|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|





Sabtu, 21 Juli 2012 pukul 14:00 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
Tahun ajaran baru dalam dunia pendidikan telah kembali digelar. Tentunya, memasuki tahun ajaran tersebut sangat penting bagi murid dan guru untuk memiliki semangat dan motivasi yang baru. Karena dua hal tersebut yang menjadi ‘rel’ untuk terjalinnya komunikasi yang baik dan tercapainya target yang diinginkan. Lebih dari itu, hubungan guru dan murid akan tercipta tak ubahnya hubungan ibu dengan anaknya. Hubungan yang bukan hanya didasari atas kesedian mengajar dan ‘memindahkan’ ilmu pengetahuan. Tapi lebih dari itu, di dalamnya juga harus ada kesedian guru untuk mendidik, melatih, merawat, dan menjaga perkembangan moral dan agama sang murid dengan kekuatan cinta yang bersifat afektif.
Jika ingin meraih cinta ‘sejati’ guru terhadap muridnya maupun sebaliknya, adalah dengan mempelajari trik dan semangat para tokoh yang pernah menjadi guru dan murid. Ibrahim Mudhwah al-Almaa’I memaktubkan di dalam kata pengantar bukunya “ ‘Indama kana al-Kubbaru Talamidzatan”, dengan belajar bagaimana cara para ulama dan pemikir muslim dalam menuntut ilmu, baik dalam belajar, bergaul, dan menghormati guru hingga cara bertutur kata kepada guru, akan memberikan pengetahuan dan semangat baru bagi murid.
Namun, menurut hemat penulis, mempelajari cara para ulama, tokoh dan pemikir muslim dalam belajar tidak hanya penting bagi siswa, tapi juga bagi guru. Agar guru juga bisa memberikan kenyaman terhadap siswa, ketika ada yang bertindak atau meniru langkah tokoh yang dijadikannya sebagai panutan. Dan inilah yang, akhirnya, menjadi penyebab lahirnya guru yang penuh semangat cinta serta memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam. Karena ia tidak mudah emosi ketika siswanya mempunyai ‘hasrat’ ingin tahu dan ‘suka’ berdiskusi, tapi malah mampu memberikan penjelasan, dan solusi yang jelas dan terperinci.
Di antara para tokoh yang layak menjadi panutan adalah imam al-Ghazali. Karena ia merupakan salah seorang pemikir muslim yang memiliki kejeniusan yang luar biasa hingga disematkan gelar Hujjatul Islam. Bahkan, buku “Ayyuhal Walad” yang dikarangnya ‘mengusung’ pesan-pesan untuk para murid. Jika ditelusuri alasan mendasar kenapa buku tersebut dikarangnya, tak lain atas permintaan salah seorang muridnya yang merasa resah dan lelah selama bertahun-tahun belajar bersamanya, tapi tidak mengetahui ilmu mana yang bermanfaat untuk dirinya sebagai wahana meraih hidayah Allah.
Menurut hemat penulis, setelah membaca kesuluruhan isi buku, karya imam al-Ghazali tersebut layak juga dibaca oleh para guru, karena di dalamnya tersingkap tentang hakikat pendidikan. Yaitu, proses pendidikan yang dilakukan oleh sang guru bukan sekedar transfer pengetahuan, melainkan juga pembentukan karakter murid menjadi anak yang memiliki akhlak dan kepribadian teladan dalam kehidupannya. (Islah Gusmian, 2008). Karena itu, sebagai muslim yang taat, imam al-Ghazali kerap menjadikan sosok Rasulullah sebagai rujukan utamanya, baik saat ia masih menjadi murid dan saat ia menjadi guru. Dengan paradigma tersebut, imam al-Ghazali, tampaknya, menjustifikasikan sosok yang layak menjadi guru adalah sosok yang telah meresapi energi cahaya kepribadian Muhammad SAW.
Dari kepribadian Rasulullah tersebut, imam al-Ghazali tak luput menjadikan nasehat pertamanya dalam buku “Ayyuhal Walad” dengan menuliskan, “Jika sampai kepadamu nasehat yang bersumber dari risalah Rasulullah tak perlu ragu terhadap nasehat tersebut. Jika nasehat itu belum sampai, katakanlah apa yang telah kucapai selama ini?” Nasehat ini, konkritnya, lebih didasari karena Rasulullah tidak akan pernah berbicara dengan hawa nafsunya (QS. An-Najm : 3-4).
Selain itu, esensi yang dapat dipetik dari nasehat di atas jika murid telah mempelajari bagaimana cara dan sikap Rasulullah dalam menerima wahyu, layak bagi murid untuk menirunya ketika ia mendapatkan ilmu dari gurunya. Dicatat di dalam sejarah, sebelum wafat, Rasulullah SAW selama Ramadhan dua kali khatam Al-Qur’an di hadapan Jibril. Tak hanya itu , Rasulullah juga senantiasa mengamalkan apa yang disampaikan Jibril kepadanya. Sehingga ketika ditanya kepada Aisyah RA, bagaimana akhlak Rasululllah? Dengan tegas ‘Aisyah menjawab, “Kanaa rasululullaahi khuluquhu Al-Qur’ an” —Sesungguhnya akhlak Rasul adalah Al-Qur’an”. Artinya, seyogyanya murid apabila mendapatkan ilmu hendaklah segera mengamalkan ilmunya. Jika benar menjadikan Rasulullah SAW sebagai tauladan, tentunya layak meniru langkah dan geraknya.
Hal senada juga harus dilakukan oleh guru. Artinya, posisi guru –jika dilihat dari tugasnya-- sealur dengan Jibril. Sama-sama menyempaikan pesan. Karena itu, jika Jibril mengajak Rasulullah SAW untuk melakukan tadarus Al-Qur’an, tentunya guru juga selalu mengajak muridnya untuk selalu mengulang pelajaran. Sehingga kesan tanggungjawab benar-benar ‘penuh’ dimiliki guru, bukan lagi kesan ‘melepaskan beban’. Intinya, agar ‘amanah’ ilmu yang disampaikan benar-benar melekat dan bermanfaat.
Nasehat kedua yang disampaikan Imam al-Ghazali adalah, “Tanda-tanda kebencian Allah terhadap seseorang adalah ketika ia menyia-nyiakan waktu melakukan hal-hal yang tidak berguna.” Artinya, imam al-Ghazali berpesan tentang pentingnya memaknai waktu. Karena manusia hidup di dunia ini tak lepas dari gugusan ruang dan waktu. Itulah sebabnya, eksistensi keberadaan manusia menjadi berjarak dan terbatas karena waktu. Sekalipun setiap minggu mengalami hari yang sama, tapi tetap saja Jum'at hari ini jelas berbeda dengan Jum'at yang akan datang, meskipun sama namanya.
Oleh sebab itu, dalam belajar setiap murid harus mempunyai potensi ‘sadar waktu dan sadar ruang’. Potensi ‘sadar waktu dan sadar ruang’ akan menghantarkan kepada keyakinan bahwa kelak akan ada masa ujian dan kenaikan kelas. Siapa yang ‘sadar waktu dan sadar ruang’ akan mampu menikmati kelas atau tingkat selanjutnya, begitu pula sebaliknya. Bahkan, murid yang ‘sadar waktu dan sadar ruang’ akan berpotensi menjadi murid yang berprestasi dan unggul.
Demikian juga halnya dengan guru. Dengan potensi 'sadar waktu dan sadar ruang' akan mampu menjadi pendidik yang melahirkan generasi yang unggul. Tak hanya itu, waktu yang dilalui selama ini, di dalam kegiatan belajar-mengajar, benar-benar berguna dan lepas dari ‘kungkungan’ kebencian Allah terhadap hamba-Nya yang tidak menghargai waktu. Intinya, dengan kepiawaian memaknai waktu akan melahirkan nilai kualitas hidup dan kualitas amal, “Siapa yang (kondisi) hari ini lebih baik dari kemarin,” kata Nabi SAW, ”dia beruntung. Siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dia tertipu. Dan siapa (kondisi) hari ini lebih buruk dari hari kemarin, dia terkutuk.”
Nasehat ketiga yang disampaikan Imam al-Ghazali adalah, “Nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya. Bagi orang yang mengikuti desakan nafsunya, nasehat akan terasa pahit. Ia cenderung lebih menyukai hal-hal yang dilarang agama; apalagi bagi yang masih berusia muda yang cenderung menyia-nyiakan waktu untuk mencari kebesaran dan kemegahan duniawi. Mereka mengira, tanpa tindakan nyata, ilmu pengetahuan akan mampu membawanya kepada kebahagiaan dan keselamatan. Inilah keyakinan para filosof. Subhanallah! Mereka tidak sadar bahwa ilmu pengetauhan yang telah diamanatkan kepadanya harus diamalkan. Bila tidak, ilmu itu hanya akan memperberat siksa yang ditimpakan kepadanya. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Seberat-berat siksa pada hari kiamat nanti adalah ilmuwan yang tidak menabur nilai manfaat dengan ilmunya.”
Pada nasehat ketiga ini, imam al-Ghazali ingin menyampaikan kepada guru dan murid akan eksistensi ilmu sebagai pelita agar dalam menjalani hidup ini dapat bergerak dengan benar. Karena itu, disematkan nasehat bahwa mengamalkan ilmu pengetahuan yang dimiliki tidak hanya dengan cara mengajarkannya saja, tapi sekaligus mewujudkannya dalam tindakan. Sehingga pengamalan ilmu bukan hanya sebagai bentuk latihan pikir atau olah akal. Lebih dari itu, pengamalan ilmu selalu ada dalam gerak hidup di setiap waktu dan tempat. Di sinilah ilmu akan menuai makna, sehingga orang yang mengamalkan ilmu tidak hanya dikatakan ‘alim, tapi juga ‘amil.
Intinya, dengan mengamalkan ketiga nasehat dari beberapa nasehat imam al-Ghazali yang termaktub di dalam kitab “Ayyuhal Walad” akan melahirkan eksistensi kedirian murid dan guru yang ditentukan oleh amal perbuatan mereka terhadap ilmu yang dimiliki. Karena, jika ditilik, orang-orang yang namanya ‘harum’ di dalam sejarah tak lain dikarenakan mereka telah membangun eksistensi kedirian di atas amal baik. Sangat layak untuk merenungkan firman Allah SWT, “Jika kamu berbuat baik, maknanya sama dengan berbuat baik terhadap dirimu sendiri. Sebaliknya, jika kamu menyakiti orang lain, sesungguhnya kamu menyakiti dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra ‘ [17]: 7).
Wa’allahu a’lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.