|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|





Ahad, 15 Juli 2012 pukul 11:00 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
Revo mencibir keras seperti orang mengejek sambil lalu memindahkan saluran tivinya ketika iklan Partai Demokrat mengklaim bahwa SBY telah membuat perubahan selama menjabat Presiden. Cowok berambut keriting itu bukanlah pembenci SBY. Tapi, ia benci ketika Partai Demokrat mengklaim kesuksesan pemerintahan SBY seperti olahan tangan mantan menteri era Megawati itu sendirian. Jasa para menterinya yang membantunya hampir lima tahun seperti tidak dinilai.
Sambil mencari saluran tivi yang seru dan layak tonton, ia menekan tombol lima yang merupakan saluran SCTV. Di pagi itu, ada acara Inbox yang sedang menampilkan grup Band Elkasih menyanyikan lagu “Kau Tigakan Cintaku”. Sambil menikmati lagu ini, entah kenapa ia teringat dengan Jusuf Kalla, wakil Presiden RI saat itu. Dipahaminya lirik demi lirik yang dinyanyikan group band Elkasih. Spontanitas ia menjerit kencang, “Jusuf Kalla cocok menyanyikan lagu ini.”
Papanya yang sedang membaca tabloid Indonesia Monitor edisi 34 di ruang tengah cukup terkejut, “Vo, ada apa sih? Kok berisik sekali! Dengerin lagu kok bawa-bawa namanya Jusuf Kalla.”
“Ini, Pa. Lagu Elkasih yang judulnya “Kau Tigakan Cintaku”, menurut Revo cocok dinyanyikan Jusuf Kalla.”
“Kok kamu berani bilang gitu?” tanya papanya penuh heran.
“Gimana enggak, Pa? Coba deh Papa dengar baik-baik lirik reff-nya, “Aku tertipu kediamanmu. Yang kuanggap semuanya baik-baik saja. Ku tak menyangka di belakangku kau tigakan cintaku yang hanya kepadamu.” Nah, coba deh Papa liat di tabloid Indonesia Monitor edisi 33, ada berita tentang SBY bakal melupakan JK. Ada sinyal kalau SBY bakal ke lain hati. Padahal, JK itu kan sudah serius banget ingin tetap bersama SBY membangun bangsa ini lima tahun lagi.”
“Tapi, Vo. Itu kan masih berita. Masih serba kemungkinan. Mana ada yang bisa jamin kalau mereka bakal bersama lima tahun mendatang,” jawab papa sambil membawa teh hangatnya mendekati Revo.
“Pa, kalau menurut Revo. JK itu hanya dimanfaatin saja saat ini. Mirip kayak pisang gitu, Pa. Kalau isinya bagus, diambil. Kalau jelek, dibuang. Dan parahnya lagi, kulitnya pun dianggap nggak bermanfaat lagi.”
“Kok JK disamakan ama Pisang. Nggak boleh gitu, Vo!” papa Revo mulai membolak-balik kembali lembaran tabloid Indonesia Monitor.
“Pa, Revo bukan bilang JK itu pisang. Tapi, nasibnya JK itu kan kayak gitu. Liat deh, Pa. Waktu BBM dinaikkan, siapa sih yang menghadapi massa? Jusuf Kalla kan. Tapi, ketika menurunkan BBM, kok SBY sendiri yang bilang, Jusuf Kalla-nya nggak diikutkan. Bukan itu saja, Pa. Setelah melihat syarat untuk menjadi pemenang pemilu cukup berat, Partai Demokrat yang mengusung SBY kok tiba-tiba menghina Golkar dengan mengatakan bahwa Golkar hanya akan mendapat suara kecil. “
“Wah, anak Papa kok sudah mahir politik ya. Kamu belajarnya di mana, Vo?” canda papanya untuk menetralkan suasana.
“Pa, sudah saatnya tuh anak muda ikut memikirkan bangsa. Revo merasa miris saja kalau sudah tua masih bernafsu meraih jabatan. Nah, SBY itu menurut Revo cocoknya nggak usah mencalonkan diri jadi Presiden lagi. Beri kesempatan kepada yang muda. Kan masih ada Andi Malarangeng tuh di partai Demokrat. Masalah wibawa, kan nggak jauh beda dengan SBY.”
“Terus, kamu nggak setuju SBY jadi presiden lagi?”
“Itu sih haknya SBY, Pa. Aku kan hanya komentar. Maunya kalau memang ingin tampil lagi, jangan banyak-banyak berjanji. Jangan menganggap keberhasilan itu milik sendiri. Dan juga jangan sampai mengkhianati kawan donk. Papa liat aja sendiri, JK sudah berusaha mati-matian membela SBY. Bahkan, JK nggak malu membuktikan pembelaan itu di hadapan rekan-rekannya di Partai Golkar. Sekarang terdengar isu SBY bakal meninggalkan JK dan beralih ke Sri Mulyani, menteri keuangan yang merangkap Plt menteri perekonomian.”
“Nggak masalahkan kalau Sri Mulyani mendampingi SBY. Sama-sama pintar masalah ekonomi kan? Emang kamu melihat ada perbedaan antara JK dan Sri Mulyani, Vo?”
“Menurut Revo, tentu ada, Pa. Di antaranya, keuangan international seperti IMF, World Bank akan begitu senang jika SBY duet dengan Sri Mulyani. Karena Sri Mulyani itu kan tipe orang text book, Pa. Langkah-langkah yang dilakukannya mudah terbaca. Beda sekali dengan JK, Pa. Dia itu orang yang punya banyak ide, yang menurut perekonomian International cukup berbahaya. Coba deh Papa perhatikan, SBY duet dengan JK, keuangan Internasional seperti IMF kurang begitu berhasil menancapkan pengaruhnya di Indonesia. Keuangan Internasional tidak begitu banyak membentuk pencitraan.”
“Wah, anak Papa hebat juga ya analisis politiknya. Papa jadi bangga punya anak seperti kamu,” sanjung Papanya sambil meneguk teh hangat.
“Menurut papa, SBY bakal tega nggak meninggalkan Jusuf Kalla?”
“Ya, semua itu bisa saja terjadi. Tapi, kalau SBY berpisah sama JK, Partai Demokrat yang mengusung SBY jadi presiden harus bekerja keras, Vo.”
“Maksudnya bekerja keras gimana, Pa?” tanya Revo kembali dengan antusias seakan-akan komentar Papanya lebih menyenangkan dari mendengarkan lagu Gelora Asmara.
“Kalau dengan Golkar, Partai Demokrat bakalan mungkin mendapat suara lumayan lebih tinggi dari partai lain, karena Partai Golkar itu partai lama. Tentunya, masih banyak simpatisan yang bakal memilihnya. Kalau Partai Golkar dan Partai Demokrat “bercerai”, paling tidak SBY dan Partai Demokrat membutuhkan tiga partai tengah untuk mendapat tambahan suara agar memperoleh tiket di Pilpres 2009. Paling tidak, dapat sepuluh persen suara dari partai lain. Itupun jika perolehan suara Partai Demokrat masih seperti pemilu 2004 yang lalu.“
“Kalau gitu, kudunya SBY itu memikirkan khasiat JK, ya kan, Pa? Soalnya kalau sudah salah pilih, nanti menyesal. Karena nggak akan mungkin lagi bisa bersama.”
“Revo, kamu kok kayaknya menganggap mereka kayak suami-isteri. Ini politik, Vo. Yang namanya politik itu hasratnya hanya ingin menang,” jawab Papanya sambil berjalan ke dapur untuk menaruh gelas tehnya yang sudah habis.
Catatan�:�Cerpen ini dibuat pada 2009, menjelang Pilpres. Dimuat ulang sebagai bahan renungan menjelang Pilpres 2014.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.