|
Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
|





Jum'at, 17 Juni 2011 pukul 11:30 WIB
Penulis : Marsahid Agung S
Jika kita ingin berprestasi, pertanyaannya adalah sejauh mana kegigihan kita untuk meraihnya? Ini adalah salah satu kunci kesuksesan, yakni bekerja keras, cerdas, dan ikhlas. Artinya, dalam bekerja kita perlu menggunakan strategi/manajemen. Karena dalam bekerja, tidak hanya fisik yang kita kerahkan, tetapi potensi lain yang tak kalah penting, akal dan hati.
Jika kita tidak sangat serius menggunakan akal dan hati, maka yang kita kerjakan tidak efektif dan tidak efisien. Yang terjadi pontang-panting tanpa arah dan hasil yang tidak jelas. Untuk itu perlu kombinasi antara kerja fisik dan kerja akal dan hati yang ikhlas sebagai jalan upaya meraih pertolongan dari Allah SWT.
Kesalahan kerja akan terjadi karena ketidakcermatan serta hadirnya hati yang ikhlas dalam bekerja. Kita harus mampu menunjukkan kemampuan optimal kita. Rezeki Allah terhampar di mana-mana dan modal kita adalah semangat untuk menjemputnya. Hal ini bisa terlaksana jika kita mampu mensinergikan akal, hati, dan fisik yang optimal. Jika kita mengalami masalah dalam pekerjaan, rujukan pertama adalah apakah pekerjaan yang kita lakukan disukai Allah?
Ibadah dan bekerja adalah satu kesatuan. Ibadah diperintahkan Allah justru untuk tercapainya keseimbangan antara produktifitas dan kerja seseorang. Sebab ibadah dapat memberikan keseimbangan mental, intelektual, dan fisik.
Jadi bekerja adalah ibadah. Lantas apakah kita tidak layak mendapatkan gaji karena keikhlasan kita? Persoalan gaji adalah persoalan hak dan kewajiban, jadi harus seimbang antara hak dan kewajiban. Seseorang akan menikmati pekerjaannya jika dasarnya adalah ibadah yang benar, seseorang pun akan bekerja dengan benar jika ilmu yang digunakan benar, seseorang akan betah bekerja jika pekerjaannya diwarnai oleh akhlaq yang baik. Itu rangkaiannya, karena itu ia bisa bekerja dengan cerdas dan ikhlas.
"Dan orang-orang yang berjihad (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Ankabuut [29] : 69).
Hidup ini adalah proses, kata orang to be or not to be, tetapi bagi saya, hidup ini mesti menjadi atau menuju, menjadi menuju jadi, sedang menuju berarah pada tujuan akhir atau muaranya yang berarti hidup ini menuju kematian, sedangkan menjadi merupakan proses apakah itu berbentuk usaha maupun tidak yang berarah pada jadi.
Enam kharakteristik citra diri positif :
1. Pede.
2. Berorientasi pada tujuan dan sasaran.
3. Bersikap mampu.
4. Terorganisir secara efektif dan efisien.
5. Pribadi yang menyenangkan.
6. Mampu mengendalikan diri.
Hidup ini harus kuat menahan penderitaan, masih banyak orang lain yang bernasib lebih buruk dari diri kita sendiri, maka biasakanlah untuk selalu bersyukur kepada-Nya atas nikmat dan hidayah-Nya, atas segala anugerah-Nya.
Ya, rasanya ingin menangis saja, agar hilang semua emosi yang ada dalam penderitaan ini, tetapi kadang jiwa saya berbisik dan mengingatkan bahwa tidak layak bagi saya untuk menangis. Biar saja semuanya berjalan sewajarnya, meski perasaan mengatakan jika kita tertinggal dari langkah orang yang kita harapkan, tetapi siapa tahu di balik ini semua ada sesuatu yang lebih sedang mengarah ke kita.
Orang hanya bisa menangis ketika mendapati sesuatu hal yang di luar keinginannya, namun ketika ia mengerti apa sebenarnya yang di balik kegagalannya, maka tangisnya berubah menjadi sebuah senyuman. Hal ini dikarenakan ia mengetahui dan mendapatkan sesuatu hal yang lebih bermakna.
Ingat, sesungguhnya yang merasakan suatu rasa dalam diri kita adalah hati (perasaan). Kadangkala ada perlunya kita belajar untuk tidak berperasaan. Agar hilang semua beban.
Kadang ingin melampiaskan segala bentuk amarah yang bersarang di dada, melumat segala yang ada, namun Nabi memberi tuntunan bahwa orang kuat adalah orang yang mampu menahan hawa amarahnya. Barangkali memang harus seperti itu, amarah tidak boleh dilampiaskan, tetapi diredakan. Kamu orang kuat?
Dalam hidup ini tidak ada yang perlu ditakutkan, semuanya sudah diatur oleh Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya, sebab Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Wa man yattaqillaha yaj'al lahu makhraja, wayarzuquhu min haitsu layahtasib, dan manusia harus paham apa yang dilakukan Allah itu atas dasar sifat Rahman dan Rahim-Nya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Marsahid Agung S sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.