|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|
|
|
http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com |
|
http://facebook.com/profile.php?id=100000493450379 |
|
http://twitter.com//#!/akbararrafiiyah |





Selasa, 27 September 2011 pukul 11:45 WIB
Penulis : H. Akbar
"Sesungguhnya pada binatang ternak itu ada pelajaran bagimu." (QS An-Nahl : 66).
Ayam? Ya, ayam. Ada apa dengan ayam? Doyan kawin ke siapapun, termasuk ke 'mamahnya' sendiri? Ya, namanya juga ayam. Suka sesumbar sesudah melakukan kebajikan (bertelur) tidak perlu diikuti. Suka berantem dengan sesama teman, ya jangan ditiru. Semua itu mungkin bagian dari sisi-sisi buruk perilaku ayam. Bukan itu yang ingin saya sampaikan.
Ayam, selain sebagai salah satu sumber protein hewani yang akrab dengan lidah kita, beberapa kebiasaannya juga telah memberikan pembelajaran bagi manusia. Kita lihat :
1. Kalau masuk kandang tidak pernah ribut. Bandingkan dengan kita yang masih suka gaduh kalau masuk ke ruang pertemuan, majelis ta'lim, bahkan di rumah ibadah sekalipun.
2. Selalu bangun tengah malam. Kalau bangun malam, ayam selalu membangunkan teman-temannya yang lain sehingga suasana malam hari menjadi hidup. Dahulu, apabila Nabi SAW mendengar suara kokok ayam di tengah malam, beliau terbangun, lalu menyambung kokok ayam itu dan menyerukannya kepada manusia dengan bahasa mereka. Nabi SAW selalu membangunkan keluarganya agar mereka berperan serta meraih saat yang baik itu.
3. Allah SWT berfirman : فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلَوةُ فَانْتَشِرُوأ فِى اْلاَرْضِ "Apabila shalat sudah ditunaikan, bertebaranlah kalian di muka bumi." Esensi ayat ini menunjukkan bahwa selesai melaksanakan ibadah, kita diperintahkan untuk mencari karunia Allah, bukan bermalas-malasan. Tidak ada ayam yang tidur lagi setelah shubuh. Mereka sibuk mencari makan. Begitu giatnya mencari rejeki pada saat matahari terbit, ayam pulang dengan perut kenyang.
Bagaimana dengan kita? Hilangkan kebiasaan tidur lagi setelah shalat shubuh. Cari rejeki dengan penuh semangat sesuai dengan bingkai agama. Kalau kita terlena dengan yang satu ini, bisa jadi ungkapan orangtua yang mengatakan, "REJEKI BEAKEUN KU HAYAM" akan kita alami.
http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan H. Akbar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.