|
QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
|
|
|
nailasyafiraq |
|
nailasyafiraq@yahoo.com |





Senin, 2 Desember 2013 pukul 19:00 WIB
Penulis : Nia Ummu Alif
Senyum kebahagiaan terpancar di wajahku dan ayahmu, tatkala seorang dokter memberitahukan kepada kami, bahwa saat ini aku sedang mengandung. Kandunganku baru berusia 3 minggu. Nak, janin yang ada dalam rahimku adalah dirimu.
Tatkala kandunganku memasuki usia 3 bulan, aku hanya terbaring di atas tempat tidurku, tubuhku mulai melemah, karena tak mau makan. Setiap apa yang aku makan, selalu kumuntahkan kembali. Terkadang, aku harus ijin tak masuk kerja karena hal ini. Ayahmu, sosok laki-laki yang selalu setia dan sabar menghadapi kondisiku. Ia selalu memotivasi semangat hidupku. Kesehatanku akhirnya berangsur-angsur membaik dan akupun bisa makan dengan normal kembali.
Setiap hari, seusai kutunaikan shalat, selalu kubaca ayat-ayat Tuhanmu sambil kuelus-elus perutku. Aku berharap, kelak ketika kau telah terlahir ke dunia, ayat-ayat Tuhanmu tak asing lagi di telingamu. Beberapa menit dalam setiap hariku, selalu kusempatkan membaca cerita-cerita untukmu. Cerita yang sering kubacakan adalah sejarah hidup Rasulullah SAW. Nak, aku berharap ketika engkau telah terlahir ke dunia, Rasulullah menjadi teladan dalam setiap langkah hidupmu, bukan orang-orang kafir yang tak jelas agama dan akhlaknya.
Ayahmu adalah sosok laki-laki yang baik akhlaknya. Ia selalu mempergauliku dengan cara yang baik. Selama pernikahan kami, tak pernah ia membentak dan memarahiku. Setiap kali kami akan berpisah, kucium tangannya dan ia selalu mendo'akan kebaikan untukku. Ketika ayahmu terlelap dalam tidurnya karena seharian bekerja, selalu kukecup keningnya dengan lembut, dan kudo'akan untuknya, “Ya Allah, sayangilah suamiku, jagalah dan lindungilah ia, sungguh aku menyayanginya karena-Mu.” Nak, aku bersyukur kepada Allah, bahwa aku tak salah memilihkan ayah untukmu.
Ketika kandunganku berusia delapan bulan, aku benar-benar merasakan kelelahan. Terkadang ketika akan tidurpun susah, semuanya jadi serba salah. Tapi aku ikhlas menjalaninya, karena aku hanya mengharapkan keridhaan Tuhanmu.
Ketika detik-detik akan melahirkan, aku bisa merasakan kecemasan yang menyelimuti ayahmu, meski ia selalu berusaha menyembunyikannya. Ia selalu memberikanku semangat dan membuatku tegar dalam menjalani proses kelahiranmu. Beberapa jam kemudian, kami dapat mendengarkan suara tangisan pertamamu. Nak, saat itu dirimu adalah sosok bayi mungil yang masih merah dan tak berdaya. Kami bersyukur pada Allah bahwa engkau terlahir dengan sempurna.
Nak, saat dirimu mulai beranjak tumbuh, tangismu dan senyummu menjadi penyejuk jiwa kami. Saat engkau mulai rewel, karena inginmu yang tak segera kami tunaikan, kami tetap bersabar menghadapi sikapmu.
Nak, ketika usiamu telah beranjak dewasa, dan kamipun telah lanjut usia, pergaulilah kami dengan cara yang baik. Suatu saat nanti, ketika rasa jengkel dan marahmu mulai menyelimuti hatimu karena menghadapi sikap kami, bacalah surat dariku ini, nak. Semoga rasa jengkel dan marahmu terlebur dalam lautan kesabaranmu menghadapi kami.
Nak, ketika suatu saat nanti, aku atau ayahmu yang terlebih dulu menghadap Tuhanmu, peliharalah yang masih ada dengan senantiasa mengharapkan keridhaan Tuhanmu melalui keridhaan ayah atau ibumu. Ingatlah perkataan Rasul kita, nak.
“Sungguh rugi, sungguh rugi, sungguh rugi, dan sungguh rugi orang yang mendapatkan kedua orangtuanya, baik salah satu atau kedua-duanya lanjut usia tetapi ia tidak masuk surga.” (HR, Muslim).
Semoga Allah senantiasa merahmatimu.
Nak, Ketika suatu saat nanti ternyata aku dan ayahmu yang terlebih dulu mendahuluimu. Bukan harta yang kami harapkan darimu, bukan pula jabatan duniawimu yang kami banggakan. Akan tetapi, hanya satu yang kami pinta. Kirimkan do'a-do'amu untuk kami setiap harimu, karena do’amulah yang akan menjadi penyelamat bagi kami. Berdo’alah pada Tuhanmu, agar kelak kita semua dikumpulkan kembali dalam Surga-Nya nanti. Aamiin…
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nia Ummu Alif sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.