|
HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
|





Senin, 22 Maret 2010 pukul 15:45 WIB
Penulis : Marsahid Agung S
Saat terpuruk usai kekalahan memalukan di final Piala Dunia 1998, banyak yang mengatakan era Brazil sudah habis. Meski kemudian mereka sukses di Copa America 1999, tapi kegagalan Brazil di Piala Konfederasi dan Olimpiade 2000 membuat mereka tak masuk hitungan di Piala Dunia 2002. Tapi mereka justru mampu meraih penta campeone di Korea - Jepang 2002, saat mereka kurang diunggulkan.
Lihat juga bagaimana kebangkitan Barcelona. Setelah gagal ikut kejuaraan Eropa apapun saat terpuruk di musim 2002/2003. Mereka bangkit di musim selanjutnya meski dengan awalan yang kurang baik dan sukses menjadi runner-up. Hingga mereka mampu tampil begitu perkasa di musim 2004/2005 dan menjadi juara La Liga. Mereka pun memimpin klasemen setelah awal musim sempat tampil kurang meyakinkan.
Itulah bedanya mental juara dan mental biasa. Mental juara bisa mengevaluasi kesalahan dan keterpurukannya untuk bangkit. Sedang mental biasa justru makin terpuruk. Bukti bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang tak bisa diubah. Ketidaksuksesan bukanlah sebuah momok. Dan keterpurukan bukanlah akhir segalanya. Jika saat ini kita gagal atau terpuruk, suatu saat jika kita bisa bangkit, bukan tak mungkin sukses yang lebih besar akan datang. Ya, siapa tahu.
"Jangan berharap untuk sukses, jika takut gagal," begitu kata pakar manajemen. Sebelum bisa lancar naik sepeda, kita harus jatuh bangun dulu. Kita tidak bisa langsung naik sepeda keliling lingkungan tanpa kaki tangan lecet atau keseleo. Tapi mereka yang tahan jatuh dan cepat bangkit itulah yang kemudian tak hanya bisa bersepeda keliling, tapi bahkan bisa berakrobat ria dengan BMX-nya.
Seperti itulah karakteristik mental juara. Seperti tim–tim besar sepakbola yang tak pernah ingin berlama–lama hanyut dalam keterpurukan dan kegagalan.
***
Jangan pernah melihat bagaimana hasil akhir sebagai patokan penilaian, tapi lihat bagaimana prosesnya berjalan. Jika proses dijalani dengan baik, insya Allah hasilnya pun akan baik. Allah pun tak pernah melihat hasil, tapi melihat proses perjuangan kita. Hasil akhir, Allah yang menentukan yang terbaik untuk kita.
Kita lihat bagaimana para pelatih sepakbola tim-tim besar yang sukses memotivasi dan menjaga semangat timnya. Mereka memaksimalkan kekuatan timnya dan fokus dari satu pertandingan ke pertandingan yang dijalani dengan kekuatan yang ada. Bermain sebaik mungkin, dan tidak terlalu memikirkan hasil akhir.
"Bukan yang terbaik yang menjadi tujuan utama, melainkan bagaimana melakukan yang terbaik untuk menghasilkan yang terbaik itu. Sukses dan gagal bukanlah akhir dari segalanya."
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Marsahid Agung S sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.