QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Alamat Akun
http://biruhati.kotasantri.com
Bergabung
20 Maret 2010 pukul 12:26 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa barat
Pekerjaan
Entrepreneur
Tulisan Marsahid Lainnya
Perempuan
25 Maret 2010 pukul 18:00 WIB
Sukses Juga Butuh Gagal
22 Maret 2010 pukul 15:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 31 Maret 2010 pukul 16:45 WIB

Kesan

Penulis : Marsahid Agung S

Kesan, citra, reputasi, atau apapun namanya, seringkali menjadi patokan kita dalam menilai pihak atau orang lain. Jika seseorang atau sebuah lembaga sudah terlanjur rusak namanya, maka kesan atau reputasi orang-orang di dalamnya pun akan ikut jelek. Meski ada satu atau dua orang yang mencoba berupaya memperbaiki, tapi usahanya dianggap sia-sia dan pihak luar tidak akan percaya.

Terbelenggu oleh kesan, itulah yang terjadi. Dan kita semua pasti pernah mengalaminya. Salah satu contoh, kesan kita terhadap aparat penegak hukum negeri ini bahwa hampir mereka bermental lemah. Setiap urusan bisa selesai tanpa memakan waktu dan melalui birokrasi yang rumit dengan "jalan damai".

Lebih khusus misalnya polisi lalu lintas. Begitu buruknya kesan mereka hingga ada istilah polisi tidur untuk menyebut sebuah tonjolan kecil di jalan yang digunakan untuk memperlambat laju kendaraan. Istilahnya "titip uang sidang", agar pelanggaran lalu lintas yang dilakukan cukup sampai di situ. Padahal tidak semua polisi bermental buruk. Setidaknya itulah yang pernah saya temui.

Ketika biasanya justru mereka yang memberikan penawaran apakah memilih ditilang ataukah titip uang sidang, maka kali ini saya justru dimarahi karena mencoba "jalan belakang".

Pak Polisi itu dengan tegas berkata, "Jangan pernah coba-coba menyuap petugas, karena bisa menambah hukuman anda. Selesaikan saja semuanya di pengadilan. Silakan simpan kembali uang kamu."

Saya hanya tersenyum sambil kembali merogoh saku saya. Pengalaman diri sendiri dan orang lain, ketegasan petugas kadang hanya isyarat untuk meminta jumlah yang lebih besar. Reputasi buruk korpsnya yang seakan telah mendarah daging, malam itu ternyata sama sekali tidak tampak. Bukannya beres, saya malah disemprot, "Kalau kamu masih mencoba menyuap saya, akan saya laporkan kepada atasan saya bahwa kamu mencoba menyuap petugas. Jangan remehkan kami!"

Dalam hati, saya merasa kasihan. Bukan kepada diri saya yang malam itu harus rela ditilang, tapi kepada polisi bermoral baik itu. Keinginannya untuk menjalankan tugas dengan baik dan benar terhalang prasangka publik yang sudah mengakar. Dan tragisnya, hanya satu polisi baik seperti itu sulit mengubah citra korps baju coklat yang terlanjut kotor. Bagai memberi gula ke air laut.

Dan begitulah yang berlaku di dunia ini. Padahal seperti kata-kata terakhir yang pak polisi baik itu ucapkan sambil menuliskan surat tilang, "Jangan membantu kami mengotori seragam kami, tapi bantulah kami untuk membersihkannya. Ya, dengan menghilangkan kebiasaan menyelesaikan pelanggaran atau urusan dengan 'jalan pintas'. Karena kami pun tak akan begini jika masyarakat tegas menolaknya."

Ya, seringkali tidak kita sadari bahwa kita sendiri sering terlibat atau membantu "mengotori" reputasi mereka. Ketika mengurus SIM, KTP, dan urusan birokrasi yang lain seringkali kita tidak mau repot dan memilih "jalan tol". Sadar atau tidak sadar, dengan alasan apapun. Saya berharap, pak polisi baik tadi tidak berhenti menjadi petugas yang baik karena tiap hari bertemu orang yang mencoba menyuapnya dan tidak terpengaruh lingkungannya.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Marsahid Agung S sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eka | Karyawan
Salam kenal untuk semua yang ada di KotaSantri.com. Saya baru ikut program ini, tempat ini memang tempat yang paling tepat untuk membekali pengetahuan dengan agama. Pokoknya okelah, tempat mengisi kekosongan disaat kesepian.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1332 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels