|
Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
|





Senin, 10 Januari 2011 pukul 18:22 WIB
Penulis : Febi Robianti
Apa kabar diriku? Kata orang aku berubah. Di antara yang tidak kuketahui dengan persis adalah bentuk perubahan itu.
Memang jujur saja, banyak hal yang terjadi dan membuatku berfikir mengenai hal-hal tersebut. Peristiwa yang mengagetkan datang silih berganti seperti seorang tamu yang membutuhkan perjamuan besar. Tapi, belum ada persiapan apa-apa. Tak ada persiapan apa pun, karena ia datang tanpa pemberitahuan. Jika ini bisa diibaratkan kejutan, sungguh kejutan ini bukan termasuk yang menyenangkan. Ah, entahlah. Apakah semua yang terjadi membawaku pada pola bersikap yang baru? Jika ya, tentu hanya kebaikan semata yang kuinginkan.
Berbisik dalam kehirukpikukan, kurapalkan lukisan verbal jiwaku yang lebam :
Ilahi, puji hanya pada-Mu, wahai penguasa hati! Tiada daya, tak juga upaya yang aku miliki untuk menghalau semua dan menjadikan ketenangan kembali di genggamanku. Duhai Rabb, Engkau yang memiliki dan mengetahui jawaban dari semua misteri ini. Ampunkan aku yang masih sangat naif memahami syair cinta-Mu. Kasihanilah aku, wahai Allah. Patrikan dalam jiwaku, bahwa dengan bergantung pada-Mu semua kesudahan akan bertajuk kebahagiaan abadi.
Di penghujung keletihan ini, ingin kuukir lanskap di kaki keampunan-Mu, Allah. Ingin kukekalkan lisanku dengan madah syahadah kebesaran-Mu, Rabbku. Ingin kutepis semua lara dan kecandan yang melemahkan. Ingin kularungkan semua ketakutan.
Di penghujung keletihan ini, rinduku semakin menjadi. Aku ingin pulang ke sebuah tempat penghabisan yang menentramkan —dengan daya yang kupunya dengan upaya yang kubisa.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Febi Robianti sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.