HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://vbmaya.kotasantri.com
Bergabung
6 Mei 2009 pukul 19:51 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa Barat
Pekerjaan
Pengajar
Tulisan Febi Lainnya
Apa Kabar?
10 Januari 2011 pukul 18:22 WIB
Rumpun Duri
22 Desember 2010 pukul 22:45 WIB
Menyiapkan Anak Menuju Kedewasaan
18 Desember 2010 pukul 17:20 WIB
Memaknai Rasa Tak Nyaman pada Orang Lain
13 Oktober 2010 pukul 18:35 WIB
Dibutuhkan Contoh
2 Oktober 2010 pukul 18:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Sabtu, 15 Januari 2011 pukul 17:50 WIB

Kalimat Ajaib Kanak-Kanak

Penulis : Febi Robianti

Saya pernah membaca ada orangtua yang selalu ingin mendokumentasikan celoteh anaknya. Siapakah itu? Mbak Helvy Tiana Rosa terhadap Faiz. Mungkin jika semua orangtua begitu menghargai anak seperti halnya beliau, maka lahirlah generasi yang mampu mengembangkan pribadinya dengan maksimal.

Ini saya kutipkan beberapa kalimat dalam penggalan dialog seorang anak dengan ibunya. Anak ini anak tunggal yang kelahirannya ditunggu selama enam tahun. Perbincangan ini berlangsung ketika anak putri ini berumur lima tahun.

"Ibu."
"Ya."
"Ayang kan tidak punya kakak dan adik."
"Terus?"
"Ibu sudah tua. Ayah juga. Lihat, rambut ibu sudah banyak ubannya."
"Nanti kalau Ayang Pi SMA, ayah dan ibu pasti tambah tua. Terus meninggal."

Sang ibu terdiam mendengar kalimat tadi.

"Kita di Lampung. Jauh dari Nenek, dari Bunda. Jauh dari saudara-saudara. Ayang sama siapa?"

Ibunya hanya menunggu kalimat-kalimat ajaib yang biasa keluar dari mulut anaknya tersayang.

"Ibu. Do'akan Ayang yah. Ayang mau cepat nikah kalau sudah besar. Biar kalau ibu sudah tua, ada yang tungguin. Kalau ayah dan ibu meninggal, Ayang ada yang temenin."

Dialog yang tak dinyana itu membuat kita merasa tak mengenal arah pembicaraan kanak-kanak. Pengamatan yang sederhana melahirkan semangat luar biasa dalam diri mereka. Tak takut akan konsekuensi, seperti halnya orang dewasa. Jatuh? Menangis sebentar lalu berlari lagi. Sederhana.

Atau, SMS-nya semester lalu tentang ajakan untuk ke rumahnya.

"Kenapa yang diajak hanya teteh?"
"Yang paling Islami."

Tebaklah apa yang ada dalam pikiran si kecil.

"Teteh, kenapa mukanya seperti itu? Teteh sedih, ya?"

Hmm… Inilah yang dinamakan kecerdasan emosi. Saya yakin semua orang punya bekal dari sananya seperti ini. Kalau kemudian kita bertemu dengan orang yang susah merespon atau terkesan tidak peka, itu karena kecerdasan alaminya untuk kontak dengan orang lain dan lingkungan luar tidak tersalurkan. Dihambat. Entah dengan sengaja atau tidak.

Akhir kata, jika kita ingin melihat kedalaman makna, tataplah mata si kecil. Akan kita temukan bahasa yang jujur dan keinginan untuk menjadi lebih baik.

Suka
De Wi menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Febi Robianti sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eni Sumartini | Dosen Keperawatan
Alhamdulillah, tulisannya baik, semoga jadi amal shaleh yang tidak terputus. Amin.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1222 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels