Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Orang yang Memukuli Ayahnya
12 Februari 2013 pukul 15:00 WIB
Si Kecilku yang Malang
10 Februari 2013 pukul 14:00 WIB
Menuju Muslimah Bertauhiid
7 Februari 2013 pukul 15:00 WIB
Memelihara Keutuhan Rumah Tangga
26 Januari 2013 pukul 12:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 20 Februari 2013 pukul 12:00 WIB

Hakikat Cinta

Penulis : Redaksi KSC

Tak ada tema yang abadi untuk dibahas selain masalah cinta. Lihat saja mulai dari lagu, prosa, puisi, novel, bahkan film, semuanya didominasi tema cinta. Wajar, karena cinta adalah perasaan universal. Di mana-mana, di seluruh dunia, orang membutuhkan dan menginginkan cinta.

Bagi remaja, masalah cinta itu ibarat nasi yang bisa membuat mati lemas kalau tidak menyantapnya. Sayangnya, cinta sering ternoda justru oleh mereka yang sedang jatuh cinta. Tidak jarang, jatuh cinta malah menjadi ajang pelampisan hawa nafsu. Cinta tidak lagi menjadi sesuatu yang suci dan indah. Cinta sudah menjadi kubangan lumpur kemaksiatan. Lalu, sebenarnya apa hakikat cinta itu?

***

The Power of Love

Cinta tak terbatas feeling, tapi memiliki kekuatan untuk mengubah dan menggugah. Orang yang merasakan cinta bisa mengubah dirinya demi orang yang dicintainya. Cinta dapat mengubah yang buruk bisa menjadi baik, yang urakan menjadi sopan, yang pendiam bisa jadi periang. Cinta juga bisa membuat orang menjadi kreatif, banyak pujangga dan musisi menghasilkan masterpiece (karya-karya hebat) karena dorongan cinta yang dirasakannya.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang. “Cnta itu bisa menyucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian yang rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah,” ujarnya.

Subhanallah! Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau cinta membutuhkan aturan. Tidak lain dan tidak bukan agar cinta itu tidak berubah menjadi cinta yang membabi-buta, yang dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan hewani dan penuh kenistaan. Jika cinta dijaga kesuciannya, manusia akan selamat. Para pasangan yang saling mencintai tidak hanya akan dapat bertemu dengan kekasih yang dapat memupus kerinduan, tapi juga mendapatkan ketenangan, kasih sayang, cinta, dan keridhaan dari dzat yang menciptakan cinta, yaitu Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum [30] : 21).

***

Antara Cinta dan Pacaran

Bagi sebagian besar orang, cinta sangat identik dengan pacaran. Orang yang pacaran, pasti saling mencintai. Dan orang yang saling mencintai, pasti pacaran. Sebenarnya apakah pacaran itu? Benarkah pacaran itu wujud atau penjelmaan dari cinta?

Dalam kamus Islam, pasti kita tidak akan menemukan satupun rujukan tentang pacaran. Sebab, istilah pacaran tidak ada dalam sejarah dan tradisi Islam. Pacaran bukan jalan untuk menuju pernikahan. Satu-satu cara untuk saling mengenal adalah khitbah. Lalu, kepada siapa cinta itu diberikan?

1. Cintailah Allah SWT. Allah SWT sungguh pencemburu, dia tidak mau cinta hamba-Nya dibagi dengan cinta yang lain. Maka kita sebagai hamba Allah harus benar-benar mencintai Allah. Sebagaimana firmannya, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya seakan mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah [2] : 165).

Dalam ayat ini, jangankan Allah tidak dicintai, yang mencintai Allah sama dengan makhluknya pun Allah tidak suka. Maka prioritas cinta kita yang pertama dan utama hanya kepada Allah SWT.

2. Mencintai Rasulullah. Sabda Rasul bagi yang ingin merasakan manisnya iman (cinta), maka hendaklah ia mencintai Allah dan Rasulullah, “Ada tiga golongan yang akan merasakan manisnya iman. Pertama, adalah mereka yang mencintai Allah dan Rasulnya lebih dari selain kepada keduanya. Kedua, orang yang saling cinta karena Allah dan Rasul. Ketiga, seorang yang membenci kepada kekafiran sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam api neraka.” (Al-Hadits).

3. Cinta kepada Orangtua. Setelah Allah dan Rasul, prioritas cinta kita kepada kedua orangtua kita, karena merekalah orang yang paling berjasa dalam hidup ini. Kasih sayang orangtua tidak akan pernah lekang oleh zaman. Tidak akan hambur oleh waktu. Teramat durhaka bagi seorang yang mengabaikan cinta kepada kedua orangtua, padahal kasih sayang mereka sepanjang masa. Hormati dan sayangi orangtua sebagaimana firman Allah di surah Al-Israa’ [17] : 23-24.

4. Cintailah Sesama. Manusia memang tidak bisa hidup sendiri. Ia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Bahkan, Rasulullah menyampaikan bagi mereka yang berharap keridhaan Allah, hendaklah ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. (Al-Hadits).

Suatu saat Rasulullah didatangi oleh seorang sahabat yang menempatkan dirinya di samping Rasululah sembari berkata, “Ya Rasulullah, saya mencintainya karena Allah."

"Apakah engkau sudah mengabarinya?" tanya Rasul.

"Belum, ya Rasulullah."

Maka Rasul berkata, “Temuilah dan katakan kepadanya engkau mencintainya.”

5. Cintai Alam Sekitar. Kita hidup sebagai manusia yang memiliki tugas mengemban amanah sebagai khalifah (pemimpin atau wakil Allah di muka bumi). Baik atau rusaknya alam ini disebabkan ulah tangan manusia. Maka, jika manusia ingin hidupnya sejahtera, aman dan nyaman, manusia harus mencintai lingkungan sekitarnya. Sehingga tidak terjadi bencana, polusi, dan kerusakan-kerusakan lain karena ulah tangan manusia yang tidak bertanggungjawab.

Wallahu a‘lam bishshawab.

Diambil dari Majalah Swadaya - DPU

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mumtahah Annisa | Ibu Rumah Tangga
Di sini tempatnya kalau ingin berdiskusi sama teman-teman yang asyik banget.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1116 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels