Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Menuju Muslimah Bertauhiid
7 Februari 2013 pukul 15:00 WIB
Memelihara Keutuhan Rumah Tangga
26 Januari 2013 pukul 12:00 WIB
Musibah atau Ujian
23 Januari 2013 pukul 12:00 WIB
Kara Allouzi : Islam Memiliki Banyak Keindahan
10 Januari 2013 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 10 Februari 2013 pukul 14:00 WIB

Si Kecilku yang Malang

Penulis : Redaksi KSC

Jarum jam dinding sudah menunjuk angka 17.20, itu artinya aku harus bersiap turun untuk mengantar anak majikanku ke tempat les. Aku cepat-cepat menyuruh si kecil untuk memakai sepatunya dan buru-buru mengajaknya turun, karena waktu kurang dari 10 menit lagi. Tumben hari itu si kecilku yang terkenal bandel dan ndablek, begitu bersikap manis dan penurut.

Biasa, anak kecil memang banyak tingkahnya dan aku pun selalu coba memakluminya. Apalagi itu memang tugasku selama aku kerja di Hongkong yang sesuai dengan kontrak kerjaku. Jadilah pawang kancil yang harus siap pasang strategi dan juga pasang aksi untuk mengurus si bandel, begitu biasa teman-teman seprofesiku memberikan semangat.

Dalam perjalanan menuju tempat les yang jaraknya kurang lebih cuma 200 meter dari apartement tempatku kerja, tiba-tiba si kecil membuka pembicaraan. "Jie-jie, thingyat ngo bau bo pei coi," katanya.

Aku tersenyum senang mendengar berita yang baru saja di sampaikannya. "It is good news, tanhai lei lousi yau mou kan co cou," jawabku.

Di hati ada rasa senang karena si kecil terpilih untuk mengikuti lomba lari estafet yang diadakan oleh sekolah tempat dia belajar. Lomba dilaksanakan di stadion terbuka yang juga tidak jauh dari tempat kami tinggal.

Walaupun aku punya keyakinan si kecil gak bakalan menang dalam perlombaan, karena kegedean pantat dan perut, tapi aku tetap memberi dia semangat.

"Jie-jie, thing yat ngo po hai ciok," ucapnya. Kata itu memang berkesan sangat sederhana, kata itu memang sangat singkat, tapi bagiku kata itu punya makna yang mewakili soal rasa.

Si kecil sudah 6 tahun ditinggal bercerai oleh orangtuanya. Dia tinggal bersama ibunya, tapi biaya hidupnya ditanggung oleh bapaknya.

Waktu dia bilang, "Besok saya tidak punya sepatu untuk dipakai." Aku sangat bisa merasa betapa ibunya sangat kurang peduli dengan keberadaannya.

Sejak aku mengasuhnya setahun yang lalu, sudah berkali-kali ibunya mengusir dia untuk pergi dari rumah, karena mungkin sang ibu merasa sangat kesal dengan sifat bandel dan ndabeknya. Mereka merasa tidak punya kecocokan untuk hidup bersama dalam satu atap. Si kecil memang bandel dan aku sangat bisa memaklumi keadaan hatinya karena dia lebih sering berkeluh kesah dan curhat padaku tentang rasa yang ada di hatinya.

Tapi bagaimana dengan rasa yang dimiliki oleh ibunya sebagai orangtua kandungnya? Kalau orang jawa punya pepatah anak polah bopo kepradah tapi ini malah sebaliknya. Karena tingkah orangtuanya, karena sikap ego orangtuanya, karena ambisi untuk menuruti kata hati orangtuanya, anak harus jadi korban. Tinggal serumah dengan ibunya, tapi keduanya seperti orang asing.

Sore itu terpaksa aku harus menunda waktu untuk membelikannnya sepatu, karena aku harus masak untuk makan malam. Aku sampaikan sama si kecil kalau kita akan pergi ke pasar untuk membeli sepatu setelah pulang les.

Tepat pukul 19.00, aku sudah menunggunya di depan pintu tempat si kecil les. Kami pun berangkat ke pasar dengan berjalan kaki, karena kebetulan waktu itu sudah malam dan takut toko di pasar sudah tutup.

Si kecil cukup tahu diri saat aku suruh untuk memilih sepatu yang diinginkan. "Jie-jie, em sai mai kem kwai lah," katanya.

Aku pun menganggukinya karena memang sebaiknya tidak beli yang mahal, sebab si kecil kakinya boros sepatu.

Waktu itu toko sudah hampir tutup. Begitu melihat kami dan menanyakan mau sepatu yang mana dan nomor berapa, kami buru-buru memilih. Si kecil memilih sepatu harga termurah, cuma $25 dan penjaga toko mengambilkan sepatu berukuran yang kami inginkan. Sepatu untuk kaki kiri ukuran no. 39 dicoba si kecil dan dia bilang, "Sifuk".

Aku membayar sepatunya sedang penjaga toko yang satunya mengambil kotak sepatu yang tertera no. 39 dan memasukannya ke dalam kresek. Aku dan si kecil meninggalkan toko sepatu yang memang sudah siap ditutup.

Sesampai di rumah, aku membantu si kecil untuk mandi kemudian dilanjutkan makan malam. Selesai makan malam, aku memastikan kalau sepatu siap untuk dipakai perlombaan besok pagi dan aku menyuruh dia mencobanya sekali lagi.

Antara kaget dan juga geli ada dalam hatiku, karena waktu aku buka kresek dan mengambil sepatunya, ternyata ukuran sepatu tidak sama. Sepatu untuk kaki kanan no. 38 dan kaki kiri no. 39. "Bagaimana ini?" kataku dalam hati.

Aku mencoba mencari solusi sekalipun si kecil bilang, "Gak apa-apa, Jie-jie, kalau aku harus berlomba dengan memakai sepatu yang berbeda ukuran. Lagian bedanya juga gak terlalu banyak."

Ada rasa bersalah dalam hatiku karena aku tidak meneliti sepatu yang sudah dibeli sebelum meninggalkan toko.

Akhirnya, di pagi hari aku suruh si kecil memakai sepatunya yang sudah usang, sebelum terlebih dahulu aku suruh dia jangan masuk ke lapangan dulu karena Jie-jie harus jadi atlet duluan untuk menukar sepatu ke toko yang semalam kami datangi.

Si kecil pun setuju. Tapi ketika aku kembali dari pasar, ternyata dia sudah masuk ke lapangan dan mengantri untuk mengambil nomer peserta lomba. Aku terpaksa harus teriak-teriak memanggil namanya dan melambai-lambaikan tangan.

Ternyata si kecil memang masih menungguku dan benar-benar berharap bisa memakai sepatu baru dalam berlomba. Dia keluar lapangan dan aku buru-buru membantunya untuk berganti sepatu.

"Ooooh...," ada rasa miris dalam hati kalau teringat nasib yang tidak enak yang dirasakan oleh anak sekecil dia. Masa kanak-kanak yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dari orangtuanya terpaksa tidak pernah dia dapatkan karena entah rasa apa yang sebenarnya ada pada diri orangtua si kecilku yang malang.

Dari peristiwa yang bagiku cukup mengharukan, sang ibu pun sama sekali tidak tahu dan aku pun juga tidak berminat untuk menceritakannya. Aku sudah seringkali mencoba untuk menjadi pihak ketiga dalam menyelesaikan masalah yang bersumber dari rasa yang berbeda yang dimiliki antara ibu dan anak, tapi keputusan tetap ada pada mereka.

Aku berharap, setelah selesai tugasku nanti, ada orang yang bisa menggantikan aku untuk mengurus si kecil dengan kasih dan sayang. Kasih yang bisa kuberikan hanya sebatas masa jabatanku sebagai pembantu, selebihnya? Semoga Tuhan mempertemukan si kecil dengan orang-orang yang bisa mengerti rasa yang ada dalam hatinya.

"Jadilah matahari pagi buat bundamu, wahai si kecilku. Jangan kau buat ibumu selalu tidak menyukaimu dan jangan ada rasa benci yang tersimpan dalam hatimu, karena sekalipun kau tidak mengenal Islam, tapi aku selalu mengajarimu untuk menghormati ibumu yang sudah mengandungmu, melahirkanmu, menyusuimu, dan menjagamu di waktu malam.

Jadilah anak yang bisa menyenangkan hati ibumu dengan membuang sikap bandel dan ndablekmu. Semoga Tuhan selalu melindungi dan membukakan mata hatimu dan juga orangtuamu."

In Cantonese :
Bau bo = Lari
Pei coi = :omba
Thing yat = Besok
Mo po hai ciok = Gak ada sepatu yang bisa dipakai
Sifuk = Nyaman

Luigy Fitriany # Dimuat Ulang dari Arsip KSC # 13-04-2007

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ita Yusvana | Karyawan
Teman di waktu istirahat yang paling sering dikunjungi.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1295 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels