|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|





Sabtu, 18 Desember 2010 pukul 17:20 WIB
Penulis : Febi Robianti
Berikut adalah ringkasan materi yang saya dapat dari menyimak pembicaraan Ustadz Budi dan Bang Aat di Sekolah Alam Ciganjur - Jakarta Selatan. Materi bertopik 'menyiapkan kedewasaan anak'.
1. Akil dan baligh itu seharusnya satu paket, tapi… Akil terkait dengan kesiapan perangkat mental dan akal, sedangkan baligh lebih condong pada perangkat fisik. Seharusnya, ketika perangkat fisik pada diri anak sudah matang, akal dan mentalnya pun telah menjadi dewasa. Maksudnya, jika organ kelamin primer dan skunder sudah matang, cara berpikir dan sikap mental anak juga sudah menunjukkan kedewasaan. Sayangnya, usia kematangan secara fisik kini sudah semakin cepat tetapi kematangan mental dan emosi semakin lambat. Konon, kedewasaan baru dimulai pada usia dua puluh empat.
2. Kiat mendidik anak menuju kedewasaan. Secara umum, ada tiga cara mendidik anak yang biasa diterapkan. Pertama koersif, kedua dialogis, dan ketiga permisif. Cara terbijak adalah dialogis. Kedua pembicara ini saling melengkapi sehingga istilah dialogis bukan lagi 'membicarakan apa pun', tapi memberikan kesempatan untuk memilih konsekuensi dengan ranah sebab-akibat. Ajak anak untuk beradaptasi dengan lingkungan yang memengaruhi pilihannya, bukan kompromi. Insya Allah dengan cara seperti ini konsep diri mereka akan konstruktif. Self image mereka akan meneguhkan self esteem yang (basicly) telah tumbuh.
3. Istilah remaja itu gak ada, lho… Dalam terminologi Islam, tidak ada konsep REMAJA. Islam hanya mengenal istilah anak dan dewasa. Anak ketika ia belum akil baligh, sedangkan dewasa saat hukum mulai berlaku padanya. Istilah remaja dimunculkan Barat untuk menjustifikasi kondisi trans sebagai ketidaksiapan anak-anak mereka memasuki usia dewasa. Psikologi mengakomodir ini. Munculah masalah-masalah baru terkait dengan kewajiban dikenakan hukum dengan ketidaksiapan menerima sanksi. Sering sekali kudengar komentar, "Ah, namanya juga remaja. Wajar, lah…" atau, "Kayak enggak pernah jadi remaja aja." Yang lebih ngeri, "Biarkan aja, deh. Remaja itu masa yang singkat. Jadi, biar mereka menikmatinya."
Bukankah pola pendidikan hanya ada dalam bentuk andragogy dan pedagogy? Adakah model pendidikan trans yang juga selalu trans mengikuti ke-trans-an model terkini?
4. Awasi mereka. Ada indikasi kesalahan pola asuh. Sekali lagi, mengenai komentar 'namanya juga anak-anak'. Akan tetapi, jika anak melakukan kesalahan, "Kamu ini bagaimana, sih. Dikasih tahu susah sekali. Kamu kan sudah besar!" bingung. Anak mengalami kebingungan identitas diri karena mungkin orangtuanya juga rada bingung, mungkin ya? Kalau kata Pak Em Si, "Parenting itu penting."
Bang Aat menyatakan mengenai Under Supervision Adult Hug yang merupakan metode efektif untuk mendewasakan anak tepat pada waktunya. Anggap dan perlakukan mereka sebagai orang dewasa. Tahapan-tahapan yang bisa kita lakukan adalah dengan meneladani jalan parenting-nya Ali bin Abi Thalib. Pada tujuh tahun pertama, jadikan anak sebagai amir atau putra mahkota. Tujuh tahun kedua, ajarkan dan jadikan mereka sebagai asir atau pelayan, tawanan. Tujuh tahun ketiga, perlakukan anak sebagai wazir atau orang kepercayaan. Tahapan ini jika dijalankan dengan baik, insya Allah akan menghantarkan anak menjadi pribadi yang utuh dan matang.
5. Keegoan jangan disikat habis. Individuasi atau keakuan, keegoan cenderung dinilai negatif. Tentu tak sepenuhnya demikian. Keberadaan dan keistiqamahan seorang muslim ternilai dari kemampuannya mempertahankan akidah dengan menyatakan "tidak". Tidak untuk tuhan selain Allah. Katakan tidak untuk jalan kebathilan, dan katakan tidak untuk mencampuradukan dienul Islam dengan thagut.
Ciptakanlah ruang untuk 'aku'. Setelah paham konsekuensi logis dari tindakan yang dilakukan, maka anak siap untuk menjadi dewasa.
6. Jangan bertumpu pada pujian dan hukuman. Setiap anak punya dorongan untuk mandiri dan bertanggung jawab. Jadi, jangan ambil tanggung jawab mereka. Biarkan mereka menyelesaikan dengan kepercayaan yang diberikan dengan sepenuh hati. Jika mereka berhasil, memang itu yang diharapkan. Jika tidak? Jangan hukum mereka karena konsekuensi negatif yang diterima sudah cukup berat. Sudah terjatuh, tertimpa tangga pula.
Begitulah, saudraku. Itu yang bisa saya bagi. Semoga bermanfaat. Memang tidak persis seperti yang disampaikan, saya sudah menambahkan komentar sedikit-sedikit. Semoga tidak mengurangi makna. Mari kita jadikan pendidikan dan generasi Islam lebih baik.
Wallahu a'lam bishshawab.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Febi Robianti sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.