HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://dayat_nst.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 21:55 WIB
Domisili
Deli Serdang - Sumatera Utara
Pekerjaan
Guru
Aku adalah orang yang sedang belajar membaca dan menulis, bekerja sebagai Staf Pengajar di Islamic International School Darul Ilmi Murni (IIS DIM) Medan dan MTs Muallimin UNIVA Medan.
Tulisan Rahmat Lainnya
Kamu Cantik dari Dalam
2 Agustus 2012 pukul 13:00 WIB
Stop Kenikmatan Sesaat
27 Juli 2012 pukul 12:00 WIB
Sahabat Terbaik Hanya Al-Qur'an
25 Juli 2012 pukul 23:30 WIB
Nasehat Al-Ghazali untuk Murid dan Guru
21 Juli 2012 pukul 14:00 WIB
Ke Lain Hati
15 Juli 2012 pukul 11:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Cermin

Selasa, 14 Agustus 2012 pukul 14:00 WIB

Wanita yang Ingin Taubat

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Alkisah, datang seorang wanita ke rumah Rasulullah SAW. Ia mau menceritakan perihal dirinya yang ingin bertaubat, tapi masih malu.

“Ya Rasulullah, aku telah melakukan salah satu dari tujuh dosa besar yang kau sabdakan,” kata wanita tersebut.

“Taubatlah kepada Allah,” jawab Rasulullah SAW.

“Aku malu pada bumi. Ia mengetahui setiap kali aku berbuat dosa. Kabarnya, di hari kiamat kelak dia akan menjadi saksi atas perbuatan zhalimku. Aku malu.”

“Ia tak akan menjadi saksimu. Karena Allah SWT berfirman, “Pada hari itu bumi diganti dengan bumi yang lain.” (QS. Ibrahim [14] : 48).

“Tapi langit yang berada di atasku juga mengetahui dan dia juga bakal menjadi saksiku nanti di akhirat. Aku malu, ya Rasul.”

Nabi SAW pun tetap terus memotivasinya dengan segera bertaubat dan menyebutkan firman Allah SWT, “Langit akan dilipat. Karena Allah SWT berfirman, ’Hari itu kami melipat langit seperti melipat lembaran kitab-kitab.’ (QS. Al-Anbiya’ [21] : 104).”

“Tapi, para malaikat pencatat amal telah menulis dosa-dosaku dalam buku catatan amalku.”

“Sesungguhnya kebaikan akan menyingkirkan keburukan, (QS. Hud [11] : 114),” jawab Rasulullah. Belum sempat wanita itu berbicara, Rasulullah SAW kembali bersabda, ”Orang yang taubat itu seperti orang yang tak memiliki dosa.”

“Tetapi para malaikat berhenti saat menyaksikan amal burukku?”

“Jika seorang hamba bertaubat kepada Allah dan Allah menerima taubatnya, maka Dia menjadikan malaikat pencatat amal lupa dengan apa yang telah ia kerjakan di masa lalu.”

Perempuan tersebut pun bertanya lagi kepada Rasulullah SAW, tapi kali ini dengan menggunakan firman Allah, “Hari itu lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi dengan apa yang telah mereka lalukan.” (QS. An-Nur [24] : 24).

Nabi SAW menjawab, “Allah berfirman kepada bumi dan seluruh anggota tubuhnya, ‘Sembunyikanlah! Jangan kau ungkapkan kejelekannya selama-lamanya.’.”

“Benar. Semuanya menjadi hak orang yang bertaubat. Hanya saja tetap gentar pada hari kiamat dan malu ketemu Allah SWT. Bagaimana aku mengatasinya? Apalagi salah satu sabdamu bernada, ”Pada hari kiamat orang yang berdosa akan menyebutkan dosanya. Lantas ia malu kepada Allah. Keringat menetes karena malu. Air keringat itu bisa jadi akan sampai ke lututnya, ke pusarnya, atau ke kerongkongannya.”.”

Nabi SAW bersabda, “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah hari tersebut jangan melupakannya. Taubat dan mendekatkan dirilah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.”

Kisah ini menjadi cermin. Karena setiap kali kita berbuat dosa, bukan hanya Allah SWT yang melihat, tapi tanah, langit, dan ciptaan Allah yang lainnya juga mengetahui kita berbuat dosa. Maka wajar bila wanita tersebut merasa malu. Dia takut di akhirat disebutkan satu persatu dosanya. Padahal, ia telah taubat.

Pertanyaan demi pertanyaan wanita tersebut bukanlah menunjukkan dia tidak mau bertaubat. Tapi, ia merasa malu. Malu yang dipikirkan wanita ini mengajarkan bahwa ketika berbuat dosa ternyata ada ciptaan Allah yang lainnya mengetahui. Meski bukan dari jenis yang sama. Ia merasa tak nyaman bila nanti di akhirat, ciptaan Allah tersebut membeberkan dosa-dosa yang pernah dikerjakannya.

Meski demikian, Rasulullah SAW telah menjelaskan, sebesar apapun dosa seseorang, jika Allah menerima taubatnya, maka akan ‘diputihkan’ segala dosa yang pernah dikerjakannya di masa lalu. Sehingga yang layak dipikirkannya adalah, amal ibadah saat ia taubat dan masa-masa yang bakal dilaluinya hingga nyawanya dicabut.

Suka
Eka Mirnia menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aryani | Karyawan Swasta
Salam kenal buat semua teman-teman penghuni KotaSantri.com. Sempat tau situs ini dari beberapa artikel yang dikirim oleh teman ke inboxQu. Tetapi, setelah dibuka banyak yang berguna buatQu. Semoga terus bermanfaat bagi sesama.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1381 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels