HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Tayangan Sahur
16 Juli 2013 pukul 20:00 WIB
Cemas
14 Juli 2013 pukul 22:00 WIB
Di Bawah Kita Masih Banyak
10 Juli 2013 pukul 21:00 WIB
Taufiq Kiemas Tiada, tapi …
4 Juli 2013 pukul 20:00 WIB
Menulis to See the World
21 Juni 2013 pukul 23:00 WIB
Bilik
Bilik » Pena

Jum'at, 19 Juli 2013 pukul 23:00 WIB

BBM (Bahan Bakar Menulis)

Penulis : Eko Prasetyo

Apakah benar untuk kegiatan menulis dibutuhkan bahan bakar? Langsung saja saya jawab iya! Mengapa demikian? Sebab, tubuh manusia saja membutuhkan energi untuk beraktivitas atau bekerja. Energi itu bisa didapatkan melalui makanan dan minuman yang mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh seperti karbohidrat, protein, lemak, hingga vitamin.

Demikian juga halnya dengan menulis. Kegiatan ini tidak mudah dilakukan tanpa latihan yang intens. Sebab, sejatinya semakin sering berlatih, semakin baik pula hasilnya. Artinya, semakin sering berlatih menulis, semakin mahirlah seseorang dalam merangkai kata, frasa, kalimat, dan paragraf.

Sebagaimana keahlian lain, menulis pun memiliki tahapan tersendiri. Saya mencoba mengategorikan penulis pada empat level. Pada tingkat pemula atau pertama, seseorang bisa berlatih menulis bebas (free writing). Ia dapat melakukannya sendiri ataupun didampingi fasilitator atau guru yang berkompeten. Dalam latihan menulis bebas, seseorang bebas menulis apa saja. Sebebas-bebasnya.

Dalam tahap tersebut, kaidah kebahasaan boleh ditabrak. Kesalahan penulisan tanda baca masih bisa dimaklumi dan dimaafkan pada latihan ini. Sebab, tujuan latihan menulis bebas adalah mengeluarkan ide di dalam otak dalam bentuk bercerita tanpa dibatasi aturan-aturan yang terkait dalam kaidah penulisan.

Seseorang benar-benar seolah berada di jalan tol, bebas hambatan. Fasilitator dalam latihan menulis bebas ini lebih dibutuhkan untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong seseorang mau bercerita. Dan cerita itu disalin dalam bentuk tulisan. Pokoke nggedabrus sebebas-bebasnya. Dalam latihan ini, kita dapat menceritakan sesuatu dengan alur yang melompat-lompat atau menceritakan sesuatu dengan banyak tema.

Selanjutnya ada tingkat dasar. Apabila di tingkat pemula seseorang diperbolehkan menulis sebebas-bebasnya, pada tingkat dasar ini dia akan diberikan pembekalan secara khusus. Selain praktik, ia akan mendapatkan teori dan teknik atau metode menulis yang benar. Pengetahuan ini penting agar hasil ide kreatifnya dalam bentuk tulisan lebih tertata dan terstruktur.

Berikutnya, ada tingkat menengah. Pada level ini, seorang penulis tidak hanya mendapat penjelasan secara rinci tentang teori dan metode kepenulisan, tetapi juga kaidah kebahasaan dan penguasaan kosakata. Artinya, hasil selama latihan pada tahap sebelumnya mampu memberikan gambaran tentang kelebihan dan kekurangan tulisan. Dengan demikian, ia mampu memetakan masalah dalam suatu tulisan sehingga bisa memperbaikinya dengan cepat. Penguasaan kosakata juga diperlukan agar karya tulis tidak monoton dengan kata-kata yang itu-itu saja.

Tahap selanjutnya tentu saja tingkat mahir. Biasanya, kelas ini dihuni para penulis profesional, kolumnis media massa, hingga penulis jurnal. Pada tahap ini, seseorang bisa menuliskan gagasannya dengan cepat. Contohnya, penulis artikel opini di surat kabar nasional. Biasanya, halaman opini mensyaratkan isu yang faktual sebagai tema tulisan agar bisa dimuat. Hal ini tidak akan menjadi masalah berarti bagi mereka yang terbiasa menulis artikel ilmiah populer (opini). Ibaratnya, 15 menit pun tulisan bisa jadi.

Namun, di antara empat tahap yang saya sebutkan tadi, tetap saja dibutuhkan bahan bakar sebagai energi. Setiap penulis mungkin membutuhkan bahan bakar menulis (BBM) yang berbeda-beda, bergantung kebutuhan.

Penulis yang sulit menumpahkan gagasan jika suasana ramai tentu memilih bahan bakar menulis berupa tempat yang nyaman dan tenang. Penulis yang selalu membutuhkan hiburan bisa jadi memilih alunan musik tertentu sebagai bahan bakar menulisnya. Sebab, bagi mereka, musik dianggap bisa menenangkan jiwa sehingga ide dapat diurai dengan lancar.

Saya sendiri memilih kopi tubruk hitam manis sebagai teman menulis. Aromanya yang harum dapat menyejukkan pikiran. Dengan komposisi gula yang pas, saya tidak akan ragu-ragu menyeruputnya. Jika sudah begini, semangat menulis biasanya berlipat ganda.

Tetapi, sesungguhnya bahan bakar menulis yang utama bukanlah suasana yang tenang, bukan musik, bukan secangkir kopi. Sebab, pada dasarnya energi yang dibutuhkan tiap penulis itu sama. Energi tersebut berasal dari kegiatan membaca. Ya, bahan bakar menulis adalah membaca. Tanpa membaca, seorang penulis tidak akan punya modal yang baik untuk menghasilkan suatu karya yang layak dinikmati pembaca. Yang paling penting dicamkan adalah penulis yang baik sesungguhnya ialah pembaca yang baik pula.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna Fathimah Zakaria | Staf Pengajar
Baru saya sadari, ternyata KotaSantri.com tidak saja memperluas silaturrahim saya dengan teman-teman dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (dan mungkin juga luar Indonesia, insya Allah), tapi juga mendidik saya untuk berperilaku lebih baik dan lebih Islami lagi serta mengajarkan saya banyak pengetahuan. Subhanallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.3427 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels