|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|
|
|
http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com |
|
http://facebook.com/profile.php?id=100000493450379 |
|
http://twitter.com//#!/akbararrafiiyah |





Rabu, 28 September 2011 pukul 12:21 WIB
Penulis : H. Akbar
Ibadah haji merupakan rukun Islam yang diwajibkan bagi muslim yang mampu. Untuk bisa melaksanakan ibadah haji dengan baik seorang muslim harus mempersiapkan diri secara maksimal agar ibadah yang dilakukannya itu bernilai mabrur. Ibadah haji yang dikerjakannya mempunyai dampak positif bagi kehidupannya setelah yang bersangkutan kembali ke tanah air.
Ibadah haji sering disebut sebagai ibadah fisik, karena seluruh kegiatannya menggunakan fisik. Orang yang fisiknya sehat akan lebih berpeluang untuk bisa melaksanakan seluruh rukun, wajib dan sunat haji. Itu artinya, tidak ada satu pun doa yang hukumnya wajib dibaca pada saat melakukan ibadah haji. Seluruh doa hukumnya sunat.
Meskipun demikian, kita perlu memanjatkan doa dengan sebaik-baiknya untuk bermohon kepada Allah SWT karena di tanah suci terdapat sejumlah tempat yang disebut sebagai Maqam Ijabah (tempat diterimanya doa). Allah SWT menjanjikan akan mengabulkan setiap permhonan seorang hamba, seperti disebutkan dalam firman-Nya :
وَ اِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah : 186).
Dengan mengetahui Maqam Ijabah kita akan lebih berkonsentrasi pada saat berdoa, apalagi Maqam Ijabah itu ada di bait-Nya.
Multazam adalah bagian dinding yang terletak antara pintu Ka’bah dan rukun Hajar Aswad, berukuran sekitar 2 meter (At-Tarikh al-Qawim : 3/433).
Dalam Mushannaf Abdur-Raziq (9047), Ibnu Abbas berkata, ‘Multazam itu berada antara rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.
Sedangkan dalam Akhbar Makkah nomor 217, Mujahid berkata, ‘Diantara rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah ada Multazam’.
Tempat ini adalah tempat dikabulkannya doa. Disunatkan untuk berdoa dengan menempelkan dada dan dua telapak tangan kepadanya, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr dalam Sunan Ibnu Majah. Ia mengatakan bahwa ia sedang melakukan thawaf dan shalat lalu mencium Hajar Aswad. Kemudian ia berdiri di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Lalu ia menempelkan dada, kedua tangan dan pipinya padanya. Ia berkata, ‘Demikianlah saya melihat Rasulullah SAW melakukan hal ini’.
Dalam Akhbar Makkah (233), Abu Zubair berkata, ‘Saya melihat Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas serta Abdullah bin Zubair melakukan doa di Multazam.
Abdullah bin Abbas dalam kitab yang sama nomor 230 berkata, ‘Sesungguhnya di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah tidak ada seorang pun yang berdiri di sana untuk berdoa kepada Allah SWT meminta sesuatu kecuali dia akan melihat permohonannya akan dikabulkan.
Dalam Akhbar Makkah (238) Mujahid berkata, ‘Apa yang ada di antara pintu Ka’bah dan rukun Hajar Aswad itu disebut dengan Multazam. Jarang sekali seseorang yang memohon sesuatu kepada Allah SWT dan berlindung kepada-Nya dari sesuatu kecuali Allah akan mengabulkannya’.
***
Doa di Multazam
Pada saat kita berada di Multazam, disunatkan membaca doa sebagai berikut: ‘Ya Allah yang memelihara Ka’bah ini, bebaskanlah diri kami, bapak dan ibu kami, saudara-saudara dan anak-anak kami dari siksa neraka, wahai Tuhan yang Maha Pemurah, Dermawan dan yang mempunyai keutamaan, kemuliaan, kelebihan, anugerah, pemberian dan kebaikan. Ya Allah, perbaikilah kesudahan segenap urusan kami dan jauhkanlah dari kehinaan dunia dan siksa di akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, tegak berdiri merapat di bawah pintu Ka’bah-Mu, menundukkan diri di hadapan-Mu sambil mengharapkan rahmat-Mu, kasih sayang-Mu, dan takut akan siksa-Mu. Wahai Tuhan pemilik kebaikan abadi, aku mohon pada-Mu agar Engkau tinggikan namaku, hapuskan dosaku, perbaiki segala urusanku, , bersihkan hatiku, berilah cahaya kelak dalam kuburku. Ampunilah dosaku, dan aku mohon pada-Mu martabat yang tinggi di dalam surga’.
http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan H. Akbar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.