|
HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Ahad, 19 Juni 2011 pukul 09:40 WIB
Penulis : Rifatul Farida
"Kak, boleh Sarah nginep di tempat kakak?" katanya ragu-ragu. Aku tersenyum dan mengangguk bahagia. Jam makan sudah lewat, jadinya Sarah makan seadanya.
Sarah, seorang akhwat sederhana yang sejatinya dari keluarga berada. Beberapa kali ketemu dia yang notabene teman sekost-an saya pas di tempat kost yang dulu. Interaksi pun sekedarnya. Hanya saja, ia lebih sering aktif meng-SMS saya dengan kata-kata mutiara dan beberapa update-an info. Memang pernah dalam beberapa kesempatan kami terlibat diskusi kecil, pun itu, dia yang memulai bertanya dulu.
Di mata saya, Sarah memang sedikit tidak teratur dan mudah bingungan. Konon katanya, dia dari keluarga yang 'broken home'. Hmm... dapat dimaklumi kalau ada kelabilan dalam jiwanya yang sudah seharusnya bisa menentukan banyak hal untuk hidupnya, bagi seorang wanita seusianya.
Kadang, decak iba menghampiri begitu saja bila bertemu. Namun apa daya, saya tak berani mengambil amanah untuk 'mendampinginya'. Sudah kelewat banyak amanah dakwah fardiyah saya ambil dan cukup menyita waktu plus konsentrasi. Khawatir saja justru tidak ter-handle dengan baik. Toh di kampus pasti Sarah juga sudah punya banyak teman akhwat yang tak bosan mengingatkan.
Namun, bersama dengannya dalam waktu semalam, cukup memberi saya kesempatan untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini.
Selepas tilawah ba'da shubuh, saya pandangi wajah ayu itu. Tak tega rasanya membangunkan kalau ianya tidur pulas begini. Waktu semalaman bersama dengan banyak cerita memang tak bisa menyenyakkan tidur. Entah apa yang dipikirkan tentang saya. Yang jelas dia yang sedang 'berhalangan' dan tidak shalat saat ikut terbangun ketika saya qiyamul lail. Di belakang saya, dia hanya duduk memperhatikan. Sesekali ia tersenyum ketika saya memergoki tatapannya.
Beberapa obrolan yang masih terekam di otak saya, kini menjadi alasan untuk merengkuhnya dalam dekapan cinta ini.
"Sudah, kak... " katanya memotong kata-kata saya sambil memegang kepalanya. Saya tercenung, tapi buru-buru saya sembunyikan ketercenungan saya. Saat itu juga baru saya sadari bahwa ia tak butuh nasehat secara vulgar. Mungkin sudah kelewat sering dan kelewat banyak orang-orang yang memberi nasehat, saran, dan apalah namanya padanya. Itulah justru yang membuatnya semakin bingung. Tak mau menentukan sikap berdasarkan saran dan pikiran dari siapa saja.
Bergegas, saya memaksa otak untuk berpikir cepat.
"Sarah, pernah gak dengar tentang fokus pada masalah dan fokus pada solusi?"
Ia menatap saya tak mengerti.
"Itu beda lho, coba kamu tahu gak bedanya apa?" tanya saya dengan gaya meledek. Ia tersenyum mikir. Senyum nggak jelas, mungkin itu namanya.
Dan obrolan kamipun mengalir.
Menjadi perhatian saya, ketika di sela-sela obrolan, Sarah mengeluarkan kertas dan pena dari tasnya. Kemudian memperhatikan saya dengan serius dan sesekali mencatat. Ah, seperti memberi les anak SMA saja kalau begini.
"Sarah, ternyata engkau hanya butuh teman ngobrol, bukan teman yang sok menasehati," bisik hati saya lirih.
Dan sebuah tawaran tak main-main akhirnya tanpa saya persiapkan keluar lincah dari bibir saya pagi ini sebelum kami berpisah di depan Masjid Fathullah.
"Sarah, kalau ada apa-apa jangan disimpen sendiri ya. Share sama kakak. Hatimu nih kasihan," kata saya sambil menonjok ringan dada sebelah kirinya menunjukkan keberadaan hati. Ia tersenyum ceria dengan switter merah meronanya.
Ah, seorang akhwat lagi telah resmi menjadi 'adik' saya. Akhirnya, memang takdirnya mungkin harus begini. Allah, kuatkanlah.
Sarah, kini engkau tanggung jawabku juga.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.