|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|




Sabtu, 2 Oktober 2010 pukul 18:55 WIB
Penulis : Febi Robianti
"Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri."
Anak belajar dari lingkungan. Begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan oleh Dorothy Law Nolte pada awal tulisan ini. Betapa sumbangan lingkungan terhadap perkembangan anak begitu besar dan sangat menentukan. Ketika anak diberikan rangsangan dan respon positif untuk bersikap, berarti ia disediakan media subur untuk berkembang ke arah yang positif pula, demikian sebaliknya.
Rasulullah pun mengajak umat Islam mengembangkan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembangnya penerus generasi ini. Tentu saja dengan mempersiapkan orangtuanya terlebih dahulu. Mereka dikenalkan dengan cara menyayangi dan mendidik buah hati sesuai aturan Ilahi. Perantara wahyu Allah yang terangkum dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah seharusnya menjadi ukuran bagi orangtua zaman kiwari yang menginginkan anaknya menjadi penyejuk mata dan penerus cita.
Adalah guru, sistem pendidikan, media massa, politik, dan lain sebagainya seringkali menjadi kambing hitam dalam berbagai masalah yang menyebabkan putra-putri bangsa ini "gagal". Mungkin ribuan analisis kesalahan dan penyebab hancurnya generasi muda dilakukan di seluruh dunia. Apakah membuahkan hasil? Memberikan dampak perubahankah yang demikian itu?
Satu solusi yang sangat sederhana yang harus diselenggarakan secara massal di seluruh pelosok planet ini adalah MENJADI TELADAN. Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan segenap kaum muslimin untuk membentuk pribadinya sebelum memerintahkan orang lain berbuat kebajikan.
Seorang ibu yang memiliki akhlak santun, muamalah terjaga, ibadah yang teratur menyuguhkan makanan jiwa bagi anak. Tindakan yang demikian lebih efektif, lebih membuahkan hasil, dibanding ceramah mengenai akhlak, muamalah, dan ibadah. Namun, lingkungan di luar kita seringkali tidak sejalan dengan misi yang coba diterapkan. Mengenai hal ini, tepatlah kiranya apabila kita meyakini bahwa perubahan individu akan memberikan dampak pada perubahan tingkatan komunal. Artinya, jika kita berusaha untuk merubah diri kita, keluarga kita, secara sosiologi akan menyebabkan (minimal) tetangga dekat kita pun berubah. Tentu saja perlahan-lahan, bertahap. Bukankah untuk merubah diri sendiri kita juga butuh waktu?
Wallahu a'lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Febi Robianti sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.