|
HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Jum'at, 3 Juni 2011 pukul 10:15 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Betapa beruntungnya orang-orang yang dibeningkan hatinya oleh Allah SWT. Betapa beruntungnya para pemilik bening hati. Karena ia akan segera mengetahui noda yang menempel meski hanya setitik. Mudah melakukan amalan hati, terjaga lisan dan perbuatannya, serta menjaga orang lain dari kejahatan dirinya.
Jauh dari sifat iri, dengki, hasad, riya, takabur, dan berbagai penyakit hati lainnya. Jiwanya tenang, qalbunya selamat, dan lakunya tawadhu.
Hatinya khusyu' hanya kepada Allah SWT. Dan luar biasanya, siapa saja akan nyaman berada dekat dengannya. Karena ia mampu menjadi peneduh siapa saja yang datang membawa gundah. Karena ia mampu menjadi penenang siapa saja yang datang dengan gejolak-gejolak resah. Karena ia mampu meredam amarah. Karena ia mampu menyalurkan energi-energi positif untuk luar dirinya.
Betapa tak terkiranya keberuntungan orang-orang berhati bening. Ia akan sangat memperhatikan niat, selalu memperbaiki niat, dan berhati-hati dengan niat yang salah. Dengan begitu, ialah golongan orang-orang yang tulus lagi taat, jujur dengan dirinya sendiri, terlebih Rabb-nya. Tetap berbuat baik ketika sendiri, dan tak menonjolkan perbuatan baik ketika berbaur dengan yang lain.
Orang-orang berhati bening, selalu mampu menemukan kesalahan-kesalahan diri dan tak suka mencari-cari kesalahan orang lain. Gemar memperbaiki taubat. Mudah berbuat baik dan menjauh dari maksiat. Menjadikan Allah SWT adalah pusat perhatian utama. Ia mempunyai semacam sinyal Ilahiyah yang begitu kuat lagi peka, sehingga dengan cepat mampu membedakan mana hal yang baik dan sebaliknya.
Maka pantas saja kalau kecintaan Allah untuknya, yang diikuti oleh kecintaan seluruh penduduk langit dan bumi. Dengan cintaNya, ia tebarkan cinta pada sesama, ia tebarkan cinta untuk semesta. Cinta, yang telah melembutkan hatinya. Kelembutan hati, yang kemudian mengkonsekuensikan lahirnya rasa empati.
Teringat pada Muhammad SAW, pemilik hati terlembut. Ialah sebaik-baik qudwah. Ialah manifestasi akhlaqul karimah dari beningnya hati, lembutnya hati, selamatnya hati. Itulah kemudian yang menjadi tolak ukur keshalihan seorang muslim; akhlaqul karimah. Karena akhlaq yang baik adalah cerminan dari rupa dan sifat hati. Segumpal daging yang telah menjadi raja diri, yang kedudukannya serta arti pentingnya dikokohkan dengan penegasan firmanNya, bahwa Allah SWT hanya melihat hati setiap hambaNya. Bukan rupa, bukan harta, bukan tahta.
Segala puji hanya milik Allah SWT, Yang Mahalembut dan dengan begitu mudahnya melembutkan hati siapa saja. Shalawat teriring salam kepada Nabi Muhammad SAW, pemilik hati terlembut, yang pernah ada dalam kehidupan semesta.
Semoga, kecintaan kita kepada Nabiyullah, mengantarkan kita benar-benar meneladani beliau dalam membentuk kepribadian berakhlaqul karimah, yang awal mulanya diawali dengan membeningkan hati.
***
*Special thanks to special people, my great teacher Aa'Gym.
"Duhai Allah, masukanlah kami kedalam golongan orang-orang yang mentaatiMu dengan tulus."
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.