HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
Alamat Akun
http://sylvia-nurhadi.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Ibu RT merangkap Mahasiswi
Saya dilahirkan 48 tahun yang lalu sebagai anak ke 3 dari 8 bersaudara. Sebagai anak tentara saya sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Besuki Jakarta, pendidikan menengah pertama di Sekolah Indonesia Kuala-Lumpur (SIK), Malaysia sementara SMA saya selesaikan di SMA 5 Bandung. Usai menempuh pendidikan tinggi …
http://vienmuhadi.wordpress.com
Tulisan Sylvia Lainnya
Hakikat Ilmu
27 Mei 2009 pukul 18:35 WIB
Hikmah Perang dalam Islam
15 April 2009 pukul 17:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 29 Juli 2009 pukul 17:08 WIB

Hadits dan Perang Pemikiran

Penulis : Sylvia Nurhadi

Dapat kita saksikan betapa dari hari ke hari makin banyak saja manusia di penjuru dunia ini yang menyadari kebenaran ajaran Islam hingga akhrinya mereka kemudian bersyahadat. Subhanallah... Mahabenar segala firman Allah. Ironisnya, sejalan dengan itu, justru ada sejumlah umat Islam yang meragukan keorisinilan, tidak saja sejumlah hadits, namun bahkan seluruh hadits! Memang tidak dapat dipungkiri bahwa jumlah hadits teramat sangat banyak. Hadits-hadits tersebut bermacam-macam tingkatannya, ada yang kuat, lemah, bahkan palsu!

“Allah berfirman, “Maka akan Aku tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-’Araf [7] : 156-157).

Yang dimaksud nabi yang ummi yang tertulis di dalam Taurat dan Injil itu adalah nabi Muhammad SAW, rasul yang membawa Al-Qur'anul Karim. Kitab ini mengajak manusia kepada kebaikan, menunjukkan jalan yang benar dalam rangka menuju Tuhan Yang Satu yang menciptakan alam semesta dan segala isinya. Alangkah beruntungnya manusia yang tidak saja hanya mengimani, namun juga mau mengikuti dan mencontohnya dalam mentaati perintah dan laranganNya.

Namun sebenarnya fenomena tersebut bukanlah hal baru. Ini telah diketahui dan disadari oleh para ulama dan pemikir Islam sejak lama. Apalagi ketika diketahui bahwa telah terjadi fitnah berkenaan dengan hadits. Itu sebabnya para ulama sepakat untuk menciptakan ilmu yang khusus meneliti hadits. Dengan dasar pertimbangan ayat 6 surat Al-Hujurat yang mengisyaratkan agar kita memeriksa dengan teliti orang fasik yang membawa kabar, maka keluarlah buku panduan pertama yang disusun oleh Qadli Abu Muhammad Hasan bin Abdurrahman bin Khalad ar-Ramahumurzi ( wafat 360H).

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49] : 6).

Ilmu ini mempunyai beberapa nama, antara lain Ilmu Mushthalah Hadits, Ilmu Dirayah Hadits, ’Ulum Al-Hadits, atau juga Ushul Al-Hadits. Banyak yang dibahas dalam ilmu ini, namun yang paling utama adalah mempelajari sejarah hidup atau riwayat perawi. Karena sebagaimana ayat di atas, sifat jujur perawi adalah hal utama yang wajib menjadi bahan pertimbangan sah tidaknya hadits, shaheh tidaknya suatu hadits. Bila sang perawi dikenal suka berbohong oleh lingkungannya, dengan sendirinya riwayat yang disampaikannya pun langsung dianggap lemah/mardhu’. Untuk itulah, bepergian dari satu tempat ke tempat yang sering kali sangat jauh oleh seorang periwayat seperti yang dilakukan Bukhari, Muslim, dan lain-lain adalah bukan hal yang aneh.

Para periwayat ini pergi dari satu negeri ke negeri lain untuk mencari tahu berbagai hal mengenai keadaan seorang perawi (orang yang mengatakan bahwa ia mendengar atau melihat apa yang dikatakan atau dikerjakan Rasulullah Muhammad SAW). Di antaranya apakah ia dikenal jujur, tidak suka berbohong, tahun berapa ia lahir dan wafat, di mana ia hidup, ke mana dan kepada siapa saja ia berguru, bagaimana hafalannya, apakah ia termasuk orang yang pelupa, bagaimana hubungannya dengan Rasulullah dan para sahabat, dan lain sebagainya. Dari berbagai persyaratan inilah pada akhirnya seorang periwayat dapat memastikan kemungkinan shaheh tidaknya suatu hadits. Jadi, bukan berdasarkan pertimbangan apakah yang dikatakannya itu masuk atau tidak masuk akalnya berita!

Setelah itu, hadits baru dikelompokkan. Apakah hadits tersebut diceritakan lebih dari 10 perawi atau kurang (hadits Mutawatir atau hadits Ahad), apakah si perawi atau seluruh perawinya yang ada di setiap tingkatannya adalah orang yang betul-betul jujur dan tidak bermasalah, apakah si perawi orang yang jujur namun kurang bagus hafalannya, dan sebagainya. Dari sinilah baru diputuskan apakah hadits tersebut dapat diterima atau malah hadits palsu. Jadi, hadits-hadits tersebut tidak dibuang begitu saja. Cara meriwayatkannya sajalah yang harus memenuhi beberapa persyaratan. Hadits dhaif, misalnya, tetap boleh disampaikan selama tidak menyangkut aqidah, keharaman, dan kehalalan sesuatu serta harus dijelaskan bahwa hadits tersebut dhaif. Disamping itu, untuk menerapkannya pun harus ekstra waspada dan hati-hati.

Jadi dapat dibayangkan betapa tidak mudahnya menetapkan tingkatan dan jenis suatu hadits. Diperlukan penelitian dan waktu yang tidak sedikit. Hebatnya, standar tertinggi yang digunakan adalah sifat amanah. Sesungguhnya ini pula yang menjadi alasan utama mengapa Al-Qur'an dapat diterima penduduk Mekkah pada awalnya datangnya Islam. Sang pembawa berita, yaitu Rasulullah Muhammad SAW adalah warga Mekkah yang dikenal jujur. Itu sebabnya, ketika Rasulullah diperintah agar menyampaikan risalah secara terang-terang, kalimat pertama yang diucapkan Rasul adalah, ”Wahai penduduk Mekkah, apakah kalian percaya sekiranya aku katakan bahwa di sebalik bukit ini ada sekumpulan musuh yang akan menyerang kalian?" Tanpa ragu sedkit pun mereka menjawab spontan, "Sudah pasti kami akan percaya kerana kami belum pernah mendengar kau berkata dusta !"

Namun demikian, ternyata apa yang pernah dikatakan Rasulullah bahwa umat ini akan terpecah menjadi sejumlah golongan tidak dapat dihindarkan. Fitnah tetap tumbuh subur hingga detik ini. Bila kita tilik sedikit ke belakang, sebenarnya bibit fitnah dan perpecahan telah mulai terlihat, bahkan ketika Rasulullah masih hidup di sekitar para sahabat.

Suatu ketika, Rasulullah sedang membagi-bagikan ghanimah (rampasan perang). Tiba-tiba, seorang di antara yang menyaksikan tindakan Rasul berteriak, "Hai Rasul, berbuat adillah!" Tentu saja Rasul terperanjat mendengar terikan lancang orang tersebut. Namun dengan menahan kesabaran Rasul segera menjawab, "Wahai Fulan, celakalah engkau, akulah orang yang paling takut akan murka Allah." Jawaban tersebut adalah merupakan sebuah isyarat bahwa Rasul tidak akan berani berbuat adil karena hal yang demikian pasti akan memancing kemurkaanNya. Namun orang tadi tetap saja melontarkan perkataan yang sama hingga tiga kali. Hingga akhirnya dengan berang Umar Bin Khatab RA yang memang dikenal memiliki temperamen keras berucap, ”Wahai Rasullullah, biarkan aku penggal kepala orang ini!" Namun Rasul segera menjawab bahwa hal tersebut tidak perlu dilakukan. Bahkan Rasul mengingatkan bahwa pada suatu masa nanti akan banyak orang-orang seperti itu, artinya orang yang meragukan tindakan Rasulullah.

Tidak lama setelah Rasulullah wafat, hal tersebut memang terbukti. Golongan Khawarij yang diduga merupakan cikal bakal golongan Muktazillah dan golongan Ingkar Sunah adalah salah satunya. Golongan Muktazilah adalah golongan yang tidak mau menerima hadits selama menurut mereka isi hadits tidak sesuai dengan akal dan ilmu pengetahuan. Sementara golongan Ingkar Sunnah yang baru lahir beberapa ratus tahun belakangan ini malah lebih parah lagi. Mereka tidak mengakui satu hadits pun! Disamping, itu ada pula golongan yang mengklaim diri sebagai golongan pengikut nabi Ibrahim AS dengan alasan semua agama (samawi) pada dasarnya adalah sama, Tauhid, yaitu mengesakan Tuhan. Golongan ini pada akhirnya tidak mensyari'atkan pengikutnya untuk mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah SAW! Padahal pada Haji Wada, Rasulullah berpesan, "Aku tinggalkan pada kalian 2 perkara yang dengan itu kalian tidak akan tersesat, yaitu Al-Qur'an dan sunnahku."

Hal ini masih ditambah lagi dengan adanya kaum Orientalis. Mereka ini sejak lama telah mempelajari Al-Qur'an dan hadits. Tujuan mereka satu, yaitu memecah belah umat Islam! Mereka tahu betul bahwa telah terjadi perbedaan pendapat di antara umat. Mereka juga tahu bahwa hadits ada tingkatannya. Celah inilah yang mereka manfaatkan. Hadits lemah dan palsu yang menurut ilmu hadits harus dicantumkan bahwa ia hadits lemah, mereka sebarkan tanpa keterangan apa pun. Tidak cukup itu saja, bahkan hadits mutawatir dan hadits shaheh pun mereka bahas isinya dan diadu dengan akal pemikiran sains dan ilmu pengetahuan, sehingga hadits terlihat tidak relevan dan tidak masuk akal. Maka jadilah orang yang cenderung selalu mengedepankan akal dan pikiran namun imannya kurang teguh lebih mempercayai pendapat dan pemikiran para Orientalis tersebut daripada pemikir-pemikir Muslim seperti Bukhari, Muslim, dan kawan-kawan yang sejak lama telah diakui dan dijadikan standard pemikiran Islam di luar Al-Qur'an sejak ratusan tahun yang lalu. Ini yang disebut Perang Pemikiran atau Gazwl Fikri.

Sebagai contohnya adalah hadits mengenai kepergian dan perintah Rasulullah ke Sidratul Muntaha. Hadits ini adalah jelas hadits shaheh. Namun hingga kini, ada sebagian umat yang meragukan keshahehan hadits tersebut karena dianggap tidak masuk akal. Sebagian bersikukuh bahwa Allah SWT sebagai Sang Pencipta mengapa harus mengadakan tawar menawar ketika memerintahkan shalat yang dalam hadits diceritakan bahwa awalnya adalah 50 kali sehari semalam. Mengapa tidak langsung 5 kali saja! Begitu pula dengan sejumlah hadits yang berkenaan dengan masalah keperempuanan. Isu yang amat rawan dan peka ini tidak luput dari sasaran empuk para Orientalis dan sejumlah orang yang kurang teguh keimanannya.

Padahal bila kita berpikir lebih mendalam, justru hadits tersebut memberi hikmah bahwa Allah SWT mengajarkan perlunya usaha manusia dalam mencari hidayah. Manusia diberi kesempatan dan keleluasaan untuk berpikir sebagaimana Allah melimpahkan ayat-ayatNya yang tersebar di muka bumi ini. Allah memberikan kunci dan tanda kekuasaanNya untuk dipelajari. Walaupun sesungguhnya Allah bisa berbuat sekehendakNya tanpa harus menggunakan aturan. Namun yang demikian tidak dilakukanNya. Allah berkehendak agar para hambaNya mau menggunakan pikirannya, sehingga manusia lebih dapat memahami kecerdasanNya lalu lebih banyak bersyukur. Disamping itu, Allah juga ingin memberitahukan bahwa karena kasih sayangNya jualah, shalat yang ’hanya’ 5 waktu itu setara dengan shalat 50 kali sehari yang dilakukan umat nabi Musa AS.

Cara yang dipergunakan untuk memprovokasi agar umat mau mempertanyakan berbagai masalah dalam Al-Qur'an dan hadits sangat beragam. Dari yang halus, samar dan terselubung, hingga yang vulgar, kasar, dan terus terang. Buku-buku fiksi, tontonan seperti film dan video adalah contoh yang nyata ada di depan kita. Secara halus dan tidak terasa pemikiran kita digiring dan diarahkan agar mau mempertanyakan kebenaran hadits sekalipun hadits tersebut shaheh, bahkan ayat Al-Quran pun bisa dipertanyakan. Dengan cara mengaduk-ngaduk emosi kemanusiaan, keadilan, dan atas nama hak azazi manusia, tampaknya usaha ini berhasil dengan baik. Kita dibuat lupa dan terbuai tentang arti sebuah kebenaran sejati. Kita berhasil tertipu dan terpedaya akan standar yang dipergunakan. Bagi sebagian orang, standar yang dilihat dari kacamata sesama manusia berhasil menyingkirkan standar kebenaran Sang Pencipta alam semesta. Sungguh ironis!

Itulah yang terjadi. Usaha menghilangkan syari'at Muhammad SAW sebagai pembawa risalah terakhir melalui kitab sucinya Al-Qur'anul Karim akan terus terjadi akibat ditolak sendiri oleh umatnya dengan berbagai alasan. Namun demikian, kebesaran Allah dan kebenaran ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW serta kemuliaan Rasulnya tidak akan pernah berkurang sedikit pun walaupun seluruh manusia di muka bumi ini mengkhianatinya. Semoga kita bukan ternasuk orang yang dilaknatiNya. Amin.

"Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus." (QS. Al-Hajj [22] : 67).

Wallahu a'lam bishshawab.

Sumber : Ilmu Hadits Praktis oleh DR. Mahmud Thahan

http://vienmuhadi.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Hamzah | Wiraswasta
KotaSantri.com, sejukkan hati!!! Peace ah. SaLam ukhuwwah wat hamba Allah se-alam dunia.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1081 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels