HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://biruhati.kotasantri.com
Bergabung
20 Maret 2010 pukul 12:26 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa barat
Pekerjaan
Entrepreneur
Tulisan Marsahid Lainnya
Satu Kerinduan
19 April 2010 pukul 19:15 WIB
Dengar Bisikku
2 April 2010 pukul 20:40 WIB
Kesan
31 Maret 2010 pukul 16:45 WIB
Perempuan
25 Maret 2010 pukul 18:00 WIB
Sukses Juga Butuh Gagal
22 Maret 2010 pukul 15:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 21 April 2010 pukul 17:30 WIB

Memaafkan

Penulis : Marsahid Agung S

Tatkala usai perang Uhud, Rasulullah menemukan jenazah pamannya tercinta, Hamzah bin Abdul Muthalib, sudah dalam keadaan rusak. Beliau pun menjadi sangat sedih hingga wajahnya tertunduk. Rasulullah menjadi teramat sangat marah hingga ia mengeluarkan sebuah janji bahwa akan membalas menganiaya kaum Quraisy dengan cara yang belum pernah manusia lakukan. Padahal selama ini Rasulullah begitu kuat menahan siksaan berbagai perlakuan tidak baik dari kaum Quraisy, bahkan memaafkannya.

Tapi Allah kemudian menurunkan firmannya, ''Dan jika kamu melakukan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, maka kesabaranmu itu lebih baik bagimu. Dan hendaklah kamu tabahkan hatimu, dan hendaklah ketabahan hatimu itu karena berpegang kepada Allah. Jangan pula kamu bersedih hati terhadap perbuatan mereka. Jangan pula kamu bersesak dada terhadap apa yang mereka rencanakan.'' (QS. 16 : 126-127).

Nabi SAW pun akhirnya mengumpulkan kaum Muslimin dan menyampaikan pidato yang berisi larangan melampiaskan amarah dan dendam dengan melakukan penganiayaan biadab terhadap mayat-mayat musuh.

Dalam Islam, sikap menahan amarah mempunyai posisi yang sangat signifikan. Menahan amarah akan menjadikan seseorang sanggup menahan diri untuk tidak melakukan tindakan tercela dalam bentuk apapun.

Menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik adalah kesatuan nilai yang mendasari ketakwaan. Menahan marah saja tanpa memaafkan bukan ciri orang takwa, tetapi ciri orang pendendam. Berbagai penyakit (fisik dan mental) dimasak matang dalam dada yang membara menyimpan kemarahan. Karena itu psikolog menyarankan kepada kita untuk mencari cara paling aman buat meledakkan kemarahan.

Sikap menahan amarah merupakan salah satu karakteristik orang bertakwa yang dijanjikan oleh Allah SWT sebagai penghuni surga. Ini berarti bahwa ketakwaan seseorang dapat dilihat dari kemampuannya menahan amarah yang dapat merugikan orang lain. Orang yang mampu menahan amarah berarti ia telah mampu meleburkan dirinya ke dalam diri orang lain dan membuang jauh-jauh sifat egoisnya.

Sejenak orang merasa lega setelah meluapkan amarahnya seperti penderita sakit kepala yang minum obat analgesik. Menahan marah hanya dapat disembuhkan dengan memaafkan. Dale Carnegie, penulis populer, saat menawarkan kiat untuk menghilangkan rasa cemas, berkata, "Kita tidak cukup suci untuk mencintai musuh-musuh Kita. Tapi, demi kesehatan dan kebahagiaan kita, lupakan mereka dan maafkan mereka!"

Sudah menjadi tabiat manusia, tatkala hatinya disakiti, dia akan merasa sakit hati dan boleh jadi berujung dengan kedendaman. Walaupun demikian, bukan berarti kita harus dendam setiap kali ada yang menyakiti. Malah sebaliknya, jika kita didzalimi, maka do'akanlah orang-orang yang mendzalimi itu agar bertaubat dan menjadi orang shaleh. Mampukah kita melakukannya?

Sebetulnya sederhana sekali tekniknya, tekniknya adalah tanya pada diri, apa sih yang paling diinginkan dari sikap orang lain pada diri kita ketika kita berbuat salah?! Kita sangat berharap agar orang lain tidak murka kepada kita. Kita berharap agar orang lain bisa memberitahu kesalahan kita dengan cara bijaksana. Kita berharap agar orang lain bisa bersikap santun dalam menyikapi kesalahan kita. Kita sangat tidak ingin orang lain marah besar atau bahkan mempermalukan kita di depan umum.

Kalaupun hukuman dijatuhkan, kita ingin agar hukuman itu dijatuhkan dengan adil dan penuh etika. Kita ingin diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Kita juga ingin disemangati agar bisa berubah. Nah, kalau keinginan-keinginan ini ada pada diri kita, mengapa ketika orang lain berbuat salah, kita malah mencaci maki, menghina, memvonis, memarahi, bahkan tidak jarang kita mendzalimi?!

Nikmat Allah yang paling besar bagi manusia setelah iman dan Islam adalah nikmat dikaruniaiNya maaf atau ampunan. Nikmat ini senantiasa diberikan Allah kepada setiap manusia, meski manusia terus-terusan melakukan perbuatan dosa. Namun tentunya dengan sebuah catatan, bahwa manusia yang diberikan nikmat ini hanya manusia yang senantiasa menyadari setiap perbuatan dosanya, dan untuk itu dia memohon maaf kepada Allah SWT. Oleh karena itulah Allah kemudian memberi gelar diriNya Al-Afwu, Yang Maha Pemaaf. FirmanNya dalam surat An-Nisaa [4] ayat 149, "Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan, menyembunyikan, atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa."

Lebih banyak kata pemaaf yang Allah tujukan buat memperlihatkan kebesaranNya, namun demikian ada sebuah ayat dalam Al-Qur'an yang menyeru kepada manusia untuk meniru salah satu sifat Allah tersebut, "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raaf [7] : 199).

Tetapi memaafkan tidaklah mudah. Kata para sufi, memaafkan harus dilatih terus menerus. Sifat pemaaf tumbuh karena kedewasaan ruhani. Ia merupakan hasil perjuangan berat ketika kita mengendalikan kekuatan di antara dua kekuatan, pengecut dan pemberang. Sifat pemaaf menghiasi akhlak para nabi dan orang-orang shaleh. Ruhani mereka telah dipenuhi sifat Allah Yang Maha Pengampun (to err is human, but to forgive is divine).

Maaf yang tulus lahir dari perkataan yang tulus kepada orang lain. Karena itu untuk bisa memaafkan, kita harus memusatkan perhatian kita kepada orang lain. Kita harus beralih dari pusat ego kepada posisi orang lain. Dari egoisme kepada altruisme. Orang-orang altruis, dalam Al-Qur'an, disebut sebagai orang-orang yang berbuat baik. Nabi Muhammad SAW sangat terkenal sebagai pemaaf. Beliau menyerahkan sorbannya sebagai tanda maafnya kepada Wahsyi, yang membunuh pamanda tercinta, Hamzah.

Suatu ketika, Ali bin Husein RA berwudhu, budaknya menjatuhkan wadah air ke atas kepalanya. Takut kalau sudah menyakiti tuannya, budak itu menggumamkan ayat Al-Qur'an (QS. Ali Imran : 134), "Orang-orang yang mengendalikan amarahnya." Ali berkata, "Aku tahan marahku." Budak itu melanjutkan, "Dan orang-orang yang memaafkan orang lain." Ali berkata, "Aku maafkan kamu." Budak itu menyelesaikan ayat itu, "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik." Ali pun berkata, "Aku merdekakan kamu."

Menahan marah tanpa memaafkan hanya menumpuk penyakit. Memaafkan tanpa berbuat baik hanya menyemarakkan ritus sosial. Menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik harus dilakukan sekaligus. Allah menjelaskan ketiganya sebagai karakteristik orang takwa. Setelah ketiganya, Allah menjelaskan sifat berikut dari orang takwa ialah meminta maaf (QS. Ali Imran : 135), "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui."

Nampaknya hadits Rasulullah SAW berikut menjelaskan maksud kenapa Allah SWT menyeru manusia untuk memiliki sifat pemaaf, "Barangsiapa melakukan tiga hal berikut ini, ia akan dihisab dengan mudah dan akan masuk surga dengan rahmatNya. Pertama, memberi kepada orang yang bakhil. Kedua, silaturrahmi dengan orang yang memutuskannya. Ketiga, memberi maaf kepada orang yang dzalim." (HR. Ath-Thabrani).

Tak jarang meminta maaf lebih sulit dari memaafkan. Bagi sebagian orang, meminta maaf dianggap sebuah perbuatan yang merendahkan harga dirinya. Tak menyadari, bahwa meminta maaf adalah usaha penghapusan kesalahan pada manusia dan pengampunan dosa pada Yang Mahakuasa.

Tentu kita tak ingin menjadi hamba yang dijauhi manusia karena sifat kita yang kikir dalam memaafkan dan jauh dari Allah karena tak meminta maaf atas kesalahan. Untuk kita semua, berikut do'a meminta maaf Ali bin Husein :

Ya Allah...
Aku mohon ampun kepadaMu

Di hadapanku ada orang yang didzalimi
Aku tidak menolongnya

Kepadaku ada orang yang berbuat baik
Aku tidak berterima kasih kepadanya

Orang bersalah meminta maaf kepadaku
Aku tidak memaafkannya

Orang susah memohon bantuan kepadaku
Aku tidak menghiraukannya

Ada orang yang kusakiti dan ku bersalah padanya
Aku tidak meminta maaf

Ada hak orang mukmin dan muslim dalam diriku
Aku tidak memenuhinya

Tampak di depanku aib muslim
Aku tidak menyembunyikannya

Dihadapkan kepadaku dosa
Aku tidak menghindarinya

Ilahi,
Aku mohon ampun
Dari semua kejelekan itu
Dan yang sejenis dengan itu
Aku sungguh menyesal
Biarlah itu menjadi peringatan
Agar aku tidak berbuat yang sama sesudahnya

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Marsahid Agung S sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Azman Ridho Zain | Santri
Salut dengan keberadaan website ini. Semoga bisa lebih meningkatkan ukhuwah Islamiyah antar sesama santri dan komunitas pesantren se-Indonesia.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1189 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels