HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. "
Alamat Akun
http://sylvia-nurhadi.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Ibu RT merangkap Mahasiswi
Saya dilahirkan 48 tahun yang lalu sebagai anak ke 3 dari 8 bersaudara. Sebagai anak tentara saya sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Besuki Jakarta, pendidikan menengah pertama di Sekolah Indonesia Kuala-Lumpur (SIK), Malaysia sementara SMA saya selesaikan di SMA 5 Bandung. Usai menempuh pendidikan tinggi …
http://vienmuhadi.wordpress.com
Tulisan Sylvia Lainnya
Keteladanan Rasulullah dalam Memperlakukan Perempuan
10 September 2009 pukul 19:00 WIB
Alexandra : Berlabuh di Dermaga Islam
3 September 2009 pukul 22:00 WIB
Agar Puasa Tidak Mubazir
19 Agustus 2009 pukul 17:16 WIB
Hadits dan Perang Pemikiran
29 Juli 2009 pukul 17:08 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 24 September 2009 pukul 21:15 WIB

Steve A. Johnson : Merasakan Keindahan Shalat

Penulis : Sylvia Nurhadi

Steve A. Johnson kecil memiliki hobi duduk-duduk di bawah pohon besar di belakang ladang orangtuanya di Amerika Serikat sambil menatap mega. Tanpa disadarinya, pemandangan indah yang selalu membuat dirinya takjub ini meninggalkan bekas yang mendalam di dalam hatinya. Ia tahu bahwa Tuhanlah yang menciptakannya karena orangtuanya memang mengajarkannya demikian. Ketakjuban ini membuat dirinya berjanji kepada diri sendiri bahwa ia akan selalu memujaNya. Tampaknya janji inilah yang selanjutnya membuat dirinya senantiasa dalam pengembaraan rohani selama 20 tahun terakhir.

Steve memang tidak seperti teman-teman kecilnya yang lebih suka bermain dan bersenda gurau dari pada berpikir dan belajar. Bahkan ketika ia mengalami kecelakaan dan harus diopname di sebuah rumah sakit, patung Yesus Kristus disalib yang terpampang di dinding membuatnya merasa betapa besar pengorbananNya demi membela penderitaan manusia. Padahal ketika itu ia sendiri sedang luka parah.

Hari-hari selanjutnya, Steve makin terobsesi ingin menjadi pendakwah agar seluruh manusia mau memujaNya. Ia pun memutuskan menjadi pendeta walaupun ia merasa bahwa untuk tidak menikah adalah hal yang berat. Namun apa arti semua ini dibanding penderitaanNya, begitu pikirnya. Rasa kemanusiaan Steve makin lama makin tinggi, hingga akhirnya ia memohon kepada pihak geraja agar mengizinkannya mengambil kuliah kedokteran.

Sejak itu, Steve pun bergelut dengan berbagai ilmu kedokteran seperti anatomi, biologi, kimia, mikrobiologi dan sebagainya. Akibatnya, ia kehilangan waktu untuk mempelajari filsafat maupun teologi. Meskipun begitu, setiap hari ia memaksakan dirinya untuk bisa berdo'a walaupun hanya sekedarnya. Namun, makin hari ia makin merasa tertekan dan mulai merasa bahwa keimanannya berkurang. Sementara ia juga mulai menyadari bahwa ia tidak menyukai ilmu kedokteran. Maka Steve pun mulai terbiasa minum minuman beralkohol dan menenggak obat-obatan. Ia merasa agamanya tidak sanggup membantunya menenangkan hatinya.

Akhirnya Steve menyerah. Ia berkata jujur kepada gereja bahwa ilmu kedokteran tidak cocok baginya. Yang ia inginkan ialah belajar filsafat dan teologi. Dua tahun berikutnya dihabiskannya untuk berdakwah mengajarkan doktrin Kristen bahwa semua manusia adalah Tuhan dan bahwa semua manusia menanggung dosa begitu mereka dilahirkan. Ia terus berjuang agar dirinya menjadi seseorang yang pasrah sementara minuman dan obat-obatan tetap menemaninya dengan setia.

Tahun berikutnya, gereja mengirimnya ke Roma untuk belajar teologi sesuai keinginannya. Ia beberapa kali berpindah universitas karena merasa tidak cocok. Roma, Lovain, hingga Toronto dijajalnya. Namun ia tidak kunjung terpuaskan, padahal berbagai penghargaan dan beasiswa diterimanya. Ironisnya, hatinya justru semakin terasa hampa. Konflik batin menyerangnya. Ia sungguh merasa sulit mengimani apa yang seharusnya diyakininya. Padahal ia adalah seorang pendeta yang telah sangat mendalami ilmunya. Namun demikian, ia berusaha keras untuk terus tekun berdo'a agar keimanannya tidak goyah.

Suatu hari, secara tidak sengaja Steve berkenalan dengan seorang anak muda asal Abu Dhabi bernama Ismail Hassan Said. Ia seorang Muslim. Karena sering berjumpa, akhirnya mereka bersahabat, bahkan tinggal sepemondokan. Steve memperhatikan bahwa setiap datang waktu shalat, Ismail selalu segera shalat. Ismail tidak pernah membicarakan agamanya kecuali bila Steve menanyakannya. Hal ini rupanya malah membuat Steve penasaran.

Ia pun segera mencari tahu tentang ajaran Islam dengan mengikuti kajian-kajian yang diadakan masjid di kota di mana ia tinggal. Puncaknya adalah ketika Ismail memberinya buku terjemahan hadits Qudsi. Dalam pengakuannya, ia bercerita bahwa ia seolah-olah dibenturkan oleh bongkahan besar es hingga membuat sekujur tubuhnya menggigil sampai ke kedalaman sukmanya akibat keindahan dan kekuatan sesuatu yang dicari dan dirindukannya selama hayatnya.

”Sejak detik itu, aku tidak kuasa makan dan tidur. Kata-kata dalam hadits itu terus berdengung dan berdentam dalam rongga kepalaku," akunya.

Tanpa dapat dibendung lebih lama lagi, Steve akhirnya segera menuju masjid dan mengikrarkan keislamannya. ”Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah." Perlahan kepalanya berhenti berdengung, kebekuan jiwanya meleleh, dan sukmanya terasa damai. Steve merasakan kebahagiaan yang sulit diuraikan dengan kata-kata, kebahagiaan yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun yang dunia dapat berikan. Selanjutnya Steve benar-benar merasakan keindahan shalat dan persaudaraan Islam, hingga suatu ketika ia kembali merasakan benturan hebat.

Steve difitnah bahwa ia adalah seorang mata-mata gereja yang menyusup ke dalam masjid. Akibatnya ia pun dijauhi dan dimusuhi saudara-saudara seimannya yang baru. Sebaliknya, beberapa teman dan saudara barunya tersebut malah memanfaatkan namanya untuk mencari sensasi murahan demi sejumlah uang. Kesedihannya makin diperparah lagi dengan adanya vonis dokter bahwa ia menderita kanker ganas yang belum ada obatnya. Dokter menganjurkannya untuk banyak beristirahat dan tidak berpikir yang terlalu berat. Steve benar-benar terpukul atas kejadian beruntun yang menimpanya tersebut. ”Sanggupkah aku menjalani sisa hidup ini dengan menjadi seorang Muslim?” tanyanya sedih.

Dalam keadaan seperti itulah, tiba-tiba ingatan Steve kembali kepada kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika itu ia sedang berada di sebuah biara yang terletak di pegunungan Pensylvania. Teman-temannya sesama pendeta telah lelap tertidur. Dengan mengenakkan jubah hitamnya, Steve memasuki gereja dan dengan khusuk ia berkata lirih, ” Tuhan, aku tak tahu ke mana harus berpaling. Aku mengasihiMu. Aku ingin mengabdikan hidupku untukMu, tetapi bagaimana? Bagaimana? Anugerahilah aku kedamaianMu, tunjukkanlah aku ke jalan-Mu.”

Steve tersentak. Rupanya inilah jawaban permintaannya 7 tahun lalu. ” Terima kasih, Ya Allah ya Tuhanku. Telah Kau tunjukkan jalan itu. Terima kasih atas kesabaran dan kasih-sayangMu dalam membimbingku menuju kebenaran yang hakiki ini,” bisiknya terisak. Dipeluknya Al-Qur'annya erat-erat. Islam adalah anugerah dariNya yang takkan pernah dilepasnya untuk selamanya. Ingatannya melayang kepada masa kanak-kanaknya dimana ia dulu sering menatap mega dengan penuh kekaguman. Rupanya fitrah itu telah ada jauh dalam hati sanubarinya sejak puluhan tahun yang lalu, namun fitrah tersebut harus dicarinya dengan penuh perjuangan.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Tiada anak manusia yang dilahirkan kecuali dengan kecenderungan alamiahnya (fitrah). Maka orangtuanyalah yang membuat anak manusia itu menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Referensi : "Santri-santri Bule"  - Prof. DR. Deddy Mulyana, MA.

http://vienmuhadi.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Indra | Full Time Jobseeker
Alhamdulillah KSC bagus banget, jadi pengen nyoba KSC Mobile-nya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1300 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels