HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://h-akbar.kotasantri.com
Bergabung
28 Agustus 2011 pukul 10:56 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
Saya adalah manusia biasa. Senang membaca. Tertarik dengan kajian agama.
http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com
http://facebook.com/profile.php?id=100000493450379
http://twitter.com//#!/akbararrafiiyah
Tulisan H. Lainnya
Hilary Saunders : Aku Bahagia dalam Islam
22 September 2011 pukul 18:00 WIB
Kembali ke Rumah
15 September 2011 pukul 13:30 WIB
Keluarga Sakinah Dibangun Sejak Pra Nikah
10 September 2011 pukul 13:00 WIB
Menyempurnakan Puasa Ramadhan
7 September 2011 pukul 11:00 WIB
Perjalanan Melelahkan Penuh Keindahan
6 September 2011 pukul 13:05 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 24 September 2011 pukul 12:00 WIB

Perilaku Jalalah

Penulis : H. Akbar

Dalam kajian fiqih, jalalah dikenal sebagai binatang pemakan najis tapi dagingnya halal dimakan dengan syarat dikarantina terlebih dahulu. Binatang yang sering dijadikan contoh untuk jalalah adalah ikan lele.

Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin. Di Indonesia, ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara lain : ikan kalang (Padang), ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makassar), ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah). Sedang di negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), plamond (Thailand), ikan keli (Malaysia), gura magura (Srilangka), ca tre trang (Jepang). Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish, dan walking catfish. Ikan lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan.

Terlepas daripada jenis dan ragamnya, ikan lele kini menjadi salah satu komoditas yang diburu masyarakat seiring dengan bermunculannya tenda-tenda di pinggir jalan yang menghidangkan menu pecel lele. Bagi masyarakat yang menyukainya, kehadiran 'pecel lele' di setiap sudut jalan tentu sangat membantu.

Pesan yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah bahwa ikan lele merupakan contoh perjalanan hidup manusia. Dari berbagai ayat Al-Qur'an dan banyak hadits Nabi, diketahui bahwa manusia nanti di akhirat untuk bisa menikmati surga harus melalui proses yang sangat panjang. Dia harus mempertanggungjawabkan amal perbuatan selama hidup di dunia.

Hal-hal yang akan dimintai pertanggungjawabannya adalah :

1. Umur. Berapapun umur yang Allah berikan kepada kita harus diefektifkan untuk hal-hal yang positif. Jika kita mempunyai sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, sementara kita belum memerlukannya sekarang, maka sumber daya alam tersebut dapat kita manfaatkan pada masa yang akan datang. Berbeda dengan kesempatan. Menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan amal baik sama artinya dengan menambah beban bagi kita di hari akhir.

2. Jasad/fisik. Bayi normal yang dilahirkan mempunyai berat badan relatif sama, yaitu kisaran 2 sampai 3 kilogram. Sampai batas tertentu, berat badan manusia selalu bertambah. Bertambahnya berat badan tentu sebagai akibat dari kita mengonsumsi makanan, karena makanan yang kita konsumsi rumusnya berbanding lurus dengan pertumbuhan fisik. Daging yang tumbuh dari barang yang halal tentu tidak ada masalah. Yang dikhawatirkan adalah jika jasad/fisik kita ditumbuhkan oleh barang najis dan haram, maka resikonya sudah bisa dipastikan bahwa kita akan tersandung di akhirat.

3. Ilmu. Fungsi utama ilmu bersifat pengetahuan. Dengan berbekal ilmu seyogyanya akan sangat jelas ke mana seseorang harus melangkah. Salah menentukan langkah waktu hidup di dunia sangat berpengaruh pada kehidupan akhirat.

4. Harta. Hanya dua hal yang harus kita pertanggungjawabkan terkait dengan harta, yaitu berasal dari mana dan dipakai untuk apa. Kalau kita mampu menjawab berdasarkan fakta amal yang kita lakukan tentu akan berakhir dengan kebahagiaan. Sandungan di akhirat akan terasa manakala harta yang kita miliki diperoleh dengan cara yang tidak benar dan salah peruntukan.

Sungguh suatu kebahagiaan jika kita mampu mempertanggungjawabkan keempat hal di atas dengan baik sehingga kita bisa merasakan nikmatnya surga. Namun jika keempat hal tersebut terkontaminasi oleh hal-hal yang najis atau haram, maka dapat dipastikan kita akan dikarantina dulu di neraka. Na'udzubillah.

Perlu diketahui bahwa jika karena suatu kesalahan seseorang harus disiksa di dalam neraka selama satu hari, maka satu hari di akhirat lamanya setara dengan seribu tahun jika dilakoni di dunia (QS. As-Sajdah : 5).

http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan H. Akbar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mumtahah Annisa | Ibu Rumah Tangga
Di sini tempatnya kalau ingin berdiskusi sama teman-teman yang asyik banget.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1412 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels