Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://indrawidjaja.kotasantri.com
Bergabung
26 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Konsultant
simply person with simply motivation where find the Truth is as my way of live
http://indra.web.id
saya@indra.web.id
steven widjaja
http://facebook.com/steven indra widjaja
http://friendster.com/steven widjaja
Tulisan Indra Lainnya
Ekawadi Pasino : Sudah Dikhitan Sejak Kecil
18 Agustus 2011 pukul 15:00 WIB
Liano Regar : Tertarik Terjemahan Adzan
4 Agustus 2011 pukul 15:15 WIB
Dominikus Doni : Terpikat Suara Adzan di Radio
23 Juni 2011 pukul 15:45 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 1 September 2011 pukul 18:00 WIB

Sulaiman Dufford : Dianggap Pengkhianat

Penulis : Indra Widjaja

Nama saya Sulaiman Dufford, sebagaimana tertera dalam semua ijazah saya. Saya biasa dipanggil Sulaiman atau Mr. Dufford. Nama yang terakhir ini adalah nama keluarga saya. Ayah saya bemama John S. Dufford, seorang warga negara Amerika Serikat keturunan Prancis. Sedangkan ibu saya, Mary Louise Foscue, campuran Turki-lnggris. Dengan demikian, dalam diri saya mengalir darah tiga bangsa, Turki, Inggris, dan Prancis. Saya sendiri banyak menghabiskan masa kecil di Texas. Sedangkan, masa muda saya banyak saya lalui di California, Los Angeles. Tepatnya di Stanford University, tempat saya menuntut ilmu.

Ayah saya seorang insinyur mesin dan bekerja di perusahaan swasta di Texas. Sedangkan, ibu saya seorang ibu rumah tangga yang aktif ikut kegiatan sosial dan gereja. Semasa kecil, ibu selalu mengajak saya ke gereja, terutama pada hari Minggu untuk mengikuti kebaktian.
Di sana kami mendengarkan khutbah pendeta yang menyanyikan lagu-lagu kerohanian. Ketika usia saya beranjak dewasa, saya mulai tidak puas dengan doktrin yang saya terima dari pendeta. Terutama mengenai konsep trinitas-paham mengenai Yesus Kristus, Roh Kudus, dan Bapa. Mengapa saya harus menyembah Yesus Kristus, manusia ciptaan Tuhan?

Kebingungan saya mengenai konsep trinitas ini lalu saya sampaikan kepada pendeta. Tetapi, ternyata pendeta malah menyuruh saya untuk menerima konsep/doktrin itu tanpa boleh meneliti kebenarannya. Jawaban itu membuat saya berpikir, mengapa saya harus menganut agama yang tidak bisa diselidiki kebenarannya?

Sementara itu, sedikit banyak saya sudah mengenal Islam dari buku-buku yang saya baca. Ini membuat saya tertarik dengan ajaran Muhammad itu. Agama Islam mempunyai peraturan yang tegas dan lugas mengenai segala hal, mulai dari cara berpakaian, makan, berbicara, sampai cara membuang hajat.

Selain itu, saya sangat terkesan dengan cara orang-orang Islam berkomunikasi kepada Tuhan, yaitu melalui ibadah shalat, zakat, puasa, dan haji. Sedangkan dalam agama yang saya anut itu, cara berkomunikasi kepada Tuhan hanya dengan conversation, talking and talking.

Perkenalan saya dengan Islam dilanjutkan dengan mengadakan perjalanan ke Timur Tengah pada tahun 1960. Di Turki saya melihat Masjid Sultan Salim. Sultan Salim adalah ayah Sultan Sulaiman, pemimpin Turki. Masjid itu mempunyai arsitektur yang luar biasa indahnya. Keindahannya mengundang saya untuk masuk ke dalamnya. Di dalam masjid saya rasakan kesejukan menyusup relung hati. Saya tergetar menyaksikan kemegahannya.

Peristiwa kedua yang membuat hati saya tergetar adalah ketika mendengar alunan adzan subuh di Istambul. Suara itu walaupun artinya tidak saya mengerti -- menyentuh hati, membuat saya merasa dekat dengan Sang Pencipta alam semesta. Dari dua peristiwa itu, saya mulai mencari guru agama Islam yang akan menunjukkan jalan menuju Islam.

Pada tahun 1966, seorang da'i dari Indonesia, namanya Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo kebetulan berkunjung ke California. Dari beliau saya banyak belajar tentang Islam. Semakin banyak pengetahuan saya tentang Islam, semakin bertambah keyakinan saya terhadap kebenarannya. Tetapi, pada saat itu saya belum memeluk Islam.

Merupakan kebiasaan yang umum di Barat, bila orang orang Barat terutama kaum ilmuwan ingin masuk Islam., mereka mempelajari dahulu ajaran-ajarannya sebelum akhirnya menjadikan Islam sebagai agamanya. Dengan demikian, mereka masuk Islam bukan berdasarkan sentimentalitas saja, melainkan setelah melakukan penyelidikan yang panjang. Sebut Cat Steven atau Yusuf Islam, Maryam Jameelah atau Margaret Marcus, Leopold Weiss (Muhammad Asad), dan juga seorang filsuf Prancis Frithjof Schaun atau dikenal dengan nama Islamnya Muhammad Isa Nuruddin. Demikian juga saya.

Pada tahun 1969, untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Indonesia atas undangan Ustadz Muhammad Subuh tadi. Waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sengaja saya pilih bulan suci umat Islam agar dapat merasakan bagaimana syahdunya suasana Ramadhan. Meskipun belum masuk Islam, saya dapat menjalankan puasa sebulan penuh. Sejak itu tekad saya untuk masuk Islam semakin bulat.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 5 Juli 1970 pada usia saya ke-30, saya mengucapkan dua kalimat syahadat dituntun oleh Dr. El Bialy, Direktur Islamic Foundation California Selatan, Los Angeles. Saya segera memberitahukan keislaman saya pada orangtua. Tentu saja ibu saya terkejut mendengar berita ini. Tapi, beliau tidak bisa melarang saya memeluk Islam yang saya yakini kebenarannya.

Mulanya teman-teman saya bersikap biasa-biasa saja terhadap keislaman saya. Tetapi, ketika saya mulai aktif dalam kegiatan-kegiatan masjid, mereka mulai membenci dan menjauhi saya. Bukan hanya itu cobaan yang saya terima. Saya sulit mendapatkan pekerjaan yang sepadan dengan pendidikan saya (S2 dalam bidang teknologi komunikasi). Untuk mempertahankan hidup, selama enam tahun saya bekerja sebagai supir taksi, satpam, salesman, dan sejenisnya.

Pendidikan, keahlian, dan intelegensia saya sia-sia. Semuanya itu disebabkan perasaan antimuslim yang melanda orang-orang Amerika. Berapa banyak muslim Amerika yang mengalami nasib seperti saya. Kami dianggap sebagai pengkhianat. Lain halnya kalau saya mau menyembunyikan keislaman saya. Misalnya dengan tetap memakai nama Barat atau tidak pernah melakukan shalat di kantor atau di masjid.

Harus diakui, media massa Amerika, baik berbentuk koran maupun televisi telah berhasil menciptakan image yang buruk tentang Islam. Semua orang Islam dianggap sebagai teroris, pengacau, suka berperang, dan predikat-predikat buruk lainnya. Keluarga saya yang mulanya dapat menerima keislaman saya, akhirnya karena pengaruh media massa dan propaganda gencar yang menyudutkan umat Islam menganggap saya sebagai pengkhianat dan teroris. Mereka tidak melihat saya. Bahkan ketika ibu saya meninggal dunia, mereka tidak memberitahu saya.

Untuk menambah pengalaman dan pengetahuan tentang Islam, saya menetap di beberapa negara Islam, seperti Saudi Arabia, Iran, Turki, dan Malaysia. Sejak tahun 1986 saya tinggal di Indonesia. Saya merasa Amerika sudah tidak cocok lagi dengan saya, karena itu saya akan menghabiskan sisa umur saya di negara-negara yang warna keislamannya masih kental.

Dari mualaf.com

http://indra.web.id

Suka
ielya Himma Azzahra menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Yussi | Karyawati
Subhanallah sekali bisa bergabung di KotaSantri.com. Barakallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1421 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels