|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|
|
|
http://indra.web.id |
|
saya@indra.web.id |
|
|
steven widjaja |
|
http://facebook.com/steven indra widjaja |
|
http://friendster.com/steven widjaja |





Kamis, 18 Agustus 2011 pukul 15:00 WIB
Penulis : Indra Widjaja
Nama saya Ekawadi Pasino. Saya adalah anak tunggal, lahir pada 29 Maret 1981 di Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), dari pasangan Epe Pasino dan Seniwati. Ayah saya seorang guru SD yang berasal dari Sulawesi Selatan dan beragama Kristen Protestan. Ibu saya berasal dan suku Sasak (Lombok) dan beragama Islam. Karena perkawinan, ibu yang berasal dan keluarga Islam yang taat, terpaksa harus ikut ayah masuk ke dalam agama Kristen Protestan.
Walaupun kedua orangtua saya menganut agama Kristen Protestan, namun saya sejak kecil tidak begitu tertarik mengikuti agama mereka. Saya justru lebih senang mengikuti ajaran agama Islam. Oleh kakek dan nenek saya dari garis ibu, saya sudah dikhitan sejak usia tujuh tahun. Setelah dikhitan, saya mulai mengikuti teman-teman sebaya belajar mengaji pada Ustadz Abdul Madjid, salah seorang guru agama di SDN I Bayan. Ustadz Abdul Madjid-lah yang mengajarkan pada saya ajaran-ajaran tauhid. Dari sinilah saya mulai mengenal ajaran ajaran Islam.
Karena lebih senang bergaul dan berinteraksi dengan teman-teman yang beragama Islam, maka ibadah shalat, puasa di bulan Ramadhan, dan ibadah-ibadah lainnya merupakan hal yang biasa saya lakukan. Bahkan, di usia sepuluh tahun saya sudah bisa mengkhatamkan Al-Qur'an 30 juz. Saya bangga pada hal ini, walaupun latar belakang keluarga saya adalah penganut Kristen Protestan.
Ketekunan saya dalam menjalankan ibadah ritual agama Islam in, justru membuat ayah saya sakit hati. Lebih-lebih bila beliau melihat saya ikut shalat berjama'ah di rumah guru saya. Pada mulanya ayah menegur saya dengan baik.
"Eka, sebaiknya kamu mengikuti agama orangtuamu, Kristen Protestan. Bukan agama orang Islam," ujar ayah mengingatkan. Ajakan Ayah ini saya jawab dengan sikap hormat.
"Ayah, saya sangat menghargai ajakan ayah. Tapi saya yakin akan kebenaran ajaran Islam yang mengesakan Allah. Bagaimana kalau diri saya ini diikhlaskan saja untuk menganut ajaran yang saya yakini kebenarannya?" jawab saya hati-hati.
Mendengar jawaban saya itu, ayah diam saja.
Setelah tamat SD, saya mendapat ijazah sebagai tanda lulus. Saya lihat orangtua saya begitu gembira mendengar dan mengetahui anaknya lulus dengan balk. Namun, kegembiraan ini hanya sesaat. Mereka sangat marah pada saya setelah melihat identitas agama yang tertera di dalam ijazah saya itu, yang tertuliskan beragama Islam.
Mereka segera memanggil saya. Saya dimarahi, bahkan diancam. Kalau saya masih tetap menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran Islam, maka mereka tidak akan memberikan biaya pendidikan untuk melanjutkan sekolah.
"Eka...! Bila kamu masih tetap beragama Islam, silakan cari biaya sekolahmu sendiri!" ancam ayah. Mendengar ancaman itu, saya jadi lemah. Akhirnya, saya putuskan untuk menyerah kepada keinginan orangtua saya itu. Terus terang, saya sangat berat meninggalkan agama Islam yang telah saya jalani ritual ibadahnya. Dengan meneteskan air mata, saya turuti keinginan orangtua.
Di SMP, saya mulai diajak aktif ke gereja oleh ayah. Setiap Minggu saya diharuskan pergi ke gereja. Karena seringnya mengikuti acara di gereja, lambat laun saya pun mulai mengenal sedikit demi sedikit ajaran Kristen Protestan. Walau saya sudah mulai larut, namun keyakinan akan keesaan Allah SWT tetap melekat dalam hati saya. Secara sembunyi-sembunyi, saya masih tetap menjalankan lbadah puasa Ramadhan dan ikut shalat berjama'ah.
Karena keyakinan akan kebenaran Islam telah terpatri kuat dalam hati, maka setiap pergi ke gereja dan membaca Alkitab, saya sama sekali tidak punya perasaan untuk memeluk agama Kristen. Menurut saya, agama Kristen yang saat itu saya jalani dengan terpaksa, justru semakin membingungkan diri saya.
Saya sering mernbandingkan para penganut agama Kristen dengan Islam bila sedang beribadah, khususnya wanita. Jika wanita Kristen pergi ke gereja cukup hanya dengan mengenakan pakaian yang terbuka auratnya. Mereka berpakaian menurut seleranya masing-masing. Mereka tidak menghargai rumah ibadahnya sendiri.
Berbeda dengan wanita muslimah yang jika pergi beribadah ke masjid atau mushala, selalu menutup aurat (kalau laki-laki antara pusat (pusar) dan lutut dan wanita menutup seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan). Orang Islam lebih menghargai rumah ibadahnya.
Saat duduk di kelas 2 SLTP, ketekunan saya membaca Al-Qur'an, beralih kepada Alkitab. Dalam Perjanjian Baru, saya temukan sebuah ayat yang berbunyi, "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." Membaca ayat ini, sejenak saya merenung. Benarkah Yesus Kristus itu sebagai Tuhan?
Mencari jawaban ini sangat sulit. Dalam ajaran Islam, saya telah meyakini bahwa Nabi Isa atau Yesus Kristus (bagi Kristen) adalah manusia biasa yang diutus Allah sebagai rasul untuk memberi petunjuk kepada umat manusia ke jalan yang benar. Jadi, bukan sebagai Tuhan Juru Selamat.
Karena ingin mengetahui jawaban ini, maka saya bertanya kepada ayah. "Mengapa dalam agama Kristen Protestan, Yesus disebut sebagai Tuhan juru Selamat? Sedangkan dalam ajaran Islam hanya Allah Yang Esa yang disembahnya?" tanya saya pada ayah.
Ironisnya, bukan jawaban yang saya terima, tapi kemarahan. "Eka...! Pertanyaanmu itu berarti kamu belum mempercayai kebenaran agama ayah," bentak ayah keras.
Sejak itu, saya tidak berani lagi bertanya tentang Tuhan Yesus pada ayah. Saya tak peduli dengan agama Kristen. Saya semakin tidak percaya kepada agama Kristen. Saya tidak pernah mengakui ketuhanan Yesus Kristus, apalagi menyembahnya.
Saat duduk di bangku SMU I Bayan, saya harus dibaptis, karena menurut mereka saya sudah terlalu banyak dosa. Syukurlah, pembaptisan itu saya tolak.
Setelah terjadi kerusuhan 17 Januari 2000 lalu, saya harus berpisah dengan kedua orangtua, karena mereka (kaum Nasrani) dikejar-kejar kaum perusuh. Rumah kami hancur. Kedua orangtua saya mengungsi ke Kapolda NTB. Mereka mengajak saya, tapi saya tolak dengan halus.
Sejak itu saya berpisah dengan mereka. Sebelum berpisah, saya minta agar mereka mengikhlaskan saya memeluk agama Islam, dan saya katakan bahwa saya rela mati dalam iman dan Islam. Mereka terlihat sedih. Saya pun tak bisa membendung air mata. Tanggal 21 Januari 2000, saya mengikrarkan diri masuk Islam, dibimbing Ustadz M. Syairi, disaksikan jama'ah Masjid Al-Fatah Dasan Ancak.
Dari mualaf.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.