Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
Alamat Akun
http://sylvia-nurhadi.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Ibu RT merangkap Mahasiswi
Saya dilahirkan 48 tahun yang lalu sebagai anak ke 3 dari 8 bersaudara. Sebagai anak tentara saya sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Besuki Jakarta, pendidikan menengah pertama di Sekolah Indonesia Kuala-Lumpur (SIK), Malaysia sementara SMA saya selesaikan di SMA 5 Bandung. Usai menempuh pendidikan tinggi …
http://vienmuhadi.wordpress.com
Tulisan Sylvia Lainnya
Agar Puasa Tidak Mubazir
19 Agustus 2009 pukul 17:16 WIB
Hadits dan Perang Pemikiran
29 Juli 2009 pukul 17:08 WIB
Hakikat Ilmu
27 Mei 2009 pukul 18:35 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 3 September 2009 pukul 22:00 WIB

Alexandra : Berlabuh di Dermaga Islam

Penulis : Sylvia Nurhadi

Namaku Sadeeqah Chernov, biasa dipanggil Alexandra. Aku adalah anak perempuan ketiga dari empat bersaudara. Aku dilahirkan di Melbourne pada tahun1971. Ayahku seorang Kristen Ortodoks yang lahir di Polandia. Keluarganya campuran Rusia dan Jerman. Sementara ibuku lahir di Australia. Nenekku dari ibu berdarah Rusia dan Yahudi. Ibu dibesarkan dalam lingkungan Anglikan, tetapi tidak begitu rajin menjalankan agamanya.

Ketika aku kecil, seperti juga teman-teman kecilku, setiap minggu aku pergi ke gereja dan ikut sekolah Minggu. Sejak kecil hingga dewasa, aku selalu sekolah di sekolah Kristen. Namun ketika aku menjelang dewasa dan suka membaca Bibel, aku mulai suka bertanya-tanya dan ragu tentang banyak hal. Di antaranya adalah konsep trinitas, pengampunan dosa oleh pendeta, dan lain-lain. Meski aku sering bertanya, namun jawabannya tak pernah memuaskanku. Aku amat percaya pada Tuhan, karena banyak kenalanku mengatakan bila aku percaya pada Tuhan, aku akan menjadi orang yang baik. Namun aku tidak pernah paham bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Karenanya bila berdo'a, aku selalu meminta kepada Tuhan bapak, bukan Tuhan anak.

Namun demikian aku tetap tidak puas. Akhirnya aku pun melirik agama lain. Sayang, ketika itu beberapa kenalan Islamku tidak menjalankan ajarannya dengan baik. Akibatnya, aku baru mengenal ajaran ini setelah lama terombang-ambing mempelajari agama-agama lain.

Mulanya adalah ibuku yang telah bercerai dari ayah. Ketertarikannya dalam studi perbandingan agama telah membuatnya lebih dulu memeluk Islam daripada aku. Namun demikian, ia tidak pernah membicarakan ajaran barunya itu kepadaku. Tapi aku pikir, kalaupun ia mengajarkannya, mungkin aku justru tidak tertarik.

Suatu hari, aku menemukan Al-Qur'an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Muhammad Marmaduke Pickthall. Aku segera membelinya dengan maksud akan kuberikan kepada ibu. Aku sempat membuka-buka sedikit. Akan tetapi baru beberapa bulan kemudian aku mulai serius mempelajarinya. Namun demikian, aku jadi suka membela ajaran Islam ketika ada orang yang mengkritik ajaran ini. Aku begitu bergairah mempertahankan Islam seolah aku adalah seorang Muslim.

Akhirnya, di pagi hari raya Idul Fitri di tahun 1992, setelah shalat Ied, aku mengikrarkan syahadat di Islamic Council of Victoria, Melbourne. Sulit aku mengatakan bagaimana perasaanku waktu itu. Yang jelas, aku merasa terlahir kembali dan dalam keadaan bersih tanpa dosa sedikit pun pula. Ibuku tentu saja sangat bahagia mengetahui kabar tersebut.

Karena aku mempelajari Islam terlebih dahulu sebelum bersyahadat, maka aku pun langsung memahami apa yang menjadi kewajibanku. Aku segera meninggalkan pekerjaanku sebagai pelayan yang menghidangkan minuman keras dan mencari pekerjaan yang halal. Aku juga segera menutup auratku dengan berjilbab.

Sayang, ayah menentang keislamanku. Padahal ketika ibu dulu masuk Islam, ia tidak memprotes. Ia hanya menganggapnya gila dan hilang akal saja! Mungkin karena mereka sudah bercerai, jadi ayah tidak peduli. Belakangan, aku menyadari bahwa ayah menentangku bukan semata-mata karena ia membenci Islam, karena ternyata selama ini ia berpikir bahwa perempuan Islam diperlakukan buruk dan tidak mempunyai hak apa-apa.

Di luar itu, aku bersyukur bahwa aku tidak mengalami hambatan yang berarti. Walaupun dengan berjilbab, ternyata aku tetap dapat bekerja, bahkan sebagai baby sitter di keluarga non muslim. "Kamu orang yang sama dengan yang telah kami kenal selama ini. Anak-anak masih menyukaimu. Demikian juga kami," begitu komentarnya. Alhamdulillah… Sebelumnya aku memang telah mengenal keluarga ini.

Aku juga aktif di berbagai kegiatan keislaman. Aku pernah bekerja sebagai tenaga sukarela di sebuah sekolah Islam, membantu ibu-ibu mengajar di sana. Aku ikut pengajian di beberapa kelompok pengajian yang berbeda dan shalat di masjid-masjid yang berbeda. Aku memang tidak ingin terikat pada satu kelompok pengajian saja.

Sebaliknya, aku juga tidak mau hanya membangun kontak dengan sesama Muslim. Aku justru berpikir, sebagai Muslimah, aku harus berdakwah kepada teman-teman non muslimku. Teman-teman dekatku aku rasa tidak kaget dengan penampilan baruku, karena mereka memang mengetahui prosesku berislam. Terkadang aku bahkan berdiskusi dengan mereka. Namun teman-temanku yang tidak begitu akrab, tampaknya agak terkejut juga mengetahui kepindahanku. Tapi apa peduliku?

Sementara itu, ayah dan keluarga besarnya tetap memandangku dengan perasaan aneh dan asing. Kadang-kadang mereka bahkan mengambil gambarku seolah aku ini makhluk ajaib. Tapi aku tidak tersinggung. Aku malah sengaja berpose secantik mungkin. ”Biarkan mereka tahu penampilan perempuan Islam," pikirku senang.

Kini, aku begitu optimis akan masa depanku. Aku berharap, semoga aku dapat menjadi muslimah sekaligus ibu yang baik. Saat ini, aku ingin menuntaskan studiku di Monash University untuk belajar ilmu lingkungan yang menurut pengamatanku belum banyak ditangani Muslim. Padahal bukankah kepedulian terhadap lingkungan adalah bagian dari Islam yang sangat penting?

Pendek kata, aku ingin berdakwah dengan caraku sendiri. Aku juga terobsesi bahwa suatu hari kelak akan memiliki ladang, tinggal di sana, dan dapat mengendarai kuda kesayanganku sepanjang hari seperti juga Rasulullah SAW dulu. Aku memang sangat menyukai kuda. Di tempat inilah secara berkala aku akan menyelenggarakan acara perkemahan khusus untuk anak-anak Muslim.

Referensi : "Santri-santri Bule"  - Prof. DR. Deddy Mulyana, MA.

http://vienmuhadi.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Desy Rahayu | Pegawai
Saya baru bergabung di KotaSantri.com setelah saya membaca beberapa cerita yang sangat menarik, saya berkeinginan juga untuk berbagi cerita dengan Anda semua.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1144 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels