|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Kamis, 23 Juni 2011 pukul 10:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Masih kutatap waktu, dimana ada engkau dan aku mengukir banyak cerita, indah. Saat aku mulai beranjak remaja, kaupun mulai menegaskan berbagai macam aturan menjalani masa belia.
"Tidak pacaran, tidak pulang malam, ke mana saja ijin, tidak neko-neko, dan ramahlah pada sesama."
Bunda, rinduku selalu untukmu.
Masih kurunut hari, bersama perkasa mentari. Dan nyanyian kehidupan, yang tetap mengalunkan nada-nada Ilahiyah.
"Jadilah manusia yang berbakti pada Tuhannya," demikian katamu penuh wibawa, yang tetap menjadi ingatan sepanjang masa.
Engkau memang sedikit keras dan otoriter, namun kurasai tulusmu mendidik dan menyayangi.
Ayahanda, rinduku jua untukmu, selalu.
Inilah kidung jiwa, yang mengalun dari nada dasar kerinduan. Dalam dekapan kisruhnya kehidupan kuingati kalian, menjadi pendobrak segala lemah dan ketakberdayaan.
Jika hari ini masih begitu banyak yang belum kupenuhi, semoga takdir Allah memang sedang begitu berlaku. Karena ikhtiarku tak berjeda di sepanjang masa. Untuk ciptakan serekah saja senyuman indah untukmu, Bunda, dan selengkung pelangi yang kan membias di matamu, Ayahanda.
Betapa aku sangat menyayangi kalian, karenaNya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.