|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Terpikir olehku bahwa coretan anakku di dinding rumah, sebuah bentuk pembelajaran atau pembekalan dirinya menuju belajar yang sebenarnya di bangku sekolah, karena disebutkan dalam sebuah pepatah : "belajar di waktu kecil bagai mengukir diatas batu, belajar sesudah dewasa bagai mengukir diatas air", "Tuntutlah ilmu dari buaian ibu hingga ke liang lahat" dan ucapan Imam Ahmad bin Hanbal : "Sesungguhnya aku akan menuntut ilmu hingga aku masuk ke liang kubur". Dan setiap kali kakaknya menulis, maka adiknya akan terus meminta pensil, tapi ia tidak menuliskan pada kertas yang aku berikan, ia lebih asyik mengekpresikan imajinasinya pada dinding ruang tamu, dinding dapur dan seterusnya dan dengan bangga ia akan tertawa bahwa ia telah mampu mencoret.
Mengawasi kejadian dan semangat anakku untuk mencoret dan mengekpresikan yang ada dalam imajinasinya, justeru menggugahku untuk selalu menulis dan menulis dan belajar menulis.
Karena sesungguhnya ilmu yang dimiliki oleh sebuah masyarakat akan menjadi pondasi dasar kemajuan masyarakat tersebut, mungkin masih dapat diingat sebuah ayat Quran yang menerangkan bahwa : "Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan orang yang berilmu diantara kalian"
Sepadan dengan hal diatas, disebutkan dalam sebuah berita bahwa seorang ibu yang berumur empat puluh tahun lebih dapat dengan bangga menyelesaikan masternya pada sebuah universitas swasta di luar jawa, ibu itu menuturkan saat diwawancarai : inilah kebanggaanku setelah kebanggaanku memiliki cucu, tuturnya dengan wajah ceria.
Lalu apa yang menghalangiku untuk belajar ? Terbayang olehku ucapan seorang ulama yang mengatakan : kita memang ummat iqra', tapi kita tidak hobby membaca, dan bila kita membaca kita tidak memahami bacaan tersebut (seperti kepandaian membaca Quran) dan bila kita memahami bacaan tersebut, maka kita tidak mau memperaktekkan isi bacaan tersebut.
Karenanya bercermin dari ketulusan anakku untuk mengekpresikan imajinasinya dalam coretan di dinding, dan terbayang kemauan ibu peraih master tertua, maka aku harus menghapus atau mengecilkan halangan agar mampu berekpresi dan mampu belajar seperti kedua contoh diatas.
Dan "Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina".
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---