sangat baik.

Saran di atas akan kondisi teralienasi ini pun hadir dari "bincang-bincangku" dengan Hayden. Mempersoalkan berbagai pendekatan yang tak manusiawi dan mencoba langkah yang pernah diterapkan pada Sheila.

Alienasi? Cobalah peka terhadap satu hal ini. Jangan anggap remeh anak atau individu yang telah beranjak dewasa menjadikan alienasi sebagai pilihan sikap mereka. Hindarkan mereka dari ketertindasan ciri kedua, self-depreciation, merasa bodoh, tidak mengetahui apa-apa. Padahal, saat mereka telah berinteraksi dengan dunia dan manusia lain, sebenarnya mereka tidak lagi menjadi bejana kosong atau empty vessel, tetapi telah menjadi makhluk yang mengetahui.

Intinya? Ajaklah mereka tersenyum. Nyatakan pada mereka, "My love grows for you. More everyday." Jadi teringat salah satu dialog di film Juli di Bulan Juni, "Cinta adalah obat dari segala penyakit."

Sumber Bacaan Lain : dilibrary.net

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Febi Robianti sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Meyla Farid | Guru
Isinya sangat bagus dan bermanfaat. Site favoritku untuk saat ini. :)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1262 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels